JENDELANUSANTARA.COM, Yogyakarta Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat, terutama generasi Z, memperoleh dan mengonsumsi informasi. Media sosial, video pendek, siniar, buku elektronik, hingga kecerdasan buatan atau _artificial intelligence_ (AI) memungkinkan pengetahuan diakses kapan saja melalui telepon genggam. Namun, di tengah kemudahan tersebut, kebiasaan membaca buku secara utuh dan mendalam tetap perlu dijaga agar kemampuan berpikir kritis, konsentrasi, dan kreativitas tidak semakin tergerus oleh konsumsi informasi serba singkat.
Data Perpustakaan Nasional Republik Indonesia menunjukkan bahwa Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) masyarakat Indonesia pada 2024 mencapai 72,44. Angka tersebut masuk kategori sedang dan melampaui target nasional sebesar 71,3. Capaian ini menunjukkan adanya perkembangan positif dalam budaya membaca, meskipun perubahan media dan pola konsumsi informasi tetap menghadirkan tantangan baru bagi penguatan literasi.
Kepala Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Novy Diana Fauzie, S.S., M.A., menilai perubahan tersebut bukan berarti generasi Z kehilangan minat untuk belajar. Menurutnya, hal yang berubah adalah media dan cara mereka memperoleh informasi.
“Sekarang memang zamannya serba digital. Orang lebih mudah belajar melalui ponsel karena aksesnya cepat, visualnya menarik, dan algoritma membuat kita semakin betah mengonsumsi konten. Jadi, bukan semata-mata masyarakat malas membaca, tetapi cara mereka memperoleh informasi telah berubah,” ujar Novy kepada Humas UMY, Jum’at (24/7).
Menurut Novy, media digital memberikan berbagai kemudahan bagi masyarakat dalam memperoleh ilmu pengetahuan. Siniar, kelas daring, media sosial, dan buku elektronik memungkinkan siapa pun belajar tanpa dibatasi ruang dan waktu. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan berupa pola konsumsi informasi yang serba cepat dan cenderung terfragmentasi.
Seseorang yang terbiasa mengonsumsi konten digital singkat, lanjutnya, akan lebih mudah berpindah dari satu informasi ke informasi lainnya. Kebiasaan tersebut dapat memengaruhi kemampuan untuk mempertahankan konsentrasi dan memahami suatu persoalan secara mendalam.
“Kalau membaca buku, kita bisa berfokus selama satu atau dua jam pada satu topik sehingga pemahamannya lebih mendalam. Berbeda dengan media digital yang membuat kita terus berpindah dari satu informasi ke informasi lain. Akibatnya, konsentrasi dan kedalaman berpikir bisa ikut berkurang,” jelasnya.
Selain melatih konsentrasi, membaca buku juga dinilai memiliki keunggulan dalam mengembangkan daya imajinasi dan kreativitas. Saat membaca novel, misalnya, pembaca membangun sendiri gambaran mengenai tokoh, suasana, latar, dan alur cerita berdasarkan narasi yang dibaca.
Proses tersebut memberikan ruang bagi pembaca untuk berimajinasi, menafsirkan informasi, dan membangun pemahaman secara mandiri. Pengalaman itu berbeda dengan konten visual yang telah menyajikan gambaran secara langsung kepada penonton.
_AI Bukan Pengganti Sumber Asli_
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, Novy menegaskan bahwa AI tidak perlu dipandang sebagai ancaman terhadap budaya membaca. Teknologi tersebut justru dapat dimanfaatkan untuk mencari rekomendasi buku, memperoleh gambaran awal mengenai suatu topik, serta menjadi sarana berdiskusi tentang bahan bacaan.
Meski demikian, AI seharusnya hanya digunakan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti buku, jurnal, maupun sumber asli.
“AI boleh digunakan untuk membantu memahami gambaran sebuah buku atau mencari referensi. Namun, kalau ingin memperoleh pemahaman yang utuh, kita tetap harus membaca sumber aslinya. Jangan sampai kita merasa cukup hanya dengan membaca ringkasannya,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa penggunaan AI secara berlebihan, terutama dalam dunia akademik, dapat melemahkan kemampuan berpikir kritis. Risiko tersebut muncul ketika mahasiswa hanya mengandalkan jawaban atau rangkuman yang dihasilkan AI tanpa memeriksa kembali buku, jurnal ilmiah, dan sumber rujukan utama.
Menurut Novy, mahasiswa perlu memiliki kemampuan untuk membandingkan informasi, memeriksa kredibilitas sumber, memahami konteks, serta menyusun argumentasi berdasarkan hasil pembacaan sendiri. Kemampuan tersebut tidak dapat dibangun hanya dengan mengandalkan ringkasan instan.
_Mulai Membaca dari Topik yang Disukai_
Novy menambahkan, kebiasaan membaca dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari lingkungan keluarga, pola pembelajaran di sekolah, ketersediaan bahan bacaan, hingga relevansi isi buku dengan kehidupan pembaca.
Sebagian buku, terutama bacaan akademik, masih menggunakan bahasa yang kaku dan sulit dipahami. Kondisi tersebut dapat membuat generasi muda kurang tertarik, terlebih ketika mereka lebih dekat dengan isu kesehatan mental, relasi sosial, keuangan, bisnis, dan pengembangan diri.
Karena itu, ia menyarankan agar kebiasaan membaca dimulai dari bacaan yang sesuai dengan minat masing-masing. Seseorang tidak harus langsung memilih buku akademik atau bacaan yang berat, tetapi dapat mengawalinya melalui novel, komik, biografi, maupun buku pengembangan diri.
“Bacalah apa yang kita sukai terlebih dahulu. Tidak harus selesai dalam satu hari atau langsung membaca buku yang berat. Temukan satu buku yang membuat kita jatuh cinta pada aktivitas membaca. Dari situlah kebiasaan membaca akan tumbuh dengan sendirinya,” pungkasnya. (lsi)
Sumber : Humas Umy














