JENDELANUSANTARA.COM, Jakarta — Di atas lahan yang selama puluhan tahun hanya menyisakan monumen dan ingatan, pemerintah berupaya menghadirkan kembali salah satu ruang paling bersejarah dalam perjalanan bangsa. Rumah di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta Pusat—tempat Soekarno dan Mohammad Hatta membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945—akan dibangun ulang dengan bentuk yang dibuat sedekat mungkin dengan bangunan aslinya.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan rekonstruksi itu bertujuan mengembalikan memori sejarah yang selama ini hanya hidup melalui foto, arsip, dan kesaksian.
“Kita akan bangun kembali, persis sama, tetapi tidak dengan selasarnya,” ujar Fadli dalam bincang santai di Jakarta, Rabu (5/8/2026).
Rumah yang menjadi saksi lahirnya Republik Indonesia tersebut telah dirobohkan pada sekitar Agustus 1960, pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Di atas bekas lokasinya kemudian berdiri Tugu Petir dan Gedung Pola, sehingga jejak fisik bangunan bersejarah itu menghilang dari lanskap ibu kota.
Kini, pemerintah ingin menghadirkan kembali ruang yang pernah menjadi panggung salah satu peristiwa paling menentukan dalam sejarah Indonesia. Rekonstruksi tidak sekadar berupa replika bangunan, melainkan juga akan dikembangkan sebagai Museum Proklamasi yang menyajikan perjalanan lahirnya kemerdekaan, mulai dari proses penyusunan naskah proklamasi, dokumentasi foto, hingga suasana pembacaan teks bersejarah tersebut.
Pengunjung nantinya tidak hanya melihat koleksi sejarah, tetapi juga diajak mengalami kembali atmosfer pagi 17 Agustus 1945 melalui ruang-ruang imersif yang dirancang dengan dukungan teknologi. Pengalaman tersebut diharapkan mampu menghadirkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai momentum lahirnya bangsa.
Pembangunan ditargetkan rampung pada akhir 2026. Proses rekonstruksi melibatkan arsitek serta para sejarawan agar bentuk bangunan, proporsi ruang, dan detail arsitektural mendekati kondisi aslinya.
Bagi Kementerian Kebudayaan, proyek ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan ikhtiar menghidupkan kembali memori kolektif bangsa. Kehadiran museum diharapkan menjadi ruang belajar, ruang budaya, sekaligus tempat generasi muda memahami sejarah melalui pengalaman yang lebih dekat dengan zamannya.
Optimisme itu, menurut Fadli, tercermin dari tingginya minat masyarakat terhadap museum. Salah satu program yang mendapat sambutan luas ialah Museum Passport, paspor khusus yang dapat diberi cap di museum-museum di bawah pengelolaan Museum dan Cagar Budaya Kementerian Kebudayaan.
“Dalam waktu singkat, 20.000 buku paspor museum itu terjual. Itu dijual, bukan dibagikan gratis. Harganya sekitar Rp83.000, tetapi ternyata Gen Z kita luar biasa antusias terhadap museum,” ujarnya.
Antusiasme tersebut dinilai menjadi sinyal bahwa museum tidak lagi dipandang sebagai ruang yang statis. Dengan pendekatan yang lebih interaktif dan relevan bagi generasi sekarang, museum diharapkan mampu menjadi jembatan antara sejarah, pendidikan, dan kebudayaan, sehingga kisah lahirnya Republik tidak hanya dikenang sebagai peristiwa masa lalu, tetapi terus hidup dalam ingatan. (ihd)














