Di Tengah Islamofobia, Mualaf di Amerika Meningkat Drastis Usai 9/11

Sabtu, 23 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JENDELANUSANTARA.COM, Tragedi 11 September 2001 (9/11) dinilai menjadi momen paradoksal bagi perkembangan Islam di Amerika Serikat. Di tengah gelombang kebencian terhadap Muslim yang meningkat hingga 1.600 persen, angka konversi ke Islam justru melonjak lebih dari 400 persen dalam periode yang sama.

Pernyataan tersebut disampaikan Imam Besar New York asal Indonesia, Shamsi Ali, M.A., Ph.D., dalam Rapat Senat Terbuka Penganugerahan UMY Awards 2026 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sabtu (23/5).

Sebagai tokoh Muslim Amerika Serikat yang telah menetap dan berdakwah di New York selama puluhan tahun, Shamsi Ali menyebut tragedi 9/11 sebagai titik balik yang mengubah banyak hal, termasuk cara masyarakat Amerika memandang Islam.

“9/11 adalah momentum paradoksal. Di satu sisi, komunitas Muslim menghadapi tekanan yang luar biasa berat. Di sisi lain, justru itulah titik ketika Islam tumbuh paling pesat dalam sejarah Amerika,” ujar Shamsi Ali.

Shamsi Ali menjelaskan bahwa pasca-9/11, pemerintah Amerika Serikat memberlakukan PATRIOT Act, melakukan _profiling_ terhadap Muslim asal Timur Tengah dan Asia Selatan, serta menjalankan pengawasan terhadap masjid-masjid oleh Kepolisian New York selama lebih dari satu dekade.

Data _Federal Bureau of Investigation_ (FBI), lanjutnya, mencatat kejahatan berbasis kebencian terhadap Muslim meningkat hingga 1.600 persen pada periode tersebut.

Namun, di tengah tekanan itu, tingkat konversi ke Islam justru meningkat tajam. Al-Qur’an disebut menjadi salah satu buku paling banyak dicari di Amerika Serikat. Banyak masyarakat yang sebelumnya tidak mengenal Islam mulai mencari informasi lebih dalam dan sebagian akhirnya memeluk agama tersebut.

“Setiap kali tekanan datang, Islam justru semakin dikenal. Kebencian itu tanpa sadar telah menjadi jalan dakwah yang paling efektif,” imbuhnya.

Ia menegaskan bahwa Islamofobia bukan fenomena sesaat yang lahir dari satu peristiwa. Menurutnya, ketakutan terhadap Islam di Barat memiliki akar sejarah panjang, mulai dari Perang Salib, kolonialisme, hingga konflik-konflik kontemporer yang terus membentuk narasi Islam sebagai ancaman.

Shamsi Ali menilai yang berubah hanyalah momentum dan konteksnya, bukan struktur persoalannya.

“Setiap kali ada konflik yang melibatkan dunia Islam, Muslim di Amerika selalu ditempatkan pada posisi yang sama, yakni memilih antara iman, kemanusiaan, dan loyalitas kepada negara. Ini tidak adil dan perlu diatasi dengan cara yang cerdas,” pungkasnya.

Sumber : Humas Umy

Berita Terkait

Shamsi Ali: Populasi Muslim di Amerika Capai 15 Juta Jiwa, Dua Kali Lipat Data Resmi
UMY Anugerahkan Penghargaan Tertinggi kepada Shamsi Ali, Imam Asal Indonesia di New York
Pemprov Banten Dorong Reformasi Birokrasi Lewat Perampingan OPD
OJK Batasi Multi-Akun Paylater, Pakar UMY Nilai Langkah Ini Tepat
Hipertensi Anak Meningkat di Indonesia, Dosen UMY Minta Hasil CKG Tak Langsung Disimpulkan
Di Sela Penentuan Tuan Rumah PON XXIII, Gubernur Banten Serahkan Golok Pusaka ke Kemenpora
Gubernur Andra Soni: Menjadi Tuan Rumah PON 2032 adalah Kehormatan dan Harapan Warga Banten
Lampung Perkuat Persiapan Menuju Tuan Rumah PON XXIII Tahun 2032

Berita Terkait

Sabtu, 23 Mei 2026 - 13:34 WIB

Shamsi Ali: Populasi Muslim di Amerika Capai 15 Juta Jiwa, Dua Kali Lipat Data Resmi

Sabtu, 23 Mei 2026 - 13:29 WIB

Di Tengah Islamofobia, Mualaf di Amerika Meningkat Drastis Usai 9/11

Sabtu, 23 Mei 2026 - 13:18 WIB

UMY Anugerahkan Penghargaan Tertinggi kepada Shamsi Ali, Imam Asal Indonesia di New York

Jumat, 22 Mei 2026 - 19:56 WIB

Pemprov Banten Dorong Reformasi Birokrasi Lewat Perampingan OPD

Jumat, 22 Mei 2026 - 13:42 WIB

OJK Batasi Multi-Akun Paylater, Pakar UMY Nilai Langkah Ini Tepat

Berita Terbaru