Kadang Ngaku Wartawan, Kadang LSM: LS Ditetapkan sebagai Tersangka Pemerasan Jaksa

Sabtu, 31 Mei 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JENDELANUSANTARA.COM, Jakarta – Nama inisial LS—yang belakangan terungkap sebagai LSN—menjadi pembicaraan di lingkaran Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta dan aparat Polda Metro Jaya. Pria yang mengklaim sebagai jurnalis dari media berinisial HR itu ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan pemerasan terhadap seorang jaksa. Ia dicokok di halaman depan kantor Kejati pada Rabu (28/5/2025) siang.

Menurut Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejati DKI Jakarta, Syahron Hasibuan, LS diduga mengintai sidang kasus yang ditangani jaksa berinisial TH. Seusai sidang, ia mengirimkan serangkaian pesan intimidatif melalui WhatsApp, lengkap dengan tangkapan layar berita online yang menyoroti kinerja Kejati. “Setelah itu, dia menyebarkan tuduhan bahwa jaksa TH bersekongkol dengan pejabat Bea Cukai,” ujar Syahron.

Namun bukan hanya itu. LS juga disebut memanfaatkan atribut pers untuk menekan sang jaksa. Ia diduga meminta uang secara terselubung melalui kalimat yang terkesan ringan: “Barangkali ada buat ngopi-ngopi, pribadi abang aja. Kalau ada titip aja, Bang,” begitu isi pesan WA yang dikutip Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya.

Permintaan itu ditolak oleh jaksa yang merasa tak nyaman. Laporan pun dilayangkan. Polisi bergerak cepat. Hasil gelar perkara menetapkan LS sebagai tersangka pada Minggu (31/5/2025). Barang bukti yang disita termasuk satu unit ponsel, satu bundel surat tugas media, satu buah tas, dan uang tunai Rp5 juta pecahan Rp100 ribuan.

LS kini dijerat pasal berlapis: pemerasan melalui media elektronik sesuai pasal 45 ayat (10) jo. pasal 27B ayat (2) UU ITE, serta pasal 369 KUHP tentang pemerasan dengan ancaman membuka rahasia.

Di luar itu, kasus ini memperlihatkan sisi gelap dari praktik penyalahgunaan status jurnalis yang marak di lapangan. Di tangan yang salah, kartu pers berubah menjadi alat intimidasi, bukan kontrol sosial.

Kini, status LS tak lagi sebagai ‘wartawan’ atau ‘aktivis’. Di mata hukum, ia adalah tersangka. Polisi menyebut penyidikan masih berlanjut dan membuka kemungkinan keterlibatan pihak lain.

Redaksi media tempat LS mengaku bekerja belum memberikan pernyataan resmi. Sementara itu, di Kejati, jaksa TH kembali bertugas seperti biasa. (ihd)

Berita Terkait

Mahasiswa UGM Edukasi Warga Pokoh Kidul Wonogiri Waspada Penipuan Digital
Harga Cabai Rawit Melonjak, Tembus Rp67.350 per Kilogram
Sambut HUT RI, Festival Sepakbola Sugiat Santoso Cup Hadir di Langkat
FJI Kecam Dugaan Konten Tukar Hafalan Al-Qur’an dengan Miras, Minta Polisi Bertindak Profesional
Bekasi Catat 83,10 Persen Pemuda Tak Merokok, Pemkot Dorong Lingkungan Sehat
Tanamkan Kepedulian Lingkungan Sejak Dini, AMPHIBI Gelar Penghijauan di SDN 013829 Ledong Timur
Puluhan Pelajar Wonosobo Ikuti Pembinaan Paskibra, Siap Jadi Teladan Generasi Muda
Konferensi Sungai Trawas Tuai Sorotan, Sejumlah Pihak Persoalkan Aspek Prosedural

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 09:51 WIB

Mahasiswa UGM Edukasi Warga Pokoh Kidul Wonogiri Waspada Penipuan Digital

Rabu, 19 Agustus 2026 - 14:18 WIB

Harga Cabai Rawit Melonjak, Tembus Rp67.350 per Kilogram

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 13:06 WIB

Sambut HUT RI, Festival Sepakbola Sugiat Santoso Cup Hadir di Langkat

Kamis, 13 Agustus 2026 - 09:13 WIB

FJI Kecam Dugaan Konten Tukar Hafalan Al-Qur’an dengan Miras, Minta Polisi Bertindak Profesional

Minggu, 9 Agustus 2026 - 09:45 WIB

Bekasi Catat 83,10 Persen Pemuda Tak Merokok, Pemkot Dorong Lingkungan Sehat

Berita Terbaru