JENDELANUSANTARA.COM, Yogyakarta — Pemilik Bolosego, Mbak Dy, akhirnya memberikan klarifikasi terkait video yang sebelumnya viral di media sosial mengenai pengalaman food truck miliknya saat berjualan di kawasan Alun-Alun Kidul Yogyakarta.
Mbak Dy mengaku tidak menyangka video yang dibuatnya untuk menceritakan pengalaman pribadi tersebut mendapat perhatian luas hingga beredar di berbagai platform media sosial.
“Jujur aku tidak nyangka. Niatnya hanya bercerita apa yang aku alami, tidak dilebih-lebihkan dan tidak dikurangi, tapi benar-benar menggulungnya secepat itu, se-viral itu,” ujar Mbak Dy selaku Owner Bolosego.
Ia menyebut unggahannya kemudian direpost oleh berbagai akun di X, Threads, hingga sejumlah akun media sosial lainnya. Kondisi tersebut membuat Mbak Dy mengaku syok dan bahkan kesulitan tidur.
Menurutnya, setelah video tersebut viral, banyak pihak kemudian menghubunginya. Mulai dari media yang meminta wawancara, pihak Keraton yang disebut mencoba mengajak mediasi, hingga pihak kepolisian dari tingkat polsek maupun polres.
Namun, Mbak Dy mengatakan belum merespons komunikasi tersebut karena masih dalam kondisi kaget dengan besarnya perhatian publik terhadap persoalan yang ia ceritakan.
“Aku ki sopo gitu, hanya pengusaha UMKM yang tidak punya dekengan siapa-siapa, niatnya hanya cerita dan ternyata viral banget,” tuturnya.
Tegaskan Cerita Sesuai Pengalaman
Dalam klarifikasinya, Mbak Dy kembali menjelaskan bahwa Bolosego memang sebelumnya telah berencana berjualan menggunakan food truck di kawasan Alun-Alun Kidul.
Ia mengatakan pihaknya telah menempuh proses perizinan secara resmi. Menurut keterangannya, Bolosego telah memperoleh surat izin yang ditandatangani GKR Condrokirono dan di dalamnya tercantum lokasi, tanggal serta waktu berjualan.
Surat tersebut, kata Mbak Dy, juga telah ditembuskan kepada sejumlah pihak terkait, termasuk kepolisian.
Setelah izin diperoleh, Bolosego kemudian membuat konten promosi untuk mengumumkan rencana berjualan di Alun-Alun Kidul kepada pelanggan.
Persoalan kemudian muncul sehari sebelum kegiatan berjualan. Mbak Dy mengaku mendapat informasi dari timnya mengenai adanya permintaan biaya dari pihak paguyuban parkir.
Menurut penuturannya, angka awal yang disampaikan mencapai Rp12,5 juta untuk lima hari. Setelah dilakukan negosiasi, nominal tersebut menjadi Rp1 juta per hari atau Rp5 juta untuk lima hari.
Pada hari pertama berjualan, ia kembali mengaku mendapat permintaan biaya untuk konsumsi 10 orang yang disebut sebagai preman. Dengan perhitungan Rp20 ribu per orang selama lima hari, biaya tersebut mencapai Rp1 juta.
Dengan demikian, Mbak Dy menyebut total uang yang sempat dibayarkan di awal mencapai Rp6 juta.
Ia juga mengungkapkan bahwa pihaknya harus menggunakan genset sendiri karena tidak diperbolehkan menggunakan listrik di lokasi. Biaya solar untuk genset disebut sekitar Rp150 ribu per hari.
Klarifikasi soal Polisi
Bagian lain yang turut menjadi sorotan dalam video viral tersebut adalah cerita mengenai komunikasi dengan pihak kepolisian.
Mbak Dy menegaskan bahwa percakapan terkait permintaan konsumsi untuk anggota kepolisian memang terjadi. Ia menyebut ada komunikasi bahwa tiga anggota kepolisian akan datang dan meminta agar kebutuhan makan atau rokok diperhatikan.
Namun, ia menegaskan tidak pernah terjadi pemberian makanan kepada anggota polisi tersebut karena pada malam hari anggota yang dimaksud sudah tidak berada di lokasi.
Mbak Dy juga memberikan penjelasan agar publik tidak memahami peristiwa tersebut secara sepihak.
Menurutnya, ketika datang ke lokasi, pihak kepolisian tidak hanya berkaitan dengan persoalan konsumsi. Ia mengatakan anggota kepolisian juga sempat berupaya membantu memediasi persoalan antara Bolosego dan paguyuban parkir, termasuk terkait penggunaan listrik.
“Pas datang ke truk kita sebenarnya juga mencoba memediasi ke paguyuban parkir. Ini nggak bisa pakai listrik, kayak gitu-gitu sebenarnya membantu juga. Jadi orang yang datang terus minta makan itu nggak juga,” jelasnya.
Ia menilai persoalan tersebut menjadi sensitif karena dirinya menyebut pihak kepolisian dalam video sebelumnya. Karena itu, ia merasa perlu memberikan konteks tambahan agar informasi yang beredar tidak terpotong.
Setelah video tersebut viral, Mbak Dy mengatakan pihak paguyuban parkir kemudian memiliki itikad untuk mengembalikan sebagian uang yang sebelumnya telah dibayarkan.
Awalnya, ia mendapat informasi bahwa akan ada pengembalian sebesar Rp2 juta. Namun, uang tersebut disebut harus diambil langsung ke lokasi.
Mbak Dy kemudian meminta timnya tidak mengambil uang tersebut karena khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Pada akhirnya, menurut keterangannya, pihak paguyuban parkir mengembalikan uang sebesar Rp3 juta melalui transfer.
Meski demikian, Mbak Dy kembali menegaskan bahwa persoalan utama yang ingin disampaikannya bukan mengenai nominal uang.
“Yang kami permasalahkan bukan nominal itu, tapi lebih ke keamanan dan kenyamanan kami UMKM yang berjualan. Niatnya nyari usaha dengan jalur resmi, ternyata banyak pungli-pungli, sebenarnya itu yang aku permasalahkan,” ungkapnya.
Setelah memberikan klarifikasi, Mbak Dy menegaskan bahwa persoalan tersebut bagi dirinya dan Bolosego sudah selesai.
Ia mengatakan pihaknya tidak memiliki keinginan untuk memperpanjang persoalan, terlebih saat ini food truck Bolosego telah kembali beroperasi dan berjualan di Semarang.
“Menurut saya pribadi dan Bolosego, permasalahan ini benar-benar sudah selesai. Food truck sudah jalan, sudah jualan di Semarang, kami nggak mau perpanjang,” tegasnya.
Karena itu, Mbak Dy mengaku tidak lagi merasa perlu memperpanjang persoalan melalui mediasi apabila tujuannya hanya untuk menyelesaikan masalah yang menurutnya sudah dianggap selesai.
Meski demikian, ia berharap pengalaman yang dibagikannya dapat menjadi bahan perhatian agar pelaku UMKM yang berjualan di Yogyakarta bisa mendapatkan rasa aman dan nyaman.
“Yang terpenting semoga dari kontenku ini Jogja semakin aman, semakin nyaman, tidak ada praktik pungli-pungli lagi,” katanya.
Mbak Dy juga menegaskan bahwa dirinya tetap memiliki kecintaan terhadap Yogyakarta. Ia menyebut dirinya sebagai wong Jogja dan usahanya berada di Yogyakarta, termasuk membawa menu-menu yang menurutnya merupakan bagian dari kuliner khas daerah tersebut.
“Aku sangat cinta Jogja. Aku wong Jogja, usahaku ada di Jogja, menuku yang tak angkat ini adalah menu-menu asli Jogja,” ujarnya.
Menutup klarifikasinya, Mbak Dy meminta publik tidak melihat persoalan tersebut sebagai upaya untuk memperpanjang konflik.
Ia mengaku justru khawatir fenomena viral seperti yang dialaminya membuat masyarakat lain menjadi takut menyampaikan pengalaman atau persoalan yang mereka alami.
“Wes yo ojo viral-viral banget, aku raiso turu. Karena nek viral kayak gini jujur membuat masyarakat itu semakin takut speak up,” pungkas Mbak Dy. (Aga)














