JENDELANUSANTARA.COM, Jogja – Ratusan peserta dipastikan ambil bagian dalam gelaran “Harmoni Sehat dalam Balutan Tradisi” yang akan digelar pada Minggu, 25 April 2026.
Kegiatan ini menjadi momentum unik memperingati Hari Kartini dengan cara berbeda—menggabungkan pelestarian budaya dan gaya hidup sehat.
“Ini bukan sekadar jalan sehat, tetapi gerakan budaya yang menyentuh kesadaran kolektif masyarakat,” ujar panitia, Jum’at (3/4/2026).
Empat komunitas besar yakni Komunitas Kebaya Indonesia (KKI), Perkumpulan Srikandi Kreatif Indonesia (PERSIKINDO), Pecinta Budaya dan Busana Nusantara (PPBN), dan Pria Bersurjan bersinergi dalam kegiatan ini.
Mereka berkomitmen menghidupkan kembali kecintaan terhadap busana adat melalui aktivitas yang dekat dengan masyarakat.
“Kolaborasi ini menunjukkan budaya bisa dirawat bersama lintas komunitas,” ungkap salah satu perwakilan penyelenggara.
Kegiatan Fun Walk ini mengambil rute bersejarah dari Lodji Paris di Jalan Parangtritis menuju Situs Panggung Krapyak.
Seluruh peserta diwajibkan mengenakan busana adat Jawa—kebaya bagi perempuan dan surjan bagi laki-laki.
“Kami ingin menghadirkan pengalaman berbeda, berjalan santai sambil merasakan nilai sejarah Yogyakarta,” kata panitia.
Pemilihan rute bukan tanpa makna. Selain sebagai sarana olahraga, kegiatan ini menjadi bentuk napak tilas budaya di kawasan yang memiliki nilai historis tinggi dalam garis imajiner Yogyakarta.
“Setiap langkah peserta adalah refleksi perjalanan budaya yang harus terus dijaga,” tegas panitia.
Setibanya di lokasi akhir, peserta akan disuguhi berbagai hiburan rakyat yang meriah.
Mulai dari fashion show Kartini-Kartono, tari Gedrug, jathilan, angklung, hingga line dance dan live music. Tak hanya itu, doorprize menarik juga disiapkan.
“Kami ingin semua peserta merasa terhibur sekaligus bangga dengan budayanya,” ujar panitia.
Ketua Panitia, Luky Dewi Priono, menegaskan makna mendalam kegiatan ini dalam momentum Hari Kartini.
“Perempuan adalah tonggak utama kehidupan bangsa. Melalui acara ini, kami ingin mengapresiasi semangat Kartini sekaligus menjaga warisan leluhur,” ujarnya.
Senada, Saifudin menambahkan, “Memakai surjan dan kebaya bukan hanya untuk acara formal. Ini cara kami ‘nguri-uri’ budaya agar tetap hidup dan relevan di tengah masyarakat modern.” (Andriyani)














