JENDELANUSANTARA.COM, Bandung – Abah Ade tak pernah mengira hujan yang turun syahdu sejak siang, Minggu, 25 Januari, akan menjadi penanda akhir dari hidup yang selama puluhan tahun ia jaga. Lelaki 60 tahun itu terbangun dini hari oleh getaran hebat yang membuat rumahnya berguncang dalam gelap. Sunyi pegunungan Kampung Pasir Kuning, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, pecah seketika oleh suara gemuruh—seperti baling-baling helikopter atau pesawat besar yang melintas terlalu rendah.
Ketika keluar rumah, Abah Ade melihat air bah bercampur lumpur meluncur dari perbukitan. Kayu, tanah, dan puing bangunan hanyut bersamanya. Semua terjadi terlalu cepat, nyaris tanpa jeda bagi siapa pun untuk menyelamatkan diri. “Suaranya besar sekali, seperti helikopter atau pesawat di atas rumah. Saya lihat langsung air turun dari atas,” katanya, pelan.
Sebagai Ketua RT 05 Kampung Pasir Kuning, naluri Abah Ade bergerak mendahului rasa takut. Dalam hujan deras dan gelap yang menutup pandangan, ia berlari menyusuri kampung yang perlahan lenyap. Teriakan minta tolong bersahutan, namun arus yang meninggi membuat upaya penyelamatan nyaris tak berdaya. Ia menyaksikan sendiri warganya memohon pertolongan, lalu hilang satu per satu terseret air bah di depan mata. “Saya lihat sendiri, minta tolong, lalu hilang begitu saja,” ujarnya lirih.
Di RT 05 yang dihuni 23 kepala keluarga, bencana itu hanya menyisakan dua keluarga yang selamat. Kampung yang ditempati puluhan tahun mendadak berubah menjadi hamparan lumpur tak berbatas. Sekitar 70 orang dinyatakan hilang. Rumah Abah Ade sendiri selamat, begitu pula dua anggota keluarganya. Namun ia terluka tertimpa kayu saat berusaha menolong warga lain.
Luka fisik itu perlahan pulih. Ingatan tidak. Setiap hujan deras atau suara gemuruh di kejauhan kerap menyeretnya kembali ke malam itu. Sejak bencana, Abah Ade tak sanggup kembali ke kampungnya. “Sekarang seperti laut, semuanya rata. Saya trauma dan tidak mau melihat lokasi itu lagi,” katanya.
Longsor dan air bah di Cisarua bukan hanya meratakan permukiman, tapi juga menelan banyak nyawa. Hingga Senin, 26 Januari, tim SAR gabungan mengevakuasi 25 kantong jenazah; 17 di antaranya telah teridentifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri. Lebih dari 30 rumah rusak dari total 34 kepala keluarga terdampak. Pengungsi diperkirakan lebih dari 400 orang, tersebar di sejumlah titik, memulai hidup dari nol dengan kehilangan yang belum terobati.
Di balik angka-angka itu, luka psikologis menganga. Doa dan harapan menggantung di antara ketidakpastian nasib orang-orang tercinta. Kehilangan keluarga, tetangga, dan ruang kebersamaan tak mudah dipulihkan. Ini bukan semata kisah tanah yang longsor atau bangunan yang runtuh, melainkan manusia yang harus belajar berdamai dengan kehilangan setelah kampung mereka lenyap dalam satu malam.
Pencarian korban terus berlanjut. Pada hari ketiga operasi, Senin, 26 Januari, sebanyak 65 orang masih dinyatakan hilang, diduga tertimbun material longsoran di Kampung Pasir Kuning. Basarnas mengerahkan sembilan excavator dan tujuh pompa air untuk membuka akses dan mengeruk lumpur. Hampir 1.000 personel gabungan—Basarnas, TNI, Polri, BPBD, relawan, dan pemerintah daerah—turun ke lapangan. Dua belas anjing pelacak K-9 menyisir sektor-sektor pencarian yang dipetakan ulang berdasarkan laporan warga.
Di antara deru alat berat dan lumpur yang tak henti dikeruk, harapan tetap diselipkan. Bukan hanya untuk menemukan korban, tetapi untuk mengembalikan sedikit ketenangan bagi mereka yang ditinggalkan —agar gemuruh dari bukit itu tak sepenuhnya mengubur masa depan. (ihd)














