Pendaki Wajib Tahu, Ini Kesalahan Umum Saat Menjaga Suhu Tubuh di Gunung

Rabu, 24 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dosen PPDS UMY, dr. Yusda Kris Sari Wijaya, Sp.An-TI.,

Dosen PPDS UMY, dr. Yusda Kris Sari Wijaya, Sp.An-TI.,

JENDELANUSANTARA.COM, Persiapan pendakian tidak hanya berkaitan dengan kesiapan fisik dan mental, tetapi juga perlengkapan yang digunakan selama berada di alam terbuka. Namun, masih banyak pendaki, terutama pemula, yang belum memahami bahwa pemilihan pakaian dan cara menjaga suhu tubuh dapat berpengaruh besar terhadap keselamatan selama pendakian, khususnya saat menghadapi cuaca dingin ekstrem.

Dosen Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesiologi dan Terapi Intensif Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr. Yusda Kris Sari Wijaya, Sp.An-TI., menjelaskan bahwa prinsip utama dalam mencegah hipotermia adalah menghambat hilangnya panas tubuh. Kehilangan panas dapat terjadi melalui proses konduksi, konveksi, dan radiasi yang dapat mempercepat penurunan suhu tubuh apabila tidak diantisipasi dengan baik.

“Kalau kita bicara prinsip penanganan, yang paling penting adalah menghambat kehilangan panas. Banyak orang tidak sadar bahwa pakaian basah justru mempercepat tubuh menjadi dingin. Karena itu, langkah awal yang harus dilakukan adalah mengeringkan tubuh, mengganti pakaian basah, lalu mengisolasi panas tubuh menggunakan thermal blanket atau perlengkapan serupa,” ujar dr. Yusda dalam wawancara daring, Selasa (23/6).

Menurutnya, salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan pendaki adalah membiarkan tubuh tetap dalam kondisi lembap setelah kehujanan atau berkeringat. Kondisi tersebut mempercepat hilangnya panas karena air menghantarkan suhu dingin lebih cepat ke permukaan kulit.

Selain itu, pemilihan bahan pakaian juga menjadi faktor penting yang kerap diabaikan. Bahan katun dinilai kurang ideal untuk aktivitas pendakian karena mudah menyerap keringat dan mempertahankan kelembapan, sehingga membuat tubuh lebih cepat kehilangan panas.

“Pakaian berbahan katun menyerap keringat dan sulit cepat kering. Ketika basah, tubuh akan lebih mudah kehilangan panas. Karena itu, lebih disarankan menggunakan bahan yang mampu mengisolasi suhu dan cepat kering, seperti dry fit atau bahan sintetis lainnya yang tidak menahan kelembapan di tubuh,” jelasnya.

Untuk membantu menjaga suhu tubuh, pendaki juga dapat memanfaatkan sumber panas eksternal, seperti gel warmer atau botol berisi air hangat. Namun, penggunaannya harus disesuaikan dengan kondisi korban, terutama tingkat kesadarannya.

“Minuman hangat dapat diberikan jika korban masih sadar penuh. Namun, jika kesadarannya mulai menurun, jangan memaksakan memberi makan atau minum karena berisiko masuk ke saluran napas dan menimbulkan komplikasi lain,” tegas dr. Yusda.

Ia juga mengingatkan bahwa masih banyak pendaki yang menganggap pendakian sebagai aktivitas ringan sehingga kurang mempersiapkan perlengkapan secara optimal. Padahal, kondisi cuaca dan medan di gunung dapat berubah dengan cepat serta membutuhkan kesiapan yang memadai.

“Masih ada yang mendaki hanya dengan perlengkapan seadanya atau menggunakan pakaian yang sebenarnya diperuntukkan bagi aktivitas olahraga ringan. Padahal, kondisi di gunung sangat dinamis dan sulit diprediksi. Karena itu, perlengkapan harus disesuaikan dengan medan dan kondisi cuaca, bukan sekadar mengikuti tren atau gaya,” katanya.

Dr. Yusda menegaskan bahwa pemahaman mengenai manajemen suhu tubuh merupakan bagian penting dari keselamatan pendakian. Menurutnya, perlengkapan yang tepat, kemampuan mengenali tanda-tanda hipotermia, serta respons awal yang benar dapat mengurangi risiko kondisi darurat di gunung.

“Menikmati alam memang menyenangkan, tetapi keselamatan harus tetap menjadi prioritas utama. Pengetahuan dasar tentang hipotermia dan cara menjaga suhu tubuh bisa menjadi faktor yang menentukan keselamatan pendaki,” pungkasnya.

Sumber :Humas umy

Berita Terkait

Mahasiswa UGM Edukasi Warga Pokoh Kidul Wonogiri Waspada Penipuan Digital
Harga Cabai Rawit Melonjak, Tembus Rp67.350 per Kilogram
Sambut HUT RI, Festival Sepakbola Sugiat Santoso Cup Hadir di Langkat
FJI Kecam Dugaan Konten Tukar Hafalan Al-Qur’an dengan Miras, Minta Polisi Bertindak Profesional
Bekasi Catat 83,10 Persen Pemuda Tak Merokok, Pemkot Dorong Lingkungan Sehat
Tanamkan Kepedulian Lingkungan Sejak Dini, AMPHIBI Gelar Penghijauan di SDN 013829 Ledong Timur
Puluhan Pelajar Wonosobo Ikuti Pembinaan Paskibra, Siap Jadi Teladan Generasi Muda
Konferensi Sungai Trawas Tuai Sorotan, Sejumlah Pihak Persoalkan Aspek Prosedural

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 09:51 WIB

Mahasiswa UGM Edukasi Warga Pokoh Kidul Wonogiri Waspada Penipuan Digital

Rabu, 19 Agustus 2026 - 14:18 WIB

Harga Cabai Rawit Melonjak, Tembus Rp67.350 per Kilogram

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 13:06 WIB

Sambut HUT RI, Festival Sepakbola Sugiat Santoso Cup Hadir di Langkat

Kamis, 13 Agustus 2026 - 09:13 WIB

FJI Kecam Dugaan Konten Tukar Hafalan Al-Qur’an dengan Miras, Minta Polisi Bertindak Profesional

Minggu, 9 Agustus 2026 - 09:45 WIB

Bekasi Catat 83,10 Persen Pemuda Tak Merokok, Pemkot Dorong Lingkungan Sehat

Berita Terbaru

Nasional

Capaian Kinerja hingga September 2026 Dipaparkan Mendagri

Rabu, 16 Sep 2026 - 18:12 WIB