Pasar Malam Ramai Pengunjung, tetapi Sepi Pembeli, Ekonom UMY Soroti Turunnya Daya Beli

Selasa, 30 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dosen Ekonomi UMY, Dyah Titis Kusuma Wardani, S.E., MIDEC., Ph.D

Dosen Ekonomi UMY, Dyah Titis Kusuma Wardani, S.E., MIDEC., Ph.D

JENDELANUSANTARA.COM, Fenomena pasar malam yang belakangan dikeluhkan sepi oleh para pedagang ternyata tidak sepenuhnya disebabkan oleh berkurangnya jumlah pengunjung. Menurut ekonom Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), persoalan utamanya justru terletak pada perubahan pola konsumsi masyarakat. Pengunjung masih datang untuk menikmati suasana, tetapi semakin selektif dalam membelanjakan uang akibat melemahnya daya beli dan perubahan perilaku konsumsi di era digital.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMY, Diah Setyawati Dewanti, S.E., M.Sc., Ph.D., menjelaskan bahwa menurunnya transaksi di pasar malam dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni melemahnya daya beli masyarakat dan bergesernya perilaku konsumen menuju ekosistem digital.

“Kalau kita lihat, masyarakat sebenarnya masih datang ke pasar malam. Namun, yang berubah adalah perilaku belanjanya. Mereka datang untuk menikmati suasana, tetapi pengeluaran konsumsi di lokasi justru menurun,” ujarnya saat diwawancarai secara daring, Selasa (30/6).

Menurut Diah, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa jumlah pengunjung di berbagai pasar malam relatif stabil. Namun, para pelaku UMKM justru mengeluhkan pendapatan yang terus menurun. Kondisi ini terjadi karena banyak pengunjung memilih membawa makanan dan minuman dari rumah atau sekadar berjalan-jalan tanpa melakukan pembelian. Fenomena tersebut, menurutnya, lebih mencerminkan melemahnya kemampuan masyarakat dalam berbelanja dibandingkan menurunnya minat terhadap pasar malam.

“Preferensi masyarakat untuk datang sebenarnya tidak banyak berubah. Yang berubah adalah kemampuan dan keputusan mereka untuk mengeluarkan uang ketika berada di sana,” jelasnya.

Diah menambahkan bahwa kenaikan berbagai biaya hidup turut memengaruhi perilaku tersebut. Mulai dari biaya transportasi, retribusi kawasan hiburan, hingga harga makanan yang semakin mahal membuat masyarakat semakin berhati-hati dalam mengatur pengeluaran.

“Kondisi ekonomi rumah tangga membuat masyarakat lebih memilih menikmati hiburan tanpa harus berbelanja. Ini menjadi tantangan serius bagi para pelaku UMKM yang menggantungkan pendapatan dari aktivitas pasar malam,” katanya.

Ia mengingatkan, apabila tren ini terus berlangsung, dampaknya tidak hanya dirasakan para pedagang, tetapi juga dapat memengaruhi perekonomian daerah secara lebih luas. Penurunan permintaan akan menekan pendapatan pelaku usaha, memperlambat aktivitas ekonomi lokal, hingga berpotensi memunculkan _poverty trap_ atau lingkaran kemiskinan apabila tidak segera diantisipasi.

“Kalau permintaan terus menurun, pendapatan pelaku usaha ikut turun. Dalam jangka menengah dan panjang, kondisi ini dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi daerah bahkan memunculkan _poverty trap_ apabila tidak segera diantisipasi,” ungkapnya.

Meski demikian, Diah optimistis pemerintah tidak akan tinggal diam menghadapi kondisi tersebut. Ia meyakini berbagai program pengembangan ekonomi lokal akan terus diperkuat, termasuk melalui pendampingan UMKM agar mampu beradaptasi dengan perubahan pasar. Menurutnya, digitalisasi menjadi salah satu solusi penting. Pelaku usaha tidak lagi bisa hanya bergantung pada keramaian pasar malam, tetapi juga perlu memperluas pemasaran melalui berbagai platform digital.

“Pendampingan UMKM menuju bisnis digital menjadi sangat penting agar ketahanan ekonomi mereka tetap terjaga di tengah perubahan perilaku konsumen,” katanya.

Selain faktor ekonomi, Diah menilai perkembangan teknologi digital juga semakin memengaruhi keberlangsungan hiburan tradisional. Berdasarkan berbagai data konsumsi nasional, masyarakat kini mengalokasikan pengeluaran yang semakin besar untuk layanan digital, aplikasi, hiburan daring, hingga _gaming_.

Akibatnya, pasar malam harus bersaing dengan berbagai bentuk hiburan yang lebih praktis dan mudah diakses melalui gawai. Meski demikian, Diah meyakini pasar malam masih memiliki prospek yang baik apabila mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

“Menurut saya, pasar malam masih memiliki masa depan. Bukan berubah total, tetapi perlu melakukan transformasi sesuai dengan preferensi generasi muda,” ujarnya.

Ia menilai kebutuhan masyarakat terhadap hiburan sosial tidak akan pernah hilang. Bahkan, tren _experience-based tourism_ atau wisata berbasis pengalaman dapat menjadi peluang baru bagi pasar malam untuk kembali menarik minat pengunjung. Karena itu, ia mendorong pengelola menghadirkan konsep yang lebih interaktif dan tematik, seperti pertunjukan budaya yang dikemas secara modern, penampilan musisi lokal, hingga wahana yang mengikuti tren generasi muda.

Selain inovasi atraksi, aspek keamanan dan kenyamanan juga perlu menjadi perhatian utama. Menurut Diah, standar keselamatan wahana harus terus ditingkatkan agar pengunjung merasa aman. Ia juga menyarankan pemanfaatan teknologi digital melalui pembayaran non-tunai menggunakan QRIS, penyediaan Wi-Fi publik, sistem informasi lokasi pedagang, promosi yang lebih masif melalui media sosial, serta penguatan citra pasar malam sebagai destinasi wisata unggulan.

“Yang paling penting adalah memastikan pasar malam menjadi tempat yang aman, nyaman, dan memberikan pengalaman yang berbeda sehingga masyarakat ingin kembali datang,” tuturnya.

Di sisi lain, Diah menegaskan bahwa revitalisasi pasar malam perlu berjalan beriringan dengan upaya memperkuat daya beli masyarakat. Menurutnya, peningkatan kualitas destinasi hiburan tidak akan memberikan dampak optimal apabila kemampuan konsumsi masyarakat masih terbatas.

“Perbaikan dari sisi pasar malam harus berjalan beriringan dengan penguatan daya beli masyarakat. Dua hal ini saling berkaitan dan harus dilakukan secara sinergis agar UMKM tetap tumbuh dan ekonomi lokal semakin kuat,” pungkasnya.

Sumber : Humas Umy

Berita Terkait

Pameran Foto Palestina di UMY Hadirkan Kesaksian Langsung Jurnalis dari Gaza
UMY Gelar Palestine Through the Lens, Satukan Akademisi, Jurnalis, dan Aktivis untuk Menjaga Suara Palestina
Ketua Umum PP Tapak Suci Seleksi Langsung Penerima Beasiswa UMY, Siapkan Kader Unggul Muhammadiyah
Dari Pacitan hingga Banyuwangi, Sentakamudya UMY Sajikan Keberagaman Seni Nusantara dalam Satu Panggung

Berita Terkait

Senin, 29 Juni 2026 - 13:02 WIB

Pameran Foto Palestina di UMY Hadirkan Kesaksian Langsung Jurnalis dari Gaza

Senin, 29 Juni 2026 - 12:42 WIB

UMY Gelar Palestine Through the Lens, Satukan Akademisi, Jurnalis, dan Aktivis untuk Menjaga Suara Palestina

Senin, 29 Juni 2026 - 12:34 WIB

Ketua Umum PP Tapak Suci Seleksi Langsung Penerima Beasiswa UMY, Siapkan Kader Unggul Muhammadiyah

Minggu, 28 Juni 2026 - 12:10 WIB

Dari Pacitan hingga Banyuwangi, Sentakamudya UMY Sajikan Keberagaman Seni Nusantara dalam Satu Panggung

Berita Terbaru