JENDELANUSANTARA.COM, Bone — Menteri Agama Nasaruddin Umar mengingatkan seluruh aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Kementerian Agama untuk menjaga integritas dan tidak mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya. Pesan tersebut disampaikan saat membuka Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan di Bone, Rabu (7/1/2026).
Nasaruddin menegaskan, pelanggaran etika dan hukum kerap berawal dari pembenaran atas hal-hal kecil yang sebenarnya bukan hak. Ia mengingatkan bahwa konsekuensi moral dari perbuatan tersebut tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga keluarga.
“Jangan pernah mengambil sesuatu yang bukan hak. Daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram tidak bisa dibersihkan kecuali oleh api neraka. Jagalah diri, keluarga, dan hati kita,” ujar Nasaruddin.
Menurut dia, integritas harus menjadi karakter utama ASN Kementerian Agama. Selain itu, gaya hidup yang berlebihan perlu dihindari karena berpotensi mendorong penyalahgunaan kewenangan. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keluarga agar tidak menjadi faktor pendorong terjadinya pelanggaran.
Selain integritas, Nasaruddin menekankan pentingnya kedisiplinan ibadah dan kedekatan spiritual sebagai fondasi moral ASN Kementerian Agama. Ia mendorong jajarannya untuk menjaga hubungan dengan Tuhan sebagai benteng pengendali diri dalam menjalankan tugas.
“Jangan jauh dari Tuhan. Jadikan amalan sunah seperti kewajiban. Di situ ada kekuatan yang menjaga kita,” kata Nasaruddin.
Ia juga menyoroti pentingnya etos kerja, kemampuan komunikasi, serta penguatan jejaring. Menurut Nasaruddin, kecakapan teknis perlu diimbangi dengan kemampuan membangun relasi yang baik dengan masyarakat, tokoh agama, dan media agar kinerja institusi dapat dirasakan dan dipahami publik.
“Prestasi tidak hanya diukur dari seberapa banyak kita bekerja, tetapi dari seberapa baik kita memediasikan kinerja kita,” ujarnya.
Nasaruddin menambahkan, publikasi yang baik merupakan bagian dari akuntabilitas sekaligus sarana membangun kepercayaan masyarakat. Ia menegaskan, manajemen organisasi modern tidak lagi bertumpu pada figur individual, melainkan pada kerja tim yang solid.
“Tidak ada lagi superman. Yang ada adalah superteam. Pemimpin yang baik bukan yang mengerjakan semuanya, tetapi yang mampu memberi kepercayaan dan mendelegasikan tugas,” tuturnya. (ihd)













