Gelondongan Kayu di Hulu Sungai dan 154 Warga Hilang di Sumatera Utara

Selasa, 2 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jejak Bencana Besar dan Saling Sanggah soal Sumber Kayu

JENDELANUSANTARA.COM, Medan — Dari tepi-tepi sungai yang masih keruh hingga lereng perbukitan yang perlahan tersibak lumpur, penantian panjang keluarga korban di Sumatera Utara belum juga berakhir. Hingga Selasa (2/12/2025), sebanyak 154 orang masih dinyatakan hilang akibat banjir dan longsor yang melanda 17 kabupaten/kota di provinsi ini.

Data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) Sumut mencatat, lima daerah menyumbang jumlah hilang terbanyak: Tapanuli Tengah 85 orang, Tapanuli Selatan 38 orang, Tapanuli Utara 17 orang, Kota Sibolga 12 orang, dan Humbang Hasundutan dua orang. Jumlah itu merupakan laporan sementara per 1 Desember pukul 21.00 WIB.

“Pendataan masih berjalan di seluruh wilayah terdampak. Informasi akan terus diperbarui,” kata Kepala Bidang Penanganan Darurat, Peralatan, dan Logistik BPBD Sumut, Sri Wahyuni Pancasilawati.

Sejak akhir pekan lalu, curah hujan tinggi memicu rangkaian banjir, longsor, hingga banjir bandang di berbagai kabupaten, dari Nias hingga Mandailing Natal. Di beberapa lokasi, akses darat terputus akibat jembatan patah atau jalan tertimbun material.

Bantahan dari Tapanuli Selatan

Di tengah proses evakuasi dan pendataan, perdebatan mengenai asal-usul gelondongan kayu yang terbawa banjir bandang kembali mencuat. Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan Pasaribu, menolak keras pernyataan Kementerian Kehutanan (Kemenhut) yang menyebut kayu-kayu tersebut merupakan “kayu busuk” atau pohon tumbang akibat cuaca ekstrem.

“Yang saya lihat, tidak ada daun, tidak ada dahan. Tidak tampak seperti kayu lama atau busuk. Pernyataan itu perlu dicek ulang,” ujarnya, Sabtu (29/11/2025).

Kemenhut sebelumnya menyampaikan bahwa kayu-kayu besar itu bukan hasil pembalakan liar, melainkan berasal dari area berizin melalui skema Pemegang Hak Atas Tanah (PHAT).

Namun, Bupati menilai skema tersebut justru membuka celah. Menurut dia, pemerintah daerah tidak pernah dilibatkan dalam proses atau publikasi izin PHAT. Warga kini menanggung dampak banjir bandang yang membawa gelondongan kayu dalam jumlah besar. Ada dugaan izin itu diselewengkan hingga menjadi “pembalakan berizin”.

Ia meminta Gakkum Kemenhut turun langsung ke lokasi dan siap menunjukkan temuan lapangan yang, menurutnya, menguatkan dugaan penyalahgunaan izin.

Suara dari Hulu Sungai

Bukan hanya Pemkab Tapsel, warga di desa terdampak mulai angkat bicara. Kepala Desa Garoga, Risman Rambe, menyebut kayu-kayu seukuran pelukan orang dewasa itu tidak pernah muncul dalam sejarah kampung mereka.

“Selama beratus tahun, baru kali ini kami melihat kayu sebesar itu. Warga juga sudah lama mendengar ada perusahaan yang membuka lahan sawit di hulu sungai,” kata Risman.

Rumah dan sawah warga di desa itu kini hancur total. Banyak keluarga mengungsi tanpa kepastian kapan bisa kembali membangun.

Penyelidikan Sumber Kayu

Direktorat Jenderal Gakkum Kemenhut melalui Dwi Januanto Nugroho menyatakan bahwa kayu dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk tebang legal. Temuan sementara mengarah ke area PHAT di Areal Penggunaan Lain (APL).

Ia juga mengakui adanya penyalahgunaan PHAT yang kerap dipakai untuk “mencuci” kayu ilegal dengan memalsukan dokumen atau meminjamkan izin. Kemenhut, katanya, telah menangguhkan sementara layanan Sistem Informasi Penatausahaan Hasil Hutan (SIPuHH) untuk PHAT di APL guna menutup celah praktik tersebut.

Menanti Kejelasan

Di sejumlah posko, para keluarga korban mendekap foto dan pakaian terakhir milik orang-orang terkasih. Di sisi lain, tim SAR masih berjibaku menembus lokasi-lokasi yang sulit dijangkau.

Sementara polemik soal kayu berputar di tingkat pemerintah, masyarakat di daerah terdampak menunggu dua jawaban: di mana keberadaan keluarga mereka, dan dari mana sebenarnya gelondongan kayu itu berasal.

Keduanya sama pentingnya, sama mendesaknya. Dan keduanya masih menunggu kepastian. (ihd)

Berita Terkait

Gemuruh dari Bukit Pasir Kuning, Kampung yang Hilang dalam Semalam
Dua Polisi Gugur Saat Bertugas Masuk Lokasi Longsor di Bandung Barat
Banjir Jakarta Masih Rendam Sembilan RT di Jaktim dan Jakutll
Tim SAR Serahkan 25 Kantong Jenazah, Pencarian Korban Longsor Bandung Barat Dihentikan
Bandung Barat Darurat Bencana, 82 Korban Longsor Belum Ditemukan
Hujan Deras Rendam 45 RT dan 22 Ruas Jalan di Jakarta, Air Capai 90 Sentimeter
BPS Pastikan Pendataan Rehab-Rekon Aceh Tamiang Pascabencana Akurat
Pesawat ATR 400 Hilang Kontak di Wilayah Maros, Bawa 11 Penumpang

Berita Terkait

Senin, 26 Januari 2026 - 14:09 WIB

Gemuruh dari Bukit Pasir Kuning, Kampung yang Hilang dalam Semalam

Minggu, 25 Januari 2026 - 22:44 WIB

Dua Polisi Gugur Saat Bertugas Masuk Lokasi Longsor di Bandung Barat

Minggu, 25 Januari 2026 - 22:36 WIB

Banjir Jakarta Masih Rendam Sembilan RT di Jaktim dan Jakutll

Minggu, 25 Januari 2026 - 22:13 WIB

Tim SAR Serahkan 25 Kantong Jenazah, Pencarian Korban Longsor Bandung Barat Dihentikan

Sabtu, 24 Januari 2026 - 16:40 WIB

Bandung Barat Darurat Bencana, 82 Korban Longsor Belum Ditemukan

Berita Terbaru

Petugas pada Kejaksaan Agung menggiring tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi penyimpangan dalam kegiatan ekspor crude palm oil (CPO) dan produk turunannya tahun 2022–2024 di Gedung Jampidsus Kejaksaan Agung, Jakarta, Selasa (10/2/2026). (KM)

HUKUM

Rekayasa HS Code Jadi Modus Penyimpangan Ekspor CPO

Selasa, 10 Feb 2026 - 23:44 WIB