Kekayaan Intelektual Bisa Menjadi Pedang Bermata Dua bagi Solusi Iklim

Kamis, 6 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto keynote speeach UMYGrace 2026,  Desmond Osaretin Oriakhogba, Ph.D., Associate Professor dari University of the Western Cape, Afrika Selatan

Foto keynote speeach UMYGrace 2026, Desmond Osaretin Oriakhogba, Ph.D., Associate Professor dari University of the Western Cape, Afrika Selatan

JENDELANUSANTARA.COM, Yogyakarta – Hukum dalam kekayaan intelektual dirancang untuk mendorong akses informasi dan remunerasi adil bagi inovator, tetapi praktik tata kelolanya yang timpang berisiko menghambat solusi perubahan iklim. Ini menjadikan kekayaan intelektual bisa mempercepat solusi iklim dengan memberi penghargaan pada inovasi hijau, atau justru menghambat kemajuan.

Hal tersebut disampaikan oleh Desmond Osaretin Oriakhogba, Ph.D., Associate Professor dari University of the Western Cape, dalam sesi keynote speech Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Graduate Conference (UMYGrace) 2026 pada Kamis (6/8).

“Hukum dalam kekayaan intelektual mengatur inovasi dengan tujuan mendorong akses informasi dan remunerasi yang adil bagi inovator, serta pembangunan berkelanjutan secara keseluruhan. Khususnya dalam konteks perubahan iklim,” papar Desmond dalam sesi yang digelar secara daring tersebut.

Ia menjelaskan, tata kelola inovasi bukan sekadar aturan kekayaan intelektual semata, melainkan mencakup seperangkat kerangka hukum dan kebijakan pasar yang lebih luas. Ini termasuk persaingan usaha, komunikasi, investasi, dan perdagangan yang bersama-sama memengaruhi arah inovasi sebuah negara.

“Kerangka ini tidak hanya mencakup aturan hukum nasional yang formal, tetapi juga rezim regulasi multilevel yang menjembatani tingkat global dan lokal, serta norma informal dan mekanisme pengaturan mandiri,” ujarnya lagi.

Kendati demikian, Desmond menyoroti kesenjangan antara tujuan ideal kekayaan intelektual dengan praktik tata kelola iklim di tingkat global, yang menurutnya masih diwarnai perbedaan sikap tajam antara negara maju, berkembang, dan kurang berkembang soal akses teknologi bersih.

Di tengah situasi tersebut, dirinya mengangkat Afrika sebagai contoh kawasan yang mulai merancang kerangka kekayaan intelektual dengan tujuan lebih jelas. Ia menyebut protokol kekayaan intelektual dalam African Continental Free Trade Area (AfCFTA) atau Perjanjian Kawasan Perdagangan Bebas Benua Afrika sebagai instrumen yang mengharmonisasi aturan kekayaan intelektual, sekaligus memberi ruang pengecualian bagi negara anggota untuk memastikan akses ke teknologi ramah lingkungan.

Protokol tersebut, kata Desmond, mewajibkan negara anggota memberikan paten di seluruh bidang teknologi, khususnya untuk melindungi inovasi ramah lingkungan, sekaligus membuka ruang pengecualian kekayaan intelektual yang selaras dengan prioritas pembangunan masing-masing negara.

“Selain memberi ruang pengecualian, protokol ini juga mendorong akses ke energi bersih dan efisien, serta mempromosikan transisi energi yang adil dan berkelanjutan bagi lingkungan,” paparnya lebih lanjut.

Protokol AfCFTA pun turut mengatur skema pendaftaran merek dagang khusus untuk produk dan jasa ramah lingkungan, serta desain industri yang berorientasi lingkungan. Sehingga tidak hanya perlindungan paten semata. (lsi)

Sumber : Humas umy

Berita Terkait

Listyo Sigit ke KSP, Guru Besar UMY Tekankan Mekanisme Kelembagaan Jaga Independensi Polri
Gastronomi Jadi Fokus Kemenpar untuk Perkuat Pariwisata Berkualitas
Pakar Ekonomi UMY Soroti Risiko Fiskal Pengelolaan Utang Whoosh oleh Kemenkeu
Pakar UMY Ungkap Celah Tata Kelola di Balik Kasus Korupsi Pertanahan
Hari Batik Nasional, KAWAL Indonesia Ajak Generasi Muda Bangga Berbatik
Pemerintah Kota Yogyakarta Gelar Upacara Hari Kesaktian Pancasila, Walikota Yogyakarta Ajak Aparatur Hidupkan Nilai Pancasila
PMI Kota Yogyakarta Buka Bulan Dana 2026, Ajak Masyarakat Perkuat Kepedulian Kemanusiaan
Satoria Hotel Yogyakarta Rayakan Anniversary ke-9, “Together We 9row” Jadi Semangat Tumbuh Bersama

Berita Terkait

Jumat, 2 Oktober 2026 - 13:54 WIB

Listyo Sigit ke KSP, Guru Besar UMY Tekankan Mekanisme Kelembagaan Jaga Independensi Polri

Jumat, 2 Oktober 2026 - 13:05 WIB

Pakar Ekonomi UMY Soroti Risiko Fiskal Pengelolaan Utang Whoosh oleh Kemenkeu

Jumat, 2 Oktober 2026 - 12:20 WIB

Pakar UMY Ungkap Celah Tata Kelola di Balik Kasus Korupsi Pertanahan

Jumat, 2 Oktober 2026 - 11:03 WIB

Hari Batik Nasional, KAWAL Indonesia Ajak Generasi Muda Bangga Berbatik

Jumat, 2 Oktober 2026 - 08:52 WIB

Pemerintah Kota Yogyakarta Gelar Upacara Hari Kesaktian Pancasila, Walikota Yogyakarta Ajak Aparatur Hidupkan Nilai Pancasila

Berita Terbaru