Marhaenisme Bukan Kendaraan Politik, GPM Yogyakarta Tegaskan Independensi Organisasi

Sabtu, 22 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JENDELANUSANTARA.COM, ‎JOGJA – DPC GPM Kota Yogyakarta menegaskan organisasi bukan kendaraan politik personal menyikapi pernyataan Ketua Umum DPP GPM terkait arah politik tahun 2029.
‎
Penegasan itu disampaikan menyusul pemberitaan Kompas.com pada 21 Agustus 2026 mengenai pernyataan Arya Wedakarna yang menyebut akan ikut Pak Jokowi dalam politik tersebut.
‎
DPC GPM Kota Yogyakarta menyatakan tidak sependapat apabila pernyataan tersebut dimaknai sebagai sikap politik seluruh organisasi dan kader Gerakan Pemuda Marhaenis secara nasional.
‎
“Persoalannya bukan semata siapa yang didukung, tetapi bagaimana menjaga posisi serta marwah GPM sebagai organisasi kader berlandaskan Marhaenisme,” demikian pernyataan resmi mereka tersebut.
‎
Menurut DPC GPM Kota Yogyakarta, GPM tidak boleh direduksi menjadi kendaraan politik untuk kepentingan personal maupun kepentingan kekuasaan tertentu semata di masa mendatang.
‎
“Marhaenisme mengajarkan keberpihakan kepada rakyat kecil, kedaulatan politik, kemandirian ekonomi, serta perjuangan mewujudkan masyarakat berkeadilan sosial,” tegasnya dalam pernyataan sikap tersebut dalam organisasi.
‎
Karena itu, setiap sikap politik GPM dinilai harus terlebih dahulu diuji berdasarkan keberpihakan nyata terhadap kepentingan rakyat dan kaum Marhaen secara konkret langsung.
‎
“Apakah sikap tersebut berpihak kepada kepentingan rakyat, atau justru sekadar mengikuti kepentingan kekuasaan?” demikian pertanyaan kritis yang diajukan DPC GPM Yogyakarta secara terbuka.
‎
DPC GPM Kota Yogyakarta menilai dukungan politik tidak boleh diberikan otomatis hanya karena kedekatan organisasi dengan figur politik tertentu tanpa pertimbangan ideologis kuat.
‎
“Setiap pilihan politik harus memiliki dasar ideologis, programatik, dan kepentingan kerakyatan yang jelas,” tegas DPC GPM Kota Yogyakarta dalam pernyataan tersebut hari ini.
‎
Mereka juga mengingatkan, pernyataan seorang pimpinan tidak serta-merta menjadi keputusan seluruh struktur dan kader GPM di Indonesia tanpa proses musyawarah organisasi secara terbuka.
‎
Terlebih, keputusan politik organisasi semestinya melalui pembahasan serta konsolidasi yang melibatkan struktur organisasi di bawahnya secara demokratis, terbuka, dan bertanggung jawab secara menyeluruh.
‎
“GPM adalah organisasi kader. Karena itu, tradisi musyawarah, demokrasi internal, dan ruang perdebatan gagasan harus tetap dijaga,” ujar DPC GPM kini secara tegas dalam organisasi.
‎
DPC GPM Kota Yogyakarta menegaskan tidak ingin identitas organisasi hilang hanya karena terseret arus politik elektoral dan politik figur tertentu GPM Kota Yogyakarta.
‎
“GPM harus menjadi organisasi kader yang kritis, bukan sekadar organisasi pendukung kekuasaan,” tegas mereka dalam pernyataan sikap resmi tersebut kepada publik secara terbuka.
‎
DPC GPM Kota Yogyakarta menyatakan terbuka terhadap siapa pun dan kekuatan politik mana pun yang memiliki komitmen terhadap kepentingan rakyat secara nyata bagi rakyat.
‎
Namun, keterbukaan tersebut ditegaskan bukan berarti GPM harus kehilangan sikap kritis, independensi, serta keberanian menyampaikan evaluasi terhadap kekuasaan secara terbuka secara kritis terbuka.
‎
“Ukuran keberpihakan bukanlah siapa tokohnya, melainkan apa gagasannya, kebijakannya, dan manfaat nyata bagi rakyat Marhaen,” kata DPC GPM Kota Yogyakarta secara tegas untuk rakyat.
‎
DPC GPM Kota Yogyakarta menyerukan seluruh keputusan politik membawa nama organisasi dikembalikan kepada musyawarah, demokrasi, Marhaenisme, serta kepentingan rakyat secara konsisten dan demokratis.
‎
“GPM harus berdiri di tengah rakyat, bukan berdiri di belakang kekuasaan. GPM harus menjadi organisasi kader yang kritis,” pungkas mereka tegas kepada publik.(waw)

Berita Terkait

Karnaval Panjang Mulud Jadi Perhatian, Andra Soni Dorong Masuk Agenda Budaya
Pemerintah Kota Yogyakarta Dukung Simfoni 1001 Pembatik 2026, Kenalkan Seni Batik kepada Anak Sejak Dini
Simfoni 1001 Pembatik 2026 Meriahkan Malioboro, Ribuan Tangan Hidupkan Batik di Jantung Yogyakarta
Polresta Yogyakarta Ungkap Hasil Penyelidikan Dugaan Pungli dan Pemerasan Bolosego di Alun-Alun Kidul
Listyo Sigit ke KSP, Guru Besar UMY Tekankan Mekanisme Kelembagaan Jaga Independensi Polri
Gastronomi Jadi Fokus Kemenpar untuk Perkuat Pariwisata Berkualitas
Pakar Ekonomi UMY Soroti Risiko Fiskal Pengelolaan Utang Whoosh oleh Kemenkeu
Pakar UMY Ungkap Celah Tata Kelola di Balik Kasus Korupsi Pertanahan

Berita Terkait

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 15:01 WIB

Karnaval Panjang Mulud Jadi Perhatian, Andra Soni Dorong Masuk Agenda Budaya

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Pemerintah Kota Yogyakarta Dukung Simfoni 1001 Pembatik 2026, Kenalkan Seni Batik kepada Anak Sejak Dini

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 09:39 WIB

Simfoni 1001 Pembatik 2026 Meriahkan Malioboro, Ribuan Tangan Hidupkan Batik di Jantung Yogyakarta

Jumat, 2 Oktober 2026 - 18:18 WIB

Polresta Yogyakarta Ungkap Hasil Penyelidikan Dugaan Pungli dan Pemerasan Bolosego di Alun-Alun Kidul

Jumat, 2 Oktober 2026 - 13:54 WIB

Listyo Sigit ke KSP, Guru Besar UMY Tekankan Mekanisme Kelembagaan Jaga Independensi Polri

Berita Terbaru