Aktivitas Malam Dapat Menjaga Kadar Gula Darah dalam Tubuh Tetap Stabil

Rabu, 10 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Beberapa jam menjelang tidur menjadi periode penting yang menentukan kesehatan metabolik keesokan harinya. (ihade)

Beberapa jam menjelang tidur menjadi periode penting yang menentukan kesehatan metabolik keesokan harinya. (ihade)

JENDELANUSANTARA.COM, Jakarta – Malam hari kerap dianggap sebagai waktu tubuh beristirahat dari seluruh aktivitas. Namun, bagi mereka yang berupaya menjaga kadar gula darah tetap stabil, beberapa jam menjelang tidur justru menjadi periode penting yang dapat menentukan kesehatan metabolik keesokan harinya.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pengendalian gula darah tidak hanya ditentukan oleh apa yang dimakan sepanjang hari, tetapi juga oleh kebiasaan yang dilakukan setelah matahari terbenam. Kabar baiknya, perubahan yang dibutuhkan tidak selalu besar. Sejumlah langkah sederhana dapat memberikan dampak yang signifikan bagi kesehatan.

Salah satu kebiasaan yang paling mudah dilakukan adalah berjalan kaki selama 15 hingga 20 menit setelah makan malam. Aktivitas ringan ini membantu tubuh memanfaatkan glukosa sebagai sumber energi sehingga kadar gula darah tidak melonjak terlalu tinggi setelah makan. Bagi penyandang diabetes maupun pradiabetes, kebiasaan tersebut dinilai mampu memperbaiki sensitivitas insulin dan mengurangi fluktuasi gula darah dalam jangka panjang.

Namun, manfaat berjalan kaki akan lebih optimal jika didukung oleh menu makan malam yang tepat. Banyak orang masih mengandalkan makanan tinggi karbohidrat olahan dengan porsi sayuran dan protein yang minim. Padahal, kombinasi tersebut dapat memicu lonjakan glukosa yang lebih tajam. Para ahli menyarankan metode “piring diabetes”, yakni mengisi separuh piring dengan sayuran nontepung, seperempat dengan protein rendah lemak, dan seperempat sisanya dengan sumber karbohidrat kaya serat seperti gandum utuh, jagung, ubi, atau buah-buahan.

Bukan hanya jenis makanan yang penting, tetapi juga urutan saat mengonsumsinya. Sejumlah studi menemukan bahwa memulai makan dengan sayuran, kemudian protein, dan mengakhiri dengan karbohidrat dapat memperlambat penyerapan glukosa ke dalam aliran darah. Strategi sederhana ini membantu tubuh menghindari lonjakan gula darah yang terlalu tinggi setelah makan.

Ketika malam semakin larut, faktor lain yang sering diabaikan mulai berperan: stres. Tekanan pekerjaan, masalah keluarga, hingga kecemasan yang menumpuk dapat meningkatkan produksi hormon kortisol. Dalam jangka panjang, kadar kortisol yang tinggi dapat mengganggu kemampuan tubuh mengendalikan gula darah. Karena itu, para ahli menganjurkan aktivitas relaksasi menjelang tidur, seperti meditasi, latihan pernapasan, atau sekadar menenangkan diri tanpa gawai. Cara-cara tersebut membantu menurunkan respons tubuh terhadap stres sekaligus mendukung keseimbangan metabolik.

Tidur yang cukup juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pengelolaan gula darah. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur maupun kualitas tidur yang buruk berkaitan dengan meningkatnya kadar gula darah puasa, tingginya nilai hemoglobin A1c (HbA1c), serta meningkatnya resistensi insulin pada penderita diabetes tipe 2. Dengan kata lain, tubuh yang kurang beristirahat akan lebih sulit mengatur kadar gula secara optimal.

Pada akhirnya, menjaga gula darah bukan semata soal mengurangi konsumsi gula. Kebiasaan berjalan kaki setelah makan malam, memilih menu yang lebih seimbang, mengelola stres, dan memastikan tidur yang berkualitas merupakan serangkaian langkah sederhana yang saling melengkapi. Di tengah meningkatnya jumlah penderita diabetes dan gangguan metabolik, perubahan kecil pada malam hari bisa menjadi investasi kesehatan yang memberikan manfaat besar dalam jangka panjang. (ihd)

Berita Terkait

Nikmat Membawa Sengsara: Berjam-jam di Ruang Ber-AC Bikin Badan Pegal? Ini Kata Dokter
Kondisi Andrie Yunus Membaik, RSCM Lanjutkan Cangkok Kulit dan Pemulihan Mata
Tetap Sehat Setelah Lebaran, Saat Nikmat Berubah Jadi Risiko
RSCM – IMERI FKUI Tekankan Akses Terapi dan Skrining Penyakit Langka di Indonesia
Tak Minum Sepanjang Hari, Ginjal Tetap Sehat Saat Puasa
RSCM Kencana Raih Penghargaan di Forum Ophthalmologi Asia-Pasifik
RSCM Tegaskan Prinsip ‘Patient First’: Pelayanan Tetap Dibuka Meski BPJS PBI Nonaktif
RSCM Tetap Layani BPJS PBI Nonaktif: Keselamatan Pasien di Atas Administrasi

Berita Terkait

Selasa, 16 Juni 2026 - 21:45 WIB

Nikmat Membawa Sengsara: Berjam-jam di Ruang Ber-AC Bikin Badan Pegal? Ini Kata Dokter

Rabu, 10 Juni 2026 - 14:21 WIB

Aktivitas Malam Dapat Menjaga Kadar Gula Darah dalam Tubuh Tetap Stabil

Minggu, 5 April 2026 - 18:13 WIB

Kondisi Andrie Yunus Membaik, RSCM Lanjutkan Cangkok Kulit dan Pemulihan Mata

Minggu, 22 Maret 2026 - 13:46 WIB

Tetap Sehat Setelah Lebaran, Saat Nikmat Berubah Jadi Risiko

Kamis, 5 Maret 2026 - 17:36 WIB

RSCM – IMERI FKUI Tekankan Akses Terapi dan Skrining Penyakit Langka di Indonesia

Berita Terbaru