JENDELANUSANTARA.COM, Jakarta — Di usianya yang kini menapaki 46 tahun, Carlos Ruiz masih mengingat jelas malam-malam panjang di Guatemala City, saat ia menatap langit dan bermimpi membawa negaranya ke panggung Piala Dunia.
Mimpi itu tak pernah benar-benar terwujud, tapi dari perjalanan panjang itu, ia meninggalkan jejak yang membuat namanya dikenang sejagat sepak bola: pencetak gol terbanyak dalam sejarah kualifikasi Piala Dunia.
Selama hampir sembilan tahun, rekor 39 gol dari 47 pertandingan miliknya berdiri kokoh, hingga dua nama besar—Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi—mulai mendekat.
Kini, Ronaldo memimpin daftar dengan 41 gol, sementara Messi menyusul dengan 36. “Dua pesepak bola besar mengejar rekor saya. Berada di antara mereka, tidak buruk, kan?” ujar Ruiz sambil tersenyum, dikutip dari laman resmi FIFA, Jumat (31/10/2025).
Bagi Ruiz, rekor bukan sekadar angka. Di balik setiap gol ada kisah pengorbanan. “Ketika orang berkata rekor itu milik Cristiano Ronaldo, rasanya lebih bermakna dibandingkan kalau itu hanya milik Carlos Ruiz,” katanya berseloroh.
Kalimat itu tak bernada getir; justru mengandung rasa bangga yang tulus, seolah ia tahu, namanya kini terpatri di antara para legenda.
Perjalanannya bersama tim nasional Guatemala dimulai pada 1998. Ia melewati lima edisi kualifikasi Piala Dunia—dari 2002 hingga 2018 –sebuah capaian langka bagi pesepak bola dari negara yang belum pernah tampil di turnamen akbar itu.
Di kualifikasi 2018, ketika usianya telah melewati 36 tahun, Ruiz menutup karier internasionalnya dengan mencetak lima gol ke gawang Saint Vincent dan Grenadines. Malam itu, ia menyalip rekor legenda Iran, Ali Daei, dan mengukir sejarah.
Namun, Ruiz tahu betul bahwa bertahan selama itu bukan perkara mudah. “Untuk bermain di lima kualifikasi, Anda harus tetap di level tertinggi, menghindari cedera, dan tetap dipanggil ke tim nasional selama 20 tahun,” ujarnya.
Dalam kariernya, ia sempat merantau ke Amerika Serikat dan memperkuat FC Dallas, mencicipi kerasnya Major League Soccer sebelum akhirnya kembali ke tanah kelahiran.
Kini, dari jauh, Ruiz menyaksikan dua nama besar dunia melampaui torehan golnya. Namun, tidak ada rasa iri dalam suaranya. Ia justru melihatnya sebagai penghormatan.
“Jika rekor saya berakhir di tangan Cristiano Ronaldo, itu berarti saya berada di tempat yang tepat dalam sejarah,” katanya lirih.
Dalam diam, mungkin Carlos Ruiz tahu, warisan sejati bukan hanya tentang berapa banyak gol yang dicetak, melainkan tentang seberapa lama namanya bertahan di hati mereka yang mencintai permainan ini. (ihd)














