Dosen UMY: Inersia Birokrasi Masih Bayangi Penanganan Karhutla

Rabu, 26 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto dosen Ilmu Pemerintahan UMY, Rijal Ramdani, M.P.A., Ph.D.,

Foto dosen Ilmu Pemerintahan UMY, Rijal Ramdani, M.P.A., Ph.D.,

JENDELANUSANTARA.COM, YOGYAKARTA – Pola inersia birokrasi dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dinilai masih terjadi di Kalimantan pada 2026. Kondisi tersebut terlihat dari besarnya organisasi yang terlibat dalam penanganan karhutla. Penilaian ini disampaikan oleh dosen Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Rijal Ramdani, M.P.A., Ph.D., selaku pakar kebijakan lingkungan.

Dilansir dari situs resmi Kementerian Kehutanan, operasi pengendalian karhutla di Kalimantan hingga Jum’at (21/8) telah memasuki hari ke-48. Operasi tersebut melibatkan 12.880 personel gabungan dari berbagai unsur. Pada 19 Agustus 2026, Kementerian Kehutanan juga mendeteksi 518 hotspot berkepercayaan tinggi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Menurut Rijal, penanganan karhutla melibatkan banyak lembaga dari tingkat pusat hingga daerah. Lembaga tersebut mencakup BMKG, BNPB, TNI, Polri, Kejaksaan, BPBD, dan Manggala Agni.

Namun, banyaknya organisasi yang terlibat justru dinilai oleh Rijal dapat memperlambat proses penanganan.

Ia menjelaskan, kondisi tersebut berkaitan dengan struktur birokrasi yang besar dalam penanganan karhutla. Setiap lembaga memiliki peran dan struktur organisasi yang berbeda dalam merespons kebakaran.

Menurutnya, persoalan semakin terlihat ketika intervensi pemerintah baru dilakukan setelah kebakaran terjadi. Pola tersebut membuat penanganan lebih berorientasi pada respons dibandingkan pencegahan.

“Seharusnya aktivitas yang dilakukan itu adalah memitigasi. Misalkan dengan melakukan pembasahan terhadap lahan gambut. Karena Gambut itu rentan terbakar, maka gambut itu harus dibasahi. Caranya dengan apa? Bisa dengan membuat sekat kanal,” jelas Rijal secara daring pada Rabu (26/8).

Rijal menilai, penanganan karhutla membutuhkan perubahan orientasi dari respons menuju mitigasi sebelum kebakaran membesar. Pendekatan tersebut dapat mengurangi ketergantungan terhadap pengerahan banyak lembaga ketika kondisi sudah darurat.

Ia menyebut koordinasi lintas lembaga memang tetap diperlukan dalam penanganan karhutla. Namun, koordinasi tersebut perlu diarahkan pada pencegahan dan respons awal yang lebih cepat.

Bagi Rijal, persoalan inersia bukan semata-mata disebabkan jumlah lembaga yang terlibat. Kompleksitas koordinasi menjadi persoalan ketika banyak organisasi bekerja dalam struktur penanganan yang berlapis.

“Birokrasi yang dilibatkan itu cukup besar, karena tidak hanya pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten,” imbuhnya.

Rijal menambahkan, pola tersebut menunjukkan perlunya penguatan mekanisme pencegahan sebelum kebakaran berkembang. Dengan demikian, efektivitas penanganan tidak hanya bergantung pada kemampuan memadamkan api.

Perubahan orientasi tersebut dinilai penting oleh Rijal agar penanganan karhutla tidak terus mengulang pola yang sama. Pencegahan perlu ditempatkan sebagai bagian utama dalam tata kelola penanganan karhutla. (LSI)

Sumber : humas umy

Berita Terkait

Anggaran Pencegahan Karhutla Dinilai Minim, Pakar UMY Soroti Pola Penanganan yang Reaktif
Pertumbuhan Ekonomi 5,29 Persen, Kelas Menengah Masih Tertekan oleh Biaya Hidup
Pesawat Asing Diizinkan Tangani Karhutla, Pakar UMY Tegaskan Bukan Bentuk Pelemahan Kedaulatan
Menjaga Tawa di Tenda Duka: Langkah Kemanusiaan Mahasiswa UMY di Sambi Rampas
Desil DTSEN Bisa Berubah, Pakar UMY: Jangan Dianggap Label Mutlak Kesejahteraan
Pasien BPJS Tunggu 8 Jam di IGD RSCM, Dosen UMY Soroti Patient Flow Rumah Sakit
Bed Occupancy Rate Tinggi Belum Tentu Kekurangan Kapasitas, Ini Penjelasan Dosen UMY
Mahasiswa UMY Ubah Limbah Popok Jadi Pupuk, Raih Pendanaan beVisioneers Mercedes-Benz

Berita Terkait

Rabu, 26 Agustus 2026 - 12:00 WIB

Anggaran Pencegahan Karhutla Dinilai Minim, Pakar UMY Soroti Pola Penanganan yang Reaktif

Rabu, 26 Agustus 2026 - 11:54 WIB

Dosen UMY: Inersia Birokrasi Masih Bayangi Penanganan Karhutla

Rabu, 26 Agustus 2026 - 11:43 WIB

Pertumbuhan Ekonomi 5,29 Persen, Kelas Menengah Masih Tertekan oleh Biaya Hidup

Rabu, 26 Agustus 2026 - 11:37 WIB

Pesawat Asing Diizinkan Tangani Karhutla, Pakar UMY Tegaskan Bukan Bentuk Pelemahan Kedaulatan

Senin, 24 Agustus 2026 - 11:52 WIB

Menjaga Tawa di Tenda Duka: Langkah Kemanusiaan Mahasiswa UMY di Sambi Rampas

Berita Terbaru