BAP DPD RI dan Kementerian Kehutanan Sepakati Penguatan Koordinasi Penyelesaian Konflik Hutan

Kamis, 15 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JENDELANUSANTARA.COM, Jakarta – Badan Akuntabilitas Publik DPD RI menilai konflik tenurial dan kerusakan hutan masih menjadi persoalan serius tata kelola kehutanan nasional.

‎Ketua BAP DPD RI Ahmad Syauqi menyebut lemahnya akuntabilitas pengelolaan hutan telah memicu sengketa lahan yang berkepanjangan di daerah.

‎“Ini bukan persoalan kecil. Konflik tenurial menyentuh langsung hak hidup masyarakat,” kata Syauqi saat rapat konsultasi dengan Kementerian Kehutanan, Kamis (15/1/2026).

‎Syauqi mengatakan, BAP DPD RI menerima pengaduan masyarakat terkait tumpang tindih perizinan, klaim penguasaan lahan, hingga dugaan maladministrasi.

‎Menurut dia, masyarakat adat dan lokal menjadi kelompok paling rentan terdampak.

‎“Mereka sudah bermukim dan mengelola lahan secara turun-temurun, tetapi secara administratif masih dianggap berada di kawasan hutan,” ujarnya.

‎Kondisi itu, kata dia, menciptakan ketidakpastian hukum yang serius.
‎Akibat ketidakpastian tersebut, konflik antara warga dan pemegang konsesi terus berulang.

‎Syauqi menilai negara belum sepenuhnya hadir melindungi masyarakat.

‎“Konflik agraria ini berpotensi memicu kriminalisasi warga. Ini yang tidak boleh terus dibiarkan,” kata dia.

‎BAP DPD RI, lanjutnya, meminta penjelasan langsung dari Kementerian Kehutanan terkait langkah penyelesaiannya.

‎Direktur Jenderal Planologi Kehutanan Ade Tri Ajikusumah menyatakan pengelolaan kawasan hutan dilakukan berdasarkan fungsi masing-masing wilayah.

‎“Kami memang memiliki kawasan konservasi yang harus dijaga ketat untuk fungsi ekologis dan mitigasi bencana,” ujar Ade.

‎Namun, ia menegaskan pemerintah juga membuka ruang kemitraan. “Ada kawasan kemitraan konservasi yang bisa dikelola masyarakat secara legal,” katanya.

‎Selain konflik agraria, BAP DPD RI juga menyoroti bencana ekologis seperti banjir dan longsor, terutama di Sumatera.

‎“Deforestasi dan alih fungsi hutan masih terjadi dan telah merusak daerah tangkapan air,” ujar Syauqi.

‎Rapat tersebut menghasilkan kesepakatan bersama untuk meningkatkan koordinasi, mempercepat penyelesaian pengaduan, serta melakukan peninjauan lapangan ke wilayah konflik.

‎“Pengelolaan hutan harus adil, berkelanjutan, dan berpihak pada keselamatan rakyat,” tegasnya. (waw)

Berita Terkait

Kesiapan Angkutan Lebaran, AHY Tinjau Fasilitas dan Pelayanan PT KAI
YKI Lampung Gelar Bakti Sosial Ramadan, Wagub Jihan Berikan Dukungan bagi Pasien Kanker
Menko AHY Lepas Peserta Program Mudik Bersama BUMN 2026 di GBK
Bakti Sosial Mitrapol Peduli 2026: Ratusan Paket Sembako dan Santunan Anak Yatim Disalurkan di Jakarta dan Tasikmalaya
AHY: Mudik Momentum Pererat Silaturahmi dan Perkuat Semangat Pengabdian
Kementerian Transmigrasi Siapkan Skema Pendidikan S2 bagi Pegawai
Program Mudik Gratis Amanah Zakat Apresiasi Peran Guru Ngaji di Masyarakat
BAZNAS Hadirkan 21 Pos Mudik Gratis bagi Pemudik di Jalur Utama Pulau Jawa

Berita Terkait

Selasa, 17 Maret 2026 - 15:17 WIB

Kesiapan Angkutan Lebaran, AHY Tinjau Fasilitas dan Pelayanan PT KAI

Selasa, 17 Maret 2026 - 13:35 WIB

YKI Lampung Gelar Bakti Sosial Ramadan, Wagub Jihan Berikan Dukungan bagi Pasien Kanker

Selasa, 17 Maret 2026 - 09:34 WIB

Menko AHY Lepas Peserta Program Mudik Bersama BUMN 2026 di GBK

Senin, 16 Maret 2026 - 21:34 WIB

Bakti Sosial Mitrapol Peduli 2026: Ratusan Paket Sembako dan Santunan Anak Yatim Disalurkan di Jakarta dan Tasikmalaya

Senin, 16 Maret 2026 - 10:14 WIB

AHY: Mudik Momentum Pererat Silaturahmi dan Perkuat Semangat Pengabdian

Berita Terbaru