Maulid Nabi, Momentum Menghidupkan Keteladanan di Tengah Krisis Akhlak

Selasa, 25 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Akademisi Universitas Islam Negeri Prof KH Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Muridan. (Jennus/Dokpri)

Akademisi Universitas Islam Negeri Prof KH Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Muridan. (Jennus/Dokpri)

JENDELANUSANTARA.COM, Purwokerto — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW semestinya tidak berhenti sebagai seremoni keagamaan. Momentum tersebut dapat menjadi ruang untuk kembali menghidupkan pendidikan akhlak dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari, terutama di tengah semakin kompleksnya persoalan moral di masyarakat.

Akademisi Universitas Islam Negeri Prof KH Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Muridan, mengatakan nilai-nilai kenabian perlu direfleksikan agar tetap relevan dengan kehidupan masyarakat kontemporer.

“Makna Maulid semestinya tidak hanya berhenti pada seremoni, lantunan shalawat, atau pengisahan perjalanan hidup Rasulullah, tetapi juga mendorong refleksi terhadap relevansi nilai-nilai kenabian dalam kehidupan masyarakat kontemporer,” ujar Muridan di Purwokerto, Jawa Tengah, Selasa (25/8/2026).

Menurut dia, keteladanan Rasulullah SAW dapat diwujudkan melalui perilaku sosial, seperti kejujuran, kasih sayang, keadilan, penghormatan terhadap sesama, serta tanggung jawab moral. Nilai-nilai tersebut dinilai semakin penting di tengah munculnya berbagai persoalan akhlak, mulai dari kekerasan verbal dalam keluarga, kebiasaan menghina dan menghakimi orang lain, perundungan di ruang digital, hingga menguatnya sikap individualistis.

Muridan menjelaskan, manusia tidak hanya belajar melalui nasihat, tetapi juga melalui pengamatan terhadap perilaku orang di sekitarnya. Karena itu, pendidikan moral akan lebih efektif apabila nilai-nilai yang diajarkan juga ditunjukkan melalui tindakan nyata.

“Nilai moral akan lebih mudah hidup ketika tidak hanya disampaikan dalam bentuk kata-kata, tetapi diperlihatkan melalui tindakan nyata,” katanya.

Rasulullah SAW, lanjut dia, merupakan uswah hasanah atau teladan yang baik. Keteladanan itu dapat dilihat dalam cara beliau menghadapi perbedaan, memperlakukan keluarga, berkomunikasi dengan orang lain, merespons kesalahan, dan membangun hubungan sosial.

Namun, pendidikan keteladanan menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Generasi muda kini tidak hanya belajar dari orangtua, guru, dan tokoh agama, tetapi juga dari berbagai figur yang mereka temui melalui media sosial.

Karena itu, pendidikan akhlak, menurut Muridan, perlu dimulai dari lingkungan terdekat, terutama keluarga.

“Cara berbicara kepada pasangan, memperlakukan anak, merespons perbedaan dengan tetangga, hingga memperlakukan orang lain merupakan cerminan kualitas akhlak,” ujarnya.

Ia menilai peringatan Maulid Nabi perlu diarahkan dari sekadar kegiatan seremonial menuju perubahan perilaku. Dalam keluarga, misalnya, keteladanan Nabi dapat diwujudkan melalui kebiasaan berbicara dengan lembut. Di lingkungan pendidikan, keteladanan dapat ditunjukkan melalui guru yang konsisten mempraktikkan nilai moral. Adapun di tengah masyarakat, hal itu dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap sesama.

Sementara itu, di ruang digital, keteladanan dapat diterapkan dengan membiasakan diri memeriksa kebenaran informasi, menghindari penghinaan, dan menjaga etika dalam berkomunikasi.

Muridan menambahkan, kehidupan Nabi Muhammad SAW di tengah masyarakat yang beragam juga tetap relevan dengan kondisi masyarakat modern. Perbedaan tidak semestinya menjadi alasan untuk bermusuhan, tetapi perlu dikelola melalui sikap saling menghormati dan menjunjung adab.

“Akhlak bukan pelengkap agama. Akhlak merupakan wajah agama dalam kehidupan sosial,” katanya. (ihd)

Berita Terkait

Dukcapil Jemput Bola ke Manggarai Barat, 358 Dokumen Kependudukan Berhasil Diterbitkan
Dukcapil Bergerak Cepat Pulihkan Layanan Adminduk Pascagempa di Ngada
Mendagri Tito Dorong Sinergi Pemda dan Desa untuk Cegah Karhutla
Mendagri Tito: Bantuan Presiden untuk Korban Bencana NTT Telah Masuk dan Siap Disalurkan
Pasca Gempa NTT, Enam Tim Dukcapil Layani Warga di Pengungsian
Kemendagri Minta Pemda Fokus Kendalikan Harga Komoditas yang Naik
Rapat Bersama Prabowo, Mendagri Tito Fokus Perkuat Upaya Pencegahan Karhutla di Riau
Presiden Prabowo dan Mendagri Tito Bertolak ke Kalteng, Bahas Strategi Penanganan Karhutla

Berita Terkait

Selasa, 25 Agustus 2026 - 17:17 WIB

Maulid Nabi, Momentum Menghidupkan Keteladanan di Tengah Krisis Akhlak

Selasa, 25 Agustus 2026 - 14:52 WIB

Dukcapil Jemput Bola ke Manggarai Barat, 358 Dokumen Kependudukan Berhasil Diterbitkan

Selasa, 25 Agustus 2026 - 14:29 WIB

Dukcapil Bergerak Cepat Pulihkan Layanan Adminduk Pascagempa di Ngada

Senin, 24 Agustus 2026 - 18:24 WIB

Mendagri Tito Dorong Sinergi Pemda dan Desa untuk Cegah Karhutla

Senin, 24 Agustus 2026 - 15:12 WIB

Mendagri Tito: Bantuan Presiden untuk Korban Bencana NTT Telah Masuk dan Siap Disalurkan

Berita Terbaru