Pers Hari Ini, Antara Kegampangan dan Kegamangan

Sabtu, 7 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Iwan Jamaluddin (Dokpri)

Iwan Jamaluddin (Dokpri)

Oleh: Iwan Jamaluddin, Jurnalis Praktisi Media

DI tengah hiruk-pikuk notifikasi gawai, gelombang konten digital, serta dominasi algoritma, jurnalisme Indonesia kini berada pada persimpangan yang penuh tantangan — bukan sekadar soal persaingan, tetapi juga soal eksistensi profesionalisme.

Perubahan perilaku konsumsi berita bukan sekadar wacana. Data dari Reuters Institute for the Study of Journalism menunjukkan bahwa tren perhatian publik kini bergeser tajam ke platform short-form seperti TikTok, di mana sekitar 57 persen pengguna TikTok yang mengakses berita justru mengikuti influencer ketimbang merek media arus utama. Ini mencerminkan perubahan preferensi generasi muda terhadap bentuk dan sumber berita yang lebih visual, personal, dan cepat.

Namun, lonjakan konten AI turut menghadirkan tantangan baru yang jauh lebih kompleks. Kepemimpinan redaksi di berbagai belahan dunia dilaporkan semakin khawatir menghadapi gempuran platform berbasis AI. Hanya sekitar 38 persen pemimpin redaksi yang menyatakan percaya diri dengan masa depan media arus utama di tengah dominasi teknologi generatif ini. Ketidakpastian ini mencerminkan bahwa banyak media masih berjuang menyesuaikan model bisnis dan strategi editorial mereka di tengah gelombang teknologi baru.

Tantangan bukan hanya soal bertahan, tetapi juga soal kepercayaan publik. Laporan global Digital News Report menunjukkan ketidaknyamanan signifikan terhadap berita yang dibuat mayoritas oleh mesin: 52 persen responden di AS dan 63 persen di Inggris menyatakan kurang nyaman dengan narasi berita yang AI-driven, khususnya dalam ranah politik atau isu sensitif lainnya (Reuters Institute). Fenomena ini menegaskan sebuah ironi: media main stream sering dipersepsikan setara dengan konten media sosial tanpa filter— sebuah stigma yang bisa menghancurkan kepercayaan yang menjadi pondasi jurnalisme.

Di Indonesia, persoalan ini makin rumit karena literasi terhadap konten AI pun masih beragam. Sebuah survei menemukan bahwa 42 persen masyarakat Indonesia merasa tidak yakin dapat membedakan konten buatan AI dari konten asli di media sosial, sekaligus menunjukkan dampak AI terhadap persepsi publik terhadap berita. Ketidaktahuan ini membuka peluang bagi konten palsu untuk merajalela — masalah yang bahkan mesin canggih pun tidak mampu menyelesaikan tanpa campur tangan manusia yang beretika.

Namun di balik tantangan tersebut, ada kekuatan yang tak tergantikan mesin: liputan on the ground — kehadiran fisik wartawan di lapangan, naluri jurnalistik saat menelusuri konflik sosial, investigasi mendalam tentang agraria atau pelanggaran hak asasi manusia, serta narasi human interest yang sarat emosi dan empati — semua itu berada di luar jangkauan algoritma.

Di sisi lain, media juga tak bisa menutup mata terhadap realitas baru. Banyak redaksi di seluruh dunia kini mulai menjajaki strategi adaptif: memperkuat konten video, infografis, serta narasi visual lainnya yang lebih cocok dengan ekosistem media sosial — bahkan menempatkan wartawan sebagai figur publik yang berbicara langsung kepada audiens. Transformasi ini, seperti yang juga terlihat di pasar Amerika Serikat, menjadi upaya media arus utama memenangkan kembali ruang perhatian publik yang makin terfragmentasi oleh AI dan algoritma platform sosial.

Apa yang memisahkan jurnalisme dari sekadar produksi konten skala besar adalah etika dan tugas moralnya. AI, secerdas apa pun, tidak memiliki emosi, nurani, atau kode etik profesi. Inilah roh jurnalistik yang harus terus dijaga —bukan hanya sebagai penyerang, tetapi sebagai penjernih informasi di tengah banjir konten digital.

Menjawab pertanyaan zaman bukan berarti tunduk pada teknologi. Justru, jurnalisme harus menunjukkan bahwa perannya tak tergantikan: melaporkan kebenaran dengan hati nurani, menafsirkan fakta dengan kesadaran etis, dan menyuarakan suara yang tak terdengar oleh mesin. Ini bukan sekadar strategi bertahan; ini adalah panggilan peradaban. (***)

Berita Terkait

Hari Raya Galungan: Ketika Kemenangan Dharma Menemukan Ruang Sunyi dalam Pikiran
Bapak-ibuisme yang Tak Pernah Usai
Dari Anjing Penjaga ke Kambing Penyusu
Pajak Tinggi, Layanan Publik, dan Kemandirian Ekonomi

Berita Terkait

Sabtu, 7 Februari 2026 - 19:18 WIB

Pers Hari Ini, Antara Kegampangan dan Kegamangan

Senin, 17 November 2025 - 07:31 WIB

Hari Raya Galungan: Ketika Kemenangan Dharma Menemukan Ruang Sunyi dalam Pikiran

Senin, 1 September 2025 - 16:50 WIB

Bapak-ibuisme yang Tak Pernah Usai

Minggu, 4 Mei 2025 - 09:01 WIB

Dari Anjing Penjaga ke Kambing Penyusu

Selasa, 5 November 2024 - 17:03 WIB

Pajak Tinggi, Layanan Publik, dan Kemandirian Ekonomi

Berita Terbaru

Petugas pada Kejaksaan Agung menggiring tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi penyimpangan dalam kegiatan ekspor crude palm oil (CPO) dan produk turunannya tahun 2022–2024 di Gedung Jampidsus Kejaksaan Agung, Jakarta, Selasa (10/2/2026). (KM)

HUKUM

Rekayasa HS Code Jadi Modus Penyimpangan Ekspor CPO

Selasa, 10 Feb 2026 - 23:44 WIB