JENDELANUSANTARA.COM, Jakarta — Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mencabut sanksi terhadap Suriah dinilai sebagai langkah strategis untuk menjauhkan diri dari pengaruh Israel sekaligus menghidupkan kembali hubungan erat dengan Arab Saudi. Langkah ini juga disebut sebagai sinyal bahwa Washington tengah mencari pola baru keterlibatannya di Timur Tengah, termasuk kemungkinan menjadikan Damaskus sebagai mitra baru di kawasan.
Peter Ford, mantan Duta Besar Inggris untuk Suriah, menilai keputusan ini bukan sekadar soal hubungan bilateral AS-Suriah, melainkan refleksi dari dinamika kekuasaan antara Trump, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS).
“Trump ingin menunjukkan bahwa ia tidak tunduk sepenuhnya pada Netanyahu. Suriah, sebagai satu-satunya negara Arab yang masih berpotensi menahan ekspansi Israel, kini menjadi bagian dari permainan geopolitik baru,” ujar Ford, Jumat (15/5/2025).
Menurut Ford, kemunculan MBS mendampingi Trump saat pengumuman pencabutan sanksi menunjukkan bahwa keputusan ini juga merupakan bagian dari rekonsolidasi hubungan AS-Arab Saudi yang sempat renggang selama masa kepemimpinan Presiden Joe Biden.
Protektorat Baru
Ford memperkirakan keterbukaan Trump terhadap Damaskus bisa berkembang menjadi bentuk protektorat baru, mirip hubungan AS-Yordania. “Jika ini terjadi, Israel harus meninjau ulang pendekatannya, termasuk mengakhiri serangan ke wilayah Suriah dan mempertimbangkan untuk mengembalikan wilayah yang selama ini mereka duduki,” ujarnya.
Ia juga menilai pemulihan hubungan Washington-Damaskus bisa berlangsung cepat, terutama jika ada peralihan kekuasaan di Suriah dari Bashar Al-Assad ke kepemimpinan baru yang lebih terbuka terhadap kerja sama dengan AS.
Pertimbangan Militer dan Iran
Meski demikian, Ford mengingatkan bahwa kehadiran militer AS di Suriah masih menjadi batu sandungan dalam proses normalisasi hubungan. Penarikan pasukan, menurut dia, akan menjadi langkah logis dan strategis yang bisa membuka ruang bagi dialog lebih luas, termasuk dengan Iran.
“Ketegangan dengan Iran dapat diredam jika kehadiran militer AS di Suriah dikurangi. Ini juga bisa menjadi insentif dalam negosiasi nuklir yang kini memasuki tahap krusial,” tuturnya.
Pertemuan Puncak
Langkah pencabutan sanksi disampaikan Trump saat menghadiri Forum Investasi AS-Arab Saudi di Riyadh, Selasa. Sehari kemudian, Trump bertemu dengan pemimpin baru Suriah, Ahmed Al-Sharaa, bersama MBS dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.
Dalam pertemuan itu, Trump mendorong Al-Sharaa untuk mendukung Perjanjian Abraham, sebuah inisiatif normalisasi hubungan negara-negara Arab dengan Israel.
Usai pertemuan, Trump memuji Al-Sharaa sebagai sosok muda yang “menarik” dan “tangguh”. Pernyataan ini dinilai sebagai upaya membuka halaman baru dalam relasi Washington-Damaskus, sekaligus memperlihatkan keinginan Trump untuk mencetak warisan diplomatik baru di kawasan. (Sputnik)













