JENDELANUSANTARA.COM, Teheran — Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat terus meningkat ketika konflik militer kedua negara memasuki pekan ketiga. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan Teheran tidak meminta gencatan senjata maupun negosiasi dengan Washington.
Pernyataan itu disampaikan Araghchi dalam wawancara dengan televisi pemerintah Iran yang kemudian beredar luas di media sosial, termasuk di platform X (Twitter). Dalam potongan video berdurasi sekitar 41 detik yang diunggah akun @BRICSinfo pada 16 Maret 2026 malam waktu Indonesia Barat, Araghchi menjawab tegas pertanyaan wartawan mengenai kemungkinan penghentian konflik.
“Karena kami ingin mengajarkan pelajaran yang begitu keras sehingga musuh tidak pernah terpikir lagi untuk menyerang Iran,” ujar Araghchi.
Video tersebut segera menarik perhatian publik internasional. Tayangan itu telah ditonton ratusan ribu kali dan memicu beragam respons di media sosial—mulai dari dukungan terhadap sikap keras Teheran hingga kritik yang menilai Iran sedang berada dalam tekanan militer besar.
Konflik Memanas Sejak Akhir Februari
Konflik bersenjata antara Iran dan Amerika Serikat bersama Israel bermula pada 28 Februari 2026. Saat itu, Washington dan Tel Aviv melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap sejumlah fasilitas militer dan infrastruktur strategis Iran.
Serangan tersebut menewaskan sejumlah pejabat tinggi Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei. Peristiwa itu kemudian memicu serangan balasan dari Teheran berupa peluncuran rudal dan drone ke berbagai target militer AS di Timur Tengah serta wilayah Israel.
Hingga Selasa (17/3/2026), pertempuran masih berlangsung sengit. Amerika Serikat dan Israel terus menargetkan fasilitas produksi rudal, sistem pertahanan udara, serta kawasan industri yang dianggap mendukung kekuatan militer Iran.
Sebaliknya, Iran melancarkan serangan balasan ke sejumlah titik di kawasan Teluk Persia, termasuk wilayah yang berdekatan dengan Uni Emirat Arab.
Teheran juga mengancam akan menutup jalur pelayaran strategis Selat Hormuz bagi kapal-kapal milik Amerika Serikat, Israel, dan negara sekutunya—langkah yang berpotensi mengganggu distribusi energi global.
Menolak Klaim Washington
Araghchi menegaskan perang yang terjadi saat ini harus berakhir secara permanen dengan cara yang membuat lawan tidak lagi berani menyerang Iran di masa depan.
Ia juga membantah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya menyebut Iran tengah mencari jalan menuju kesepakatan damai.
Menurut Araghchi, klaim tersebut tidak mencerminkan posisi resmi pemerintah Iran yang hingga kini memilih melanjutkan perlawanan militer.
Sikap keras Teheran ini menunjukkan bahwa konflik yang sudah memasuki pekan ketiga tersebut masih jauh dari tanda-tanda mereda. (ihd)














