Dosen Magister Manajemen UWM Soroti Ancaman Skills Bottleneck di Dunia Kerja

Jumat, 8 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dosen Program Studi Magister Manajemen Universitas Widya Mataram Yogyakarta, Dr. Yuswanto Hery Purnama

Dosen Program Studi Magister Manajemen Universitas Widya Mataram Yogyakarta, Dr. Yuswanto Hery Purnama

‎JENDELANUSANTARA.COM, Sleman – Gelombang kecerdasan buatan atau AI yang terus mendisrupsi dunia industri dinilai tidak bisa lagi dihadapi dengan pola pikir lama.

Dosen Program Studi Magister Manajemen Universitas Widya Mataram Yogyakarta, Dr. Yuswanto Hery Purnama, menegaskan transformasi human capital harus bergerak menuju pendekatan berbasis kemanusiaan.

“Manusia tidak boleh lagi diposisikan sekadar sebagai cost center atau alat produksi semata,” tegasnya saat ditemui di Kampus Terpadu UWM Sleman, Senin (4/5/2026).

Menurut Yuswanto, era AI justru menuntut organisasi menjadikan manusia sebagai pencipta nilai utama yang bermartabat.

Ia menyebut investasi pada kapasitas emosional, kreativitas, hingga kemampuan berpikir kritis menjadi kebutuhan mendesak.

“Di era mesin kognitif ini, manusia adalah tujuan akhir pembangunan. Investasi pada kapasitas emosional dan kognitif bukan hanya keputusan bisnis rasional, tetapi tindakan etis yang mendasar,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan ancaman baru bernama skills bottleneck yang mulai menghantui dunia kerja.

Yuswanto menilai kemampuan teknis seperti coding tidak lagi cukup menjadi senjata utama menghadapi perubahan zaman.

“Keterampilan yang paling dicari sekarang bukan sekadar coding, melainkan empati, kepemimpinan, dan penalaran etis. Itu benteng utama manusia menghadapi invasi AI,” katanya.

Menurutnya, perusahaan yang gagal membangun soft skills akan tertinggal dalam persaingan global.

Di sisi lain, Yuswanto menyoroti kesenjangan literasi digital yang masih menjadi pekerjaan rumah besar di Indonesia.

Ia menyebut penetrasi internet nasional masih terkonsentrasi di Pulau Jawa dengan angka mencapai 58,76 persen.

“Pemerintah sebenarnya sudah merespons melalui Peta Jalan Kecerdasan Artifisial Nasional 2025-2029 dan konsep Triple Readiness, yakni kesiapan teknis, pematangan soft skills, dan kesiapan masuk pasar kerja,” jelasnya.

Menariknya, Yuswanto menawarkan pendekatan khas Indonesia sebagai solusi menghadapi kecemasan terhadap teknologi.

Ia menilai budaya gotong royong mampu menjadi kekuatan sosial dalam menghadapi transformasi digital.

“Budaya kolektif ini efektif menekan technophobia melalui sistem pendampingan sejawat antara pekerja senior dan junior. AI boleh berkembang cepat, tetapi nilai kemanusiaan dan gotong royong tetap menjadi fondasi utama bangsa,” pungkasnya. (waw)

Berita Terkait

Revisi UU Pemilu Diminta Tak Sekadar Tambal Sulam Aturan Lama
Program Simpan Pinjam Berbasis Swadaya Satukan Warga Lintas RW di Kayen
Lodji Paris Jadi Pusat Perayaan Pekan Budaya Hari Kebangkitan Nasional di Jogja
Pakar Soroti Ancaman Hilangnya Arsip dan Rekam Jejak Publik akibat Right to be Forgotten
Rangkaian Waisak 2570 BE di Yogyakarta Diisi Belasan Kegiatan Sosial dan Spiritual
Wali Kota Yogyakarta Dorong JT Fest Jadi Agenda Wisata Religi Berskala Nasional
AEPI DIY Buka Galeri Ecoprint untuk Perluas Pasar Produk Ramah Lingkungan
Abdul Harris Bobihoe: Kerukunan dan Sinergi Jadi Kunci Kota Bekasi yang Nyaman

Berita Terkait

Jumat, 8 Mei 2026 - 14:23 WIB

Revisi UU Pemilu Diminta Tak Sekadar Tambal Sulam Aturan Lama

Jumat, 8 Mei 2026 - 10:00 WIB

Program Simpan Pinjam Berbasis Swadaya Satukan Warga Lintas RW di Kayen

Jumat, 8 Mei 2026 - 09:48 WIB

Lodji Paris Jadi Pusat Perayaan Pekan Budaya Hari Kebangkitan Nasional di Jogja

Jumat, 8 Mei 2026 - 09:19 WIB

Pakar Soroti Ancaman Hilangnya Arsip dan Rekam Jejak Publik akibat Right to be Forgotten

Jumat, 8 Mei 2026 - 08:07 WIB

Rangkaian Waisak 2570 BE di Yogyakarta Diisi Belasan Kegiatan Sosial dan Spiritual

Berita Terbaru