JENDELANUSANTARA.COM, Sleman – Seekor anak gajah sumatera liar nyaris kehilangan nyawanya setelah diduga terjerat selama sekitar dua pekan di Bentang Alam Bukit Tigapuluh, Jambi.
Satwa dilindungi itu ditemukan dengan luka menganga pada kaki sebelum akhirnya dievakuasi dan mendapat perawatan intensif.
Berdasarkan penelusuran Geopix kepada BKSDA Jambi, lokasi kejadian disebut berada di kawasan konsesi PT LAJ yang dimiliki Michelin Group.
Geopix mengapresiasi tim gabungan BKSDA Jambi, Frankfurt Zoological Society (FZS), serta pihak terkait yang berhasil menyelamatkan anak gajah tersebut.
”Setelah mendapatkan perawatan yang memadai, kondisinya berangsur membaik dan telah kembali bergabung dengan induk serta kelompoknya,” demikian keterangan Geopix.
Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati, menilai insiden ini menjadi bukti ancaman terhadap habitat gajah sumatera belum berakhir.
”Hanya selisih empat hari setelah kelahiran Nona Seroja di Taman Nasional Tesso Nilo, kita kembali menyaksikan seekor anak gajah liar harus menyabung nyawa akibat jerat yang dipasang di dalam wilayah konsesi PT LAJ, Jambi,” ujarnya.
”Hal ini semakin membuktikan bahwa ancaman terhadap habitat gajah sumatera tidaklah surut. Salah satu ‘rumah’ gajah sumatera di Bentang Alam Bukit Tigapuluh semakin tidak aman,” sambungnya.
Geopix juga kembali menyoroti keberadaan pagar listrik sepanjang sekitar 70 kilometer di kawasan konsesi PT LAJ, dengan sekitar 46,6 kilometer berada di dalam Wildlife Conservation Area (WCA).
Menurut Geopix, pagar listrik tersebut sebelumnya telah menewaskan gajah bernama Umi pada akhir 2024 dan memutus koridor jelajah gajah.
”Kini ditambah lagi bahaya besar berikutnya berupa jerat yang menghantui pergerakan gajah sumatera di bentang alam tersebut,” tegas Annisa.
Geopix menilai Michelin Group harus mengambil tanggung jawab lebih besar dalam melindungi habitat satwa liar di wilayah konsesinya.
”Peristiwa ini menunjukkan salah satu kegagalan Michelin Group dalam memenuhi janjinya untuk melindungi habitat gajah sumatera,” kata Annisa.
Ia menambahkan, “Michelin Group tidak boleh melakukan pembiaran dan melepas tanggung jawabnya untuk secara aktif melindungi habitat dan jalur jelajah gajah di Bentang Alam Bukit Tigapuluh.
Jika hal tersebut tidak dapat dilakukan, sebaiknya berhenti mempromosikan komoditas karetnya sebagai green rubber di pasar ban dunia.”
Bentang Alam Bukit Tigapuluh merupakan salah satu benteng terakhir bagi gajah sumatera, sekaligus habitat penting bagi harimau sumatera dan orangutan.
Geopix menyebut populasi gajah di kawasan itu kini diperkirakan tinggal tidak lebih dari 129 ekor, dari sekitar 1.200 ekor gajah sumatera yang tersebar di 21 kantong populasi di Pulau Sumatera.
Organisasi tersebut mendesak seluruh pemangku kepentingan memperkuat perlindungan habitat agar ancaman pagar listrik, jerat, dan fragmentasi hutan tidak terus menggerus kelangsungan hidup satwa langka tersebut.(WAW)














