Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail mengatakan, penetapan status darurat dilakukan karena skala dampak bencana dan jumlah korban yang signifikan, serta untuk memastikan seluruh sumber daya dapat dimobilisasi tanpa hambatan administratif.
“Saya tetapkan per hari ini status darurat bencana karena korban cukup banyak dan penanganan harus dipercepat,” ujar Jeje di Bandung Barat, Sabtu.
Data sementara pemerintah daerah mencatat, longsor tersebut berdampak pada 113 warga. Sebanyak 23 orang berhasil menyelamatkan diri, delapan orang ditemukan meninggal dunia, sementara 82 warga lainnya masih dalam proses pencarian oleh tim SAR gabungan.
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman menyatakan, pencarian korban terus dilakukan dengan melibatkan personel lintas instansi, termasuk penggunaan anjing pelacak (K9) untuk membantu menemukan korban yang tertimbun di area longsoran.
“Pencarian dilakukan secara manual dengan memperhatikan keselamatan petugas karena kondisi tanah masih labil,” kata Herman.
Operasi pencarian dan evakuasi dikoordinasikan langsung oleh Pemerintah Kabupaten Bandung Barat dengan melibatkan TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Basarnas, serta unsur relawan kebencanaan. Fokus utama diarahkan pada lokasi-lokasi yang diduga menjadi titik tertimbunnya warga.
Selain penanganan darurat, Jeje menegaskan pemerintah daerah akan memperkuat langkah mitigasi bencana. Ia mengingatkan bahwa wilayah Bandung Barat, khususnya kawasan perbukitan dan lereng curam, termasuk daerah rawan longsor, terlebih pada musim hujan dengan intensitas tinggi.
“Kami akan memperkuat koordinasi dan mitigasi di wilayah rawan, terutama perbukitan dan tanah miring, agar kejadian serupa tidak terulang,” ujar Jeje.
Dengan status darurat bencana, pemerintah daerah memastikan seluruh sumber daya, mulai dari logistik, peralatan berat, hingga dukungan personel, dimaksimalkan untuk penanganan korban serta pengamanan wilayah terdampak guna mencegah longsor susulan. (ihd)