JENDELANUSANTARA.COM, Yogyakarta —Di tengah hiruk-pikuk barak pengungsian pascabencana, sebuah tindakan medis krusial dilakukan Tim Rescue Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) 2025. Seorang pasien kanker lidah stadium lanjut mendapat penanganan medis lanjutan di lokasi pengungsian, Rabu (24/12/2025), setelah lama terhenti dari pengobatan akibat keterbatasan ekonomi.
Pasien tersebut diketahui merupakan pasien lama Rumah Sakit Langsa Lama yang dua tahun lalu telah dirujuk ke RS Adam Malik Medan. Namun, proses pengobatan tidak berlanjut. Kendalanya bukan pada akses layanan kesehatan, melainkan biaya nonmedis –transportasi, akomodasi, dan kebutuhan hidup selama menjalani rujukan.
Ketua Tim Medis UMY Rescue 2025, dr. Sagiran, Sp.B(K) KL, M.Kes, mengatakan bahwa kasus ini menggambarkan persoalan klasik layanan kesehatan rujukan di daerah terdampak bencana. Meski pengobatan ditanggung BPJS Kesehatan, jarak dan kondisi ekonomi keluarga menjadi penghalang utama.
“Perjalanan dari Langsa Lama ke Medan memakan waktu sekitar 3,5 hingga 4 jam. Dalam kondisi ekonomi yang rapuh pascabencana, beban itu menjadi terlalu berat bagi pasien dan keluarga,” ujar dr. Sagiran, seperti dikutip dari laman resmi UMY.
Hasil pemeriksaan tim medis menunjukkan kanker lidah yang diderita pasien telah berkembang ke stadium lanjut. Tumor meluas melewati garis tengah lidah (midline expansion), yang secara medis dikategorikan sebagai T4. Kondisi tersebut diperberat dengan pembesaran kelenjar getah bening di leher.
“Pasien mengalami karsinoma lidah yang sudah melampaui setengah bagian lidah. Langkah awal yang dapat dilakukan adalah pengambilan kelenjar getah bening submandibula yang membesar serta biopsi massa tumor,” jelas dr. Sagiran.
Tindakan medis tersebut dilakukan melalui kolaborasi antara Tim Rescue UMY dan dokter bedah RS Langsa Lama, dr. Darwan, Sp.B. Di tengah keterbatasan fasilitas dan situasi darurat, langkah ini menjadi upaya penyelamatan sekaligus stabilisasi kondisi pasien.
“Kelenjar getah bening sudah kami ambil. Selanjutnya, biopsi massa tumor akan diperiksa di patologi anatomi untuk menentukan terapi lanjutan,” kata dr. Sagiran.
Misi kemanusiaan Tim Rescue UMY ini menegaskan pentingnya kehadiran layanan medis spesialis di wilayah terdampak bencana. Bagi pasien dengan penyakit kronis dan kritis, bencana bukan hanya soal kehilangan tempat tinggal, tetapi juga terputusnya akses pengobatan yang selama ini menopang hidup mereka.
Di barak pengungsian, kehadiran dokter spesialis menjadi penanda bahwa hak atas layanan kesehatan tetap harus dijaga—bahkan ketika jarak, biaya, dan bencana berlapis menjadi penghalang. (ihd)













