Menteri Kesehatan Yaman Qassem Buhaibeh mengatakan, korban tewas terdiri atas petugas keamanan dan pegawai sipil yang bekerja di lingkungan istana kepresidenan. Informasi mengenai jumlah korban itu disampaikan melalui akun Facebook miliknya.
Seorang sumber pemerintah setempat kepada kantor berita Anadolu menyebutkan, serangan tersebut melibatkan lima rudal balistik. Dampaknya tidak hanya dirasakan di kompleks istana, tetapi juga dilaporkan mengenai rumah-rumah warga sipil di sekitarnya.
Buhaibeh mengecam serangan tersebut dan mengingatkan bahwa peristiwa itu mengulang serangan terhadap pemerintah Yaman di Bandara Aden pada Desember 2020. Meski demikian, ia menegaskan bahwa pemerintah akan tetap menjalankan tanggung jawabnya kepada masyarakat.
“Pemerintah akan terus melaksanakan kewajiban kepada masyarakat,” kata Buhaibeh.
Di tengah serangan itu, Kementerian Penerangan Yaman memastikan Perdana Menteri Shaya al-Zindani dan anggota pemerintahan lainnya dalam keadaan aman. Belum ada keterangan lebih lanjut mengenai kerusakan fasilitas pemerintahan maupun dampak serangan terhadap aktivitas di kompleks istana.
Sejumlah video yang beredar di media sosial memperlihatkan asap membumbung dari kawasan Istana Kepresidenan Al-Maashiq. Sementara itu, kantor berita Saba melaporkan, kelompok Houthi juga melancarkan serangan rudal balistik ke kawasan permukiman di Kota Marib.
Televisi Al-Masirah, yang berafiliasi dengan kelompok Houthi, turut mengonfirmasi serangan terhadap istana kepresidenan dengan mengutip sumber militer yang tidak disebutkan identitasnya.
Juru bicara militer Houthi Yahya Saree mengatakan, kelompoknya menyerang apa yang disebutnya sebagai “markas operasi perang Arab Saudi” di Aden. Ia menegaskan bahwa keberadaan militer Arab Saudi merupakan sasaran yang dianggap sah oleh kelompok tersebut.
Serangan ini menjadi perkembangan penting dalam konflik Yaman karena untuk pertama kalinya sejak pertempuran kembali meningkat pada Juli lalu, istana kepresidenan di Aden dilaporkan menjadi sasaran serangan. Insiden tersebut sekaligus memperlihatkan risiko meluasnya kembali konfrontasi bersenjata yang melibatkan pemerintah Yaman dan kelompok Houthi.
Konflik yang belum berakhir
Yaman telah terperosok dalam konflik berkepanjangan sejak kelompok Houthi merebut ibu kota Sanaa pada 2014. Perebutan kekuasaan itu memaksa pemerintahan yang diakui secara internasional meninggalkan ibu kota dan menjalankan pemerintahan dari wilayah lain, termasuk Aden.
Pada 2015, koalisi militer pimpinan Arab Saudi melakukan intervensi untuk mendukung pemerintah Yaman dalam menghadapi kelompok Houthi. Keterlibatan kekuatan regional tersebut membuat konflik domestik Yaman berkembang menjadi pertarungan yang melibatkan kepentingan sejumlah negara di kawasan.
Upaya meredakan konflik melalui gencatan senjata pada 2022 sempat memberikan harapan bagi penurunan intensitas pertempuran. Namun, kesepakatan itu tidak menghasilkan penyelesaian politik yang menyeluruh dan berkelanjutan.
Eskalasi permusuhan yang kembali terjadi sejak Juli lalu menunjukkan rapuhnya situasi keamanan di negara tersebut. Serangan terhadap istana kepresidenan di Aden kini menambah tekanan terhadap pemerintah Yaman, sekaligus meningkatkan kekhawatiran atas keselamatan warga sipil yang berada di sekitar sasaran militer dan fasilitas pemerintahan. (ihd/anadolu)














