PWI Kembali ke Khittah, Pengurus Hasil Kongres Persatuan Dilantik di Solo

Kamis, 4 September 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Berfoto seusai pertemuan, (dari kiri) Dirjen Komunikasi Publik dan Media Fifi Adelia Yahya, Wamen Komdigi Nezar Patria, Menteri Komdigi Meutya Hafid, Ketua Umum PWI Akhmad Munir, dan Ketua Dewan Kehormatan PWI Atal S Depari. (Istimewa)

Berfoto seusai pertemuan, (dari kiri) Dirjen Komunikasi Publik dan Media Fifi Adelia Yahya, Wamen Komdigi Nezar Patria, Menteri Komdigi Meutya Hafid, Ketua Umum PWI Akhmad Munir, dan Ketua Dewan Kehormatan PWI Atal S Depari. (Istimewa)

Menteri Komdigi: Warisi Semangat Persatuan dari 1946

JENDELANUSANTARA.COM, Jakarta – Lahir dari semangat persatuan wartawan di tengah perjuangan kemerdekaan, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) kembali menapak jejak sejarahnya. Setelah hampir dua tahun terbelah dalam dualisme kepengurusan, PWI menyatukan langkah melalui Kongres Persatuan yang digelar di Cikarang, Bekasi, 29—30 Agustus 2025.

Kongres itu menghasilkan kesepakatan bulat: menunjuk Direktur Utama LKBN Antara, Akhmad Munir, sebagai Ketua Umum PWI periode 2025—2030, serta Atal S. Depari sebagai Ketua Dewan Kehormatan. Proses berjalan demokratis dan disaksikan langsung perwakilan pemerintah serta tokoh pers, termasuk dukungan dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).

Menteri Komdigi Meutya Hafid menyambut baik hasil kongres yang disebutnya menutup lembaran panjang perpecahan. “Kami tentu senang, mendapat kabar Kongres Persatuan PWI berjalan lancar dan demokratis. Semoga PWI betul-betul bersatu lagi dan kembali fokus mengawal jurnalisme Indonesia yang profesional dan berkualitas,” ujarnya saat menerima Munir dan Atal di Jakarta, Rabu (3/9/2025).

Kembali ke Solo

Harapan persatuan itu akan ditandai dengan pelantikan pengurus baru di Monumen Pers Nasional, Solo, akhir September mendatang. Permintaan pelantikan di kota kelahiran PWI pada 9 Februari 1946 itu datang langsung dari Meutya Hafid.

“Ini bukan sekadar upacara seremonial, tetapi pesan agar pengurus PWI baru mewarisi nilai perjuangan dan persatuan para pendiri PWI,” kata Ketua PWI Surakarta, Anas Syahirul.

Direktur Monumen Pers Nasional, Widodo Hastjaryo, juga menyatakan kesiapan menjadi tuan rumah. “Kami menyambut baik rencana ini. Surakarta memiliki makna historis bagi lahirnya PWI, dan momen ini akan mengingatkan kembali semangat persatuan wartawan,” ucapnya.

Menutup Dua Tahun Dualisme

Sejak 2023, PWI terbelah menjadi dua kubu: hasil Kongres Bandung yang dipimpin Hendry Ch. Bangun, dan Kongres Luar Biasa Jakarta 2024. Perpecahan itu menimbulkan kebingungan di kalangan wartawan daerah, hingga memunculkan desakan rekonsiliasi.

Dengan dukungan tokoh pers dan pemerintah, kedua pihak akhirnya menyepakati Kongres Persatuan. Formatur kini tengah merampungkan susunan kepengurusan baru untuk memperoleh pengesahan hukum (AHU) dari Kementerian Hukum dan HAM.

“Kita dukung bersama agar kepengurusan baru mampu memulihkan citra PWI yang terpuruk hampir dua tahun ini,” kata Sasongko Tedjo, Ketua Dewan Kehormatan PWI periode sebelumnya.

Semangat 1946

PWI lahir di Solo, ketika wartawan dari berbagai daerah berkumpul untuk membentuk wadah tunggal profesi pada 9 Februari 1946. Kala itu, semangat persatuan wartawan berjalan seiring dengan perjuangan bangsa mempertahankan kemerdekaan.

Kini, hampir delapan dekade kemudian, PWI kembali ke Solo dengan misi yang sama: menjaga persatuan, menegakkan kode etik jurnalistik, dan memastikan jurnalisme Indonesia tetap berdaulat di tengah derasnya arus informasi digital. (*)

Berita Terkait

Dana Umat Berpotensi Rp500 Triliun per Tahun, Perlu Kelola Terintegrasi
Prabowo Buka Opsi Indonesia Keluar dari Dewan Perdamaian Gaza
Kemenag Dorong PTKIN Buka Kelas Internasional dan Ekspansi Global
Menag Sebut NU sebagai Pesantren Besar dan Memiliki Kekuatan Moderasi
Alquran Isyarat Indonesia: Mushaf Pertama Dunia, Curi Perhatian di Book Fair Kairo
Integrasi Data Guru Non-ASN Jadi Fokus Pemerintah 2026 untuk Pemerataan
HNW Nilai Dokumen Board of Peace Bertentangan dengan Konstitusi RI
Kemenag Ingatkan Batas Akhir Sertifikasi Halal Produk Farmasi 17 Oktober 2026

Berita Terkait

Sabtu, 7 Februari 2026 - 21:45 WIB

Dana Umat Berpotensi Rp500 Triliun per Tahun, Perlu Kelola Terintegrasi

Selasa, 3 Februari 2026 - 22:48 WIB

Prabowo Buka Opsi Indonesia Keluar dari Dewan Perdamaian Gaza

Sabtu, 31 Januari 2026 - 21:17 WIB

Kemenag Dorong PTKIN Buka Kelas Internasional dan Ekspansi Global

Sabtu, 31 Januari 2026 - 21:05 WIB

Menag Sebut NU sebagai Pesantren Besar dan Memiliki Kekuatan Moderasi

Jumat, 30 Januari 2026 - 21:41 WIB

Alquran Isyarat Indonesia: Mushaf Pertama Dunia, Curi Perhatian di Book Fair Kairo

Berita Terbaru

Jakarta

UNJ Jadi Tuan Rumah Seleknas Sepak Takraw Nasional 2026

Rabu, 11 Feb 2026 - 09:22 WIB