Pemkot Yogyakarta Perpanjang Siaga Darurat Bencana, Antisipasi Cuaca Ekstrem 

Sabtu, 13 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemkot Yogyakarta pertahankan status siaga darurat bencana karena masih terjadi hujan lebat dan angin kencang. (BPBD Jogja)

Pemkot Yogyakarta pertahankan status siaga darurat bencana karena masih terjadi hujan lebat dan angin kencang. (BPBD Jogja)

JENDELANUSANTARA.COM, Yogyakarta — Langit yang lebih sering menurunkan hujan dan angin yang datang tiba-tiba membuat Pemerintah Kota Yogyakarta memilih bersikap lebih waspada. Ancaman cuaca ekstrem yang diperkirakan masih akan berlangsung mendorong pemerintah kota memperpanjang status Siaga Darurat Bencana Banjir, Talud Longsor, dan Cuaca Ekstrem.

Keputusan itu tertuang dalam Surat Keputusan Wali Kota Yogyakarta Nomor 455 Tahun 2025, yang dilengkapi surat edaran sebagai pedoman mitigasi lintas sektor. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi yang kerap muncul bersamaan dengan peningkatan curah hujan, mulai dari genangan, banjir, pohon tumbang, hingga longsor di sejumlah titik rawan kota.

Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bidang PK & DIKK BPBD Kota Yogyakarta, Darmanto, menilai perubahan cuaca yang cepat menuntut kesiapan lebih serius. Menurut dia, karakter geografis Yogyakarta –yang mencakup wilayah perbukitan hingga dataran rendah– menyimpan kerawanan masing-masing.

“Ancaman hujan lebat, angin kencang, genangan, banjir, hingga longsor tidak bisa dipandang ringan. Setiap wilayah memiliki risikonya sendiri,” kata Darmanto, Sabtu (13/12/2025).

Dalam beberapa pekan terakhir, laporan yang paling sering masuk ke BPBD adalah kejadian pohon tumbang akibat hujan deras disertai angin kencang, serta genangan air di sejumlah kawasan permukiman dan ruas jalan. Situasi ini mendorong BPBD mengaktifkan berbagai mekanisme kesiapsiagaan sejak status siaga diberlakukan.

Koordinasi lintas lembaga, relawan, hingga masyarakat diperkuat untuk memastikan respons cepat di lapangan. Informasi dan imbauan publik disampaikan secara rutin setiap pagi dan malam melalui Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalop), media sosial resmi, serta jaringan komunikasi darurat.

“Setiap laporan, baik pohon tumbang, genangan air, maupun longsor, langsung kami pantau dan tindak lanjuti,” ujar Darmanto.

Selain kawasan permukiman, perhatian juga diarahkan ke sejumlah destinasi wisata yang dinilai memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi saat cuaca ekstrem terjadi. Kawasan dengan pepohonan besar, baliho, atau yang berada di bantaran sungai masuk dalam prioritas pengawasan.

Gembira Loka Zoo dan kawasan Malioboro menjadi dua lokasi yang disebut memiliki potensi risiko lebih besar ketika hujan lebat dan angin kencang datang bersamaan. “Tidak semua titik bisa diprediksi, tetapi beberapa kawasan wisata memang tercatat lebih rentan,” kata Darmanto.

Untuk menopang kesiapsiagaan, BPBD Kota Yogyakarta mengaktifkan Posko Siaga Darurat di Jalan Tegalturi No. 12 sebagai pusat koordinasi. Peringatan dini terus disebarkan melalui Pusdalop dan media sosial, disertai pemantauan lapangan bersama relawan dan Kelompok Tangguh Bencana (KTB) di kampung-kampung.

BPBD juga melakukan pemeriksaan terhadap pohon rawan tumbang, bangunan, serta titik genangan dan longsor. Koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup dilakukan untuk penanganan pohon berisiko, sementara data cuaca dari BMKG dan debit sungai di wilayah utara DIY dipantau secara real time untuk keperluan asesmen.

Namun, Darmanto menegaskan bahwa mitigasi bencana tidak bisa hanya bergantung pada kesiapan pemerintah. Peran aktif warga menjadi kunci untuk menekan risiko.

“Pemerintah sudah menyiapkan langkah-langkah mitigasi. Kewaspadaan masyarakat sangat menentukan,” ujarnya.

Warga diimbau rutin memantau informasi resmi dari BMKG, BPBD, dan Pusdalop, serta menghindari area berisiko saat hujan lebat atau angin kencang, seperti berada di bawah pohon besar, dekat reklame, atau di bantaran sungai. Potensi bahaya seperti pohon rapuh, talud retak, atau saluran air tersumbat juga diminta segera dilaporkan.

“Keselamatan harus menjadi prioritas, baik saat beraktivitas harian maupun ketika berada di kawasan wisata. Dengan kewaspadaan bersama, risiko bencana di penghujung tahun ini diharapkan dapat ditekan,” kata Darmanto. (ihd)

Berita Terkait

Hakordia 2025 Dipusatkan di Yogyakarta, Tegaskan Komitmen Teladan Budaya
Pemkot Yogyakarta Jemput Sampah Organik Kering dari Kelurahan
306 KPM PKH di Kota Yogyakarta Diusulkan Lulus Mandiri pada 2025
Libur Nataru, Yogyakarta Dipadati Wisatawan; Warga Lokal Diminta Menepi Dulu
Bantuan Rp434 Juta Terkumpul, Pemkot Yogyakarta Siapkan Pengiriman ke Sumbar
Parkir Liar dan Sampah Meningkat, Malioboro Full Pedestrian Hadapi Banyak PR
Sekolah Lansia Jogja Diperluas, Pembelajaran Tanpa PR dan Berbasis Kemandirian

Berita Terkait

Sabtu, 10 Januari 2026 - 17:03 WIB

Hakordia 2025 Dipusatkan di Yogyakarta, Tegaskan Komitmen Teladan Budaya

Selasa, 6 Januari 2026 - 20:33 WIB

Pemkot Yogyakarta Jemput Sampah Organik Kering dari Kelurahan

Senin, 5 Januari 2026 - 19:51 WIB

306 KPM PKH di Kota Yogyakarta Diusulkan Lulus Mandiri pada 2025

Senin, 29 Desember 2025 - 18:56 WIB

Libur Nataru, Yogyakarta Dipadati Wisatawan; Warga Lokal Diminta Menepi Dulu

Sabtu, 13 Desember 2025 - 21:13 WIB

Pemkot Yogyakarta Perpanjang Siaga Darurat Bencana, Antisipasi Cuaca Ekstrem 

Berita Terbaru