JENDELANUSANTARA.COM, YOGYAKARTA – Di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, pemerintah menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang kuat. Isu ini kembali menjadi perhatian setelah _Kompas Money_ (30/6) mengulas berbagai faktor yang menyebabkan rupiah terus tertekan meskipun sejumlah indikator ekonomi makro menunjukkan kinerja yang positif.
Menanggapi kondisi tersebut, Ekonom Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dyah Titis Kusuma Wardani, S.E., MIDEC., Ph.D., menjelaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah tidak dapat dijadikan satu-satunya indikator untuk menilai kekuatan fundamental ekonomi nasional.
Menurut Dyah, pergerakan nilai tukar dipengaruhi oleh kombinasi faktor domestik dan global. Karena itu, meskipun berbagai indikator ekonomi Indonesia masih menunjukkan kondisi yang relatif baik, rupiah tetap dapat mengalami pelemahan akibat dinamika ekonomi internasional maupun perubahan persepsi investor terhadap prospek suatu negara.
“Rupiah bisa melemah meskipun sebagian indikator fundamental masih terlihat kuat, karena nilai tukar tidak hanya ditentukan oleh kondisi domestik, tetapi juga oleh faktor eksternal dan persepsi investor,” jelas Dyah, Kamis (2/7), di UMY.
Ia menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah saat ini lebih banyak dipicu oleh penguatan dolar Amerika Serikat, ketidakpastian arah suku bunga global, arus keluar modal _(capital outflow)_, serta meningkatnya kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan fiskal dan stabilitas kebijakan di dalam negeri. Faktor-faktor tersebut membuat nilai tukar menjadi sangat sensitif terhadap sentimen pasar meskipun kondisi ekonomi domestik relatif stabil.
“Tekanan terhadap rupiah dapat berasal dari penguatan dolar AS, ketidakpastian suku bunga global, _capital outflow,_ pelemahan pasar keuangan, serta kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan fiskal dan stabilitas kebijakan domestik. Jadi, fundamental yang relatif kuat tidak membuat rupiah kebal terhadap gejolak global maupun perubahan persepsi pasar,” ujarnya.
Meski faktor eksternal berpengaruh besar, Dyah menilai kondisi domestik tetap memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Kepercayaan investor terhadap kebijakan pemerintah, kondisi fiskal yang sehat, serta ketahanan sektor eksternal menjadi penopang utama ketika perekonomian menghadapi tekanan dari luar negeri.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pelemahan rupiah tidak serta-merta menunjukkan fundamental ekonomi Indonesia sedang melemah. Menurutnya, pemerintah menilai kondisi fundamental berdasarkan berbagai indikator makroekonomi, bukan hanya dari pergerakan nilai tukar.
“Dalam ekonomi makro, fundamental ekonomi biasanya diukur melalui sejumlah indikator utama, seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, defisit fiskal, rasio utang pemerintah, neraca transaksi berjalan, cadangan devisa, stabilitas sistem keuangan, tingkat investasi, serta kondisi pasar tenaga kerja,” tutur Dyah.
Ia menambahkan bahwa kekuatan fundamental ekonomi juga perlu dilihat dari dampaknya terhadap sektor riil. Oleh karena itu, penilaian terhadap kondisi ekonomi tidak cukup hanya mengacu pada data agregat, tetapi juga harus mempertimbangkan sejauh mana stabilitas tersebut dirasakan oleh masyarakat maupun pelaku usaha.
Untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional, Dyah menilai pemerintah perlu terus menjaga stabilitas nilai tukar melalui kebijakan yang mampu meningkatkan kepercayaan pasar. Selain mengendalikan inflasi dan menjaga kredibilitas fiskal, kepastian regulasi serta belanja negara yang produktif menjadi faktor penting dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif di tengah ketidakpastian ekonomi global.
“Prioritas utama adalah menjaga stabilitas rupiah dan inflasi tanpa menghambat sektor riil. Kebijakan fiskal juga harus kredibel dan efisien dengan memastikan belanja negara benar-benar produktif. Pemerintah perlu menjaga kepastian regulasi agar investor tetap percaya. Dengan demikian, stabilitas makroekonomi tidak hanya tercermin dalam data statistik, tetapi juga mampu memperkuat kepercayaan pasar terhadap Indonesia,” pungkasnya. (gla)
Sumber : Humas Umy














