JENDELANUSANTARA.COM,SLEMAN – Geopix menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap penurunan populasi orangutan Sumatera berdasarkan penelitian ilmiah terbaru Kementerian Kehutanan yang dinilai sangat kredibel terpercaya.
Penelitian komprehensif tersebut melibatkan pejabat Kementerian Kehutanan dan dipublikasikan pada jurnal ilmiah bereputasi tinggi sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan secara akademis sepenuhnya.
Hasil penelitian menunjukkan populasi Orangutan Sumatera kini diperkirakan hanya tersisa 11.694 individu, turun sekitar 19,5 persen dibandingkan tahun 2011 secara signifikan.
Penelitian juga mencatat populasi Orangutan Tapanuli diperkirakan tinggal 716 individu.
“Jumlah tersebut sangat rentan terhadap kepunahan,” tegas Geopix dalam keterangannya resmi.
Temuan lainnya memperlihatkan sekitar 82 persen populasi orangutan berada di kawasan konservasi, sedangkan sekitar 2.200 individu hidup di luar perlindungan memadai.
Geopix menilai kondisi tersebut menjadi alarm keras bagi pemerintah, pelaku usaha, dan seluruh pemangku kepentingan untuk segera memperkuat perlindungan habitat orangutan.
Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati, menegaskan, “Informasi ilmiah ini merupakan alarm serius bagi pemerintah dan seluruh pelaku usaha terkait.”
Annisa menyoroti lanskap Batang Toru sebagai habitat Orangutan Tapanuli yang memiliki kerentanan sangat tinggi terhadap gangguan serta fragmentasi habitat berkepanjangan serius.
“Bencana yang terjadi di Batang Toru harus menjadi pengingat penting mengenai perlindungan kawasan tersebut,” ujar Annisa menegaskan perlunya langkah nyata segera, Senin (20/7/2026).
Penelitian juga mengungkap bentang alam Leuser kehilangan sekitar 2.000 orangutan selama lebih satu dekade akibat berbagai ancaman serius terhadap kelestarian habitat.
Kasus repatriasi orangutan dari Thailand serta penurunan populasi drastis di Rawa Tripa dan Batu Ardan memperlihatkan perburuan ilegal masih terus terjadi.
Annisa menegaskan, “Pemerintah harus memastikan koridor ekologis orangutan tetap terhubung melalui perlindungan dan pemulihan hutan-hutan yang tersisa secara berkelanjutan.”
Ia menambahkan, “Pengawasan, penegakan hukum terhadap perburuan, perdagangan ilegal, serta penanganan konflik manusia-orangutan harus diperkuat tanpa kompromi lagi sekarang.”
Menurut Annisa, kehilangan satu individu Orangutan Tapanuli saja dapat membawa konsekuensi besar terhadap keberlangsungan populasi karena jumlahnya sudah sangat sedikit sekali.
“Tidak ada lagi toleransi terhadap perusakan habitat, eksploitasi, maupun aktivitas yang meningkatkan risiko berkurangnya populasi orangutan,” tegas Annisa dengan keras.
Geopix juga mengapresiasi keterlibatan Kementerian Kehutanan dalam penelitian tersebut. “Ini menjadi tolok ukur penting evaluasi konservasi satwa liar Indonesia,” katanya lagi.
Menutup pernyataannya, Annisa menegaskan, “Enough is enough. Sudah cukup perusakan dan perdebatan. Kita harus bertindak sekarang atau orangutan punah lebih cepat.”














