Peluncuran buku ditandai dengan penandatanganan mockup sampul serta penyerahan buku secara simbolis oleh Nasaruddin Umar. Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang refleksi atas perjalanan intelektual dan kepemimpinan Menteri Agama yang dikenal dengan gagasan moderasi beragama.
Rektor UIN Ar-Raniry, Mujiburrahman, yang juga menjadi penulis utama, menyatakan buku tersebut mengangkat sosok Nasaruddin Umar melalui pendekatan biografis reflektif. “Buku ini memotret beliau sebagai ulama, akademisi, sekaligus negarawan,” ujarnya.
Bagian awal buku menyoroti latar belakang sosial-kultural Nasaruddin Umar yang tumbuh di Bone, Sulawesi Selatan. Ia dibesarkan dalam lingkungan religius yang menanamkan nilai disiplin, integritas, serta kecintaan terhadap ilmu. Nilai budaya Bugis seperti siri’ na pacce disebut turut membentuk karakter kepemimpinannya.
Tak sekadar menyajikan perjalanan hidup secara kronologis, para penulis juga mengulas gagasan intelektual Nasaruddin Umar serta kontribusinya dalam kebijakan publik, khususnya di bidang keagamaan. Perjalanan akademiknya berkembang sejak menempuh pendidikan di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta hingga meraih gelar profesor.
Nasaruddin dikenal sebagai pemikir progresif yang mampu menjembatani tradisi keilmuan Islam klasik dengan tantangan modernitas. Salah satu gagasan utama yang diangkat dalam buku ini adalah moderasi beragama—sebuah pendekatan yang menekankan dialog, inklusivitas, dan persatuan dalam masyarakat majemuk.
Di bidang pendidikan, buku tersebut juga memperkenalkan konsep “kurikulum cinta”, yakni pendekatan pembelajaran yang menempatkan nilai kasih sayang sebagai fondasi utama. Sementara dari sisi kepemimpinan, Nasaruddin digambarkan sebagai birokrat humanis-religius yang mengedepankan nilai moral dan spiritual dalam menjalankan peran publik.
Buku ini ditulis oleh Mujiburrahman bersama Reza Idria, Kamaruzzaman, Rahmad Syah Putra, Muhajir Al Fairusy, dan Arkin. Para akademisi berharap karya tersebut dapat menjadi rujukan bagi kalangan akademisi, pembuat kebijakan, serta masyarakat luas dalam memahami model kepemimpinan religius yang moderat dan inklusif.
Dalam kesempatan itu, Nasaruddin Umar juga menyampaikan bahwa pengalaman belajar mendalam, termasuk dari tradisi pesantren dan kajian tasawuf, turut membentuk cara pandangnya dalam memahami ilmu dan kehidupan. (ihd)














