JENDELANUSANTARA.COM, Jakarta — Di balik sorotan lampu stadion dan hiruk-pikuk final perdana Piala Dunia Antarklub 32 tim, pelatih Chelsea, Enzo Maresca, membawa narasi yang tak biasa: pertandingan melawan Paris Saint-Germain akan seperti bermain catur.
“Saya suka menonton catur. Dan menurut saya, sepak bola adalah bentuk lain dari permainan itu. Setiap langkah lawan harus dijawab dengan strategi,” ujar Maresca dalam konferensi pers jelang laga puncak, dikutip dari laman resmi FIFA.
Laga Chelsea versus PSG, yang akan digelar di Senin dini hari (14/7) pukul 02.00 WIB, tak sekadar menjadi penutup turnamen, tetapi juga panggung bagi duel dua pendekatan sepak bola yang berbeda. Chelsea melaju ke final usai menyingkirkan Fluminense di semifinal. Adapun PSG datang dengan reputasi superior: menyapu bersih gelar Liga Champions, Ligue 1, dan Piala Prancis musim lalu.
Namun Maresca menolak tunduk pada tekanan nama besar lawan. Ia justru menegaskan bahwa ruang kejutan masih terbuka lebar. “Fluminense menyingkirkan Inter, Al Hilal mengalahkan Manchester City, Botafogo mengalahkan PSG. Jadi, segalanya bisa terjadi,” ucapnya.
Menurut dia, kunci kemenangan adalah eksekusi strategi yang konsisten. “PSG adalah tim terbaik di dunia saat ini. Tapi setiap pertandingan memiliki ceritanya sendiri.”
Chelsea mendapat kabar baik menjelang laga, dengan gelandang Moises Caicedo menunjukkan pemulihan signifikan dari cedera pergelangan kaki. Namun di saat bersamaan, The Blues harus melepas Noni Madueke ke Arsenal dalam transfer senilai 50 juta poundsterling. Maresca menyebut kepergian itu sebagai keputusan pribadi sang pemain.
Laga final ini bukan hanya pertarungan dua klub raksasa Eropa, tetapi juga adu kecerdikan dua pelatih dalam menyusun strategi. Di atas lapangan, bukan pion dan menteri yang bergerak, melainkan para pemain yang jadi bidak dalam duel intelektual di atas rumput hijau. (ihd)














