JENDELANUSANTARA.COM, New York — Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyampaikan rasa syukur atas berlanjutnya kembali gencatan senjata di Jalur Gaza setelah sempat terjadi pelanggaran pada akhir pekan lalu. PBB menyebut, situasi yang kembali tenang itu memungkinkan distribusi bantuan kemanusiaan dilanjutkan kepada ribuan keluarga yang terdampak konflik.
“Kami sangat senang bahwa kedua belah pihak telah menegaskan kembali komitmen mereka untuk mengimplementasikan gencatan senjata di Gaza dan memuji upaya-upaya gigih para mediator,” ujar Stephane Dujarric, Juru Bicara Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB, Antonio Guterres, di New York, Senin (20/10/2025).
Dujarric menambahkan, PBB tetap prihatin atas laporan kekerasan yang masih terjadi di beberapa wilayah Gaza. Ia mendesak Israel dan kelompok perlawanan Palestina Hamas untuk mematuhi komitmen gencatan senjata, melindungi warga sipil, dan menghindari tindakan yang dapat memicu permusuhan baru atau mengganggu operasi kemanusiaan.
“Kami menegaskan kembali seruan Sekretaris Jenderal untuk pengembalian jenazah semua sandera yang meninggal,” kata Dujarric.
Bantuan Kemanusiaan Kembali Mengalir
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan bahwa mitra-mitra kemanusiaan berhasil kembali menyalurkan paket makanan kepada ribuan keluarga di Deir al-Balah dan Khan Younis — wilayah yang sebelumnya sulit dijangkau akibat blokade dan pertempuran.
Israel, pada Minggu (19/10), dilaporkan mengizinkan PBB mengerahkan pemantau di perlintasan Kissufim. Langkah tersebut disambut baik oleh OCHA karena akan meningkatkan transparansi dan visibilitas dalam jalur distribusi bantuan kemanusiaan.
Wakil Sekjen PBB untuk Urusan Kemanusiaan dan Koordinator Bantuan Darurat, Tom Fletcher, baru saja menyelesaikan kunjungannya ke Jalur Gaza. Dalam kunjungan pada Sabtu (18/10), Fletcher meninjau pusat nutrisi Dana Anak-Anak PBB (UNICEF) dan proyek pembukaan jalan oleh Program Pembangunan PBB (UNDP). Ia meninggalkan wilayah Gaza pada hari yang sama melalui perlintasan Kerem Shalom atau Karem Abu Salem.
Pertemuan dengan Mahmoud Abbas
Pada Minggu (19/10), Fletcher bertemu Presiden Palestina Mahmoud Abbas di Ramallah. Dalam pertemuan itu, keduanya membahas kebutuhan kemanusiaan mendesak di Gaza serta skema peningkatan bantuan selama 60 hari ke depan.
OCHA menyebut, pertemuan juga menyoroti pentingnya menjaga keberlangsungan gencatan senjata, membahas kondisi di Tepi Barat, serta mencari jalan menuju perdamaian jangka panjang antara Israel dan Palestina.
Sehari kemudian, di Yerusalem, Fletcher bertemu dengan tim kemanusiaan PBB di wilayah Palestina yang diduduki, terdiri atas 15 badan PBB dan sekitar 200 organisasi nonpemerintah lokal dan internasional.
Dalam kesempatan itu, Fletcher bersama Minderoo Foundation dari Australia mengumumkan kontribusi sebesar 10 juta dolar Australia atau sekitar Rp108 miliar. Dana tersebut akan digunakan untuk memperkuat operasi kemanusiaan PBB di Gaza dalam kerangka rencana 60 hari bantuan.
Kekerasan di Tepi Barat
Sementara itu, OCHA juga melaporkan meningkatnya kekerasan oleh pemukim Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat. Dalam periode 7–13 Oktober, tercatat 71 serangan yang menimpa warga di 27 desa, sebagian besar terjadi di tengah musim panen zaitun.
Serangan itu meliputi penyerangan terhadap pemanen, pencurian hasil panen dan peralatan, serta perusakan pohon zaitun. Insiden tersebut mengakibatkan sejumlah korban dan kerusakan properti warga.
PBB menegaskan, perlindungan warga sipil di seluruh wilayah pendudukan Palestina harus menjadi prioritas utama demi mencegah siklus kekerasan yang berulang dan membuka ruang bagi proses perdamaian yang lebih stabil. (ihd)













