Gempa M7,7 Melanda NTT, Mahasiswa KKN UMY Petakan Kebutuhan Mendesak Warga

Minggu, 16 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JENDELANUSANTARA.COM, Nusa Tenggara Timur – Gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8) turut berdampak pada masyarakat di Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, termasuk Kelurahan Pota dan Desa Nanga Mbaling. Pascagempa, sejumlah fasilitas dan aktivitas masyarakat terganggu, sementara warga terdampak masih membutuhkan bantuan medis, logistik, dan kebutuhan dasar lainnya.

Fifin Anggela Prista, anggota Tim Proyek Ekspedisi Nusantara (PENA) 11 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang sedang menjalankan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Nanga Mbaling, mengatakan sejumlah warga mengalami luka dengan tingkat keparahan yang beragam. Namun, penanganan di lokasi belum dapat dilakukan secara optimal karena keterbatasan obat-obatan dan peralatan medis.

“Pasar, pusat perbelanjaan, dan layanan medis di kecamatan ini sudah lumpuh. Banyak masyarakat yang terdampak mengalami luka ringan, sedang, bahkan luka berat yang belum tertangani karena keterbatasan obat-obatan dan alat medis yang kami bawa. Saat ini, kebutuhan terhadap dukungan medis dan logistik masih sangat besar, terutama untuk membantu penanganan warga yang terdampak,” ungkap Fifin kepada Humas UMY, Minggu (16/8).

Warga Mengungsi, Logistik dan Air Minum Dibutuhkan

Keterbatasan fasilitas juga berdampak pada pemenuhan kebutuhan sehari-hari masyarakat. Menurut Fifin, warga di Kelurahan Pota dan kawasan pesisir sekitarnya telah mengungsi dan mendirikan tenda secara mandiri. Kerusakan pada pusat perbelanjaan juga menyebabkan masyarakat kesulitan memperoleh bahan makanan.

“Di Kelurahan Pota, masyarakat yang berada di wilayah pesisir dan sekitarnya terdampak cukup luas. Mereka sudah mengungsi dan membuat tenda secara mandiri di sekitar posko yang kami dirikan. Kondisi pusat perbelanjaan juga hampir rata, sehingga masyarakat kesulitan untuk membeli bahan makanan. Karena itu, kebutuhan yang saat ini sangat diperlukan adalah logistik, alat medis, dan air minum,” jelasnya.

Penyaluran bantuan ke wilayah terdampak juga menghadapi kendala akses. Fifin menjelaskan, jalan menuju kelurahan masih dapat dilalui, tetapi sejumlah akses menuju wilayah lain di kabupaten mengalami kerusakan. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam mobilisasi bantuan dan pemenuhan kebutuhan warga di lokasi pengungsian.

Pota dan Nanga Mbaling tercatat berada di Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, NTT. Gempa M 7,7 pada Sabtu pagi tersebut juga berdampak luas di sejumlah wilayah NTT. UMY sebelumnya memastikan 61 mahasiswa KKN yang berada di NTT dalam kondisi selamat.

Program KKN Dialihkan untuk Kerelawanan Kebencanaan

Di tengah kondisi tersebut, Tim PENA 11 UMY yang sedang menjalankan program KKN di Desa Nanga Mbaling turut berkoordinasi dengan masyarakat dan pemerintah setempat untuk membantu penanganan darurat. Saat gempa terjadi, mahasiswa bersama warga sempat dievakuasi ke lapangan selama sekitar dua jam sebelum kemudian mendirikan tenda di sekitar posko KKN.

Situasi pascagempa juga membuat Tim PENA 11 menyesuaikan program KKN dengan kebutuhan masyarakat di lapangan. Fifin menuturkan, sejumlah program kerja yang sebelumnya telah direncanakan akan dialihkan menjadi kegiatan kerelawanan kebencanaan dengan tetap berkoordinasi bersama dosen pembimbing lapangan (DPL) dan pihak setempat.

“Kami akan mengalihkan program kerja menjadi relawan kebencanaan sesuai dengan koordinasi bersama DPL. Untuk saat ini, kami akan berusaha membantu sesuai dengan kemampuan yang ada dan kebutuhan masyarakat di lapangan. Kami berharap situasi segera membaik sehingga masyarakat dapat kembali menjalani aktivitas seperti semula,” tutur Fifin.

Tim PENA 11 UMY selanjutnya akan terus berkoordinasi dengan masyarakat, pemerintah setempat, dan pihak terkait untuk mendukung penanganan warga selama masa tanggap darurat. Ketersediaan bantuan medis, obat-obatan, peralatan kesehatan, bahan pangan, air minum, serta kebutuhan dasar pengungsi menjadi kebutuhan mendesak agar penanganan masyarakat terdampak dapat berlangsung lebih optimal. (lsi)

Sumber : Humas Umy

Berita Terkait

RAPBN 2027, Ekonom UMY: Tambahan Anggaran K/L Harus Berdampak pada Ekonomi
Guru Besar UMY Soroti Pergeseran Orientasi Ormas: dari Perjuangan Nilai ke Kepentingan Politik
Demo Yogyakarta Ricuh, Guru Besar UMY Soroti Krisis Kepercayaan terhadap Hukum
UMY Perkuat Jejaring Pendidikan Internasional bersama Dubes RI untuk Tunisia
Dubes RI untuk Tunisia di UMY: Diplomasi adalah Seni Membangun Persahabatan
KKN UMY Bantu Warga Mola Wakatobi Kelola Sampah dengan Teknologi Tepat Guna
Sambut Mahasiswa Baru 2026, UMY Tegaskan Kampus Aman dan Bebas Kekerasan
Karhutla Kalimantan Meluas, Pakar UMY: El Niño Perparah Kekeringan, Aktivitas Manusia Jadi Pemicu Utama

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 13:23 WIB

RAPBN 2027, Ekonom UMY: Tambahan Anggaran K/L Harus Berdampak pada Ekonomi

Kamis, 3 September 2026 - 15:11 WIB

Guru Besar UMY Soroti Pergeseran Orientasi Ormas: dari Perjuangan Nilai ke Kepentingan Politik

Kamis, 3 September 2026 - 15:02 WIB

Demo Yogyakarta Ricuh, Guru Besar UMY Soroti Krisis Kepercayaan terhadap Hukum

Rabu, 2 September 2026 - 13:12 WIB

UMY Perkuat Jejaring Pendidikan Internasional bersama Dubes RI untuk Tunisia

Rabu, 2 September 2026 - 11:50 WIB

Dubes RI untuk Tunisia di UMY: Diplomasi adalah Seni Membangun Persahabatan

Berita Terbaru