Catatan dari PORNAS Korpri XVII 2025 – Palembang
BUNYI peluit pertandingan tenis meja baru saja berhenti. Di luar gedung, aroma pempek goreng dan kuah cuko yang asam manis bercampur di udara lembap Palembang. Sore itu, matahari menembus sela-sela pohon trembesi di kompleks olahraga Jakabaring Sport City, tempat ribuan aparatur sipil negara dari seluruh Indonesia berkompetisi dalam Pekan Olahraga Nasional Korpri XVII 2025.

Saya –dokter di Klinik Kesehatan DPR sekaligus atlet tenis meja– mengikuti langkah ratusan atlet lain menuju stasiun kecil di tepi stadion. Dari sana, kereta Light Rail Transit (LRT) meluncur mulus ke arah Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II. LRT yang satu ini bukan sekadar transportasi antar-venue, melainkan simbol keberlanjutan pembangunan. Palembang adalah satu-satunya kota di luar Jakarta yang memiliki LRT aktif yang terhubung langsung ke bandara.

Kota yang Siap Menjadi Tuan Rumah
PORNAS Korpri XVII yang berlangsung pada 5–11 Oktober 2025 mencatat sejarah baru: lebih dari 11.500 peserta dari 102 kontingen hadir di Palembang. Sebanyak 9.305 atlet berlaga di 57 cabang olahraga yang tersebar di sejumlah venue utama, terutama di kawasan Jakabaring Sport City (JSC).
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dan Panitia Nasional mencatat, selama sembilan hari pelaksanaan, konsumsi pempek melonjak dua kali lipat dari biasanya: dari 11 ton menjadi 24 ton per hari. Para pedagang di tepian Sungai Musi, di sekitar Benteng Kuto Besak hingga Jembatan Ampera, merasakan geliat ekonomi yang serupa dengan saat Asian Games 2018 dulu.
“Kami seperti kembali ke masa ramai dulu,” kata Rini, pemilik kedai pempek di Jalan Sudirman. “Atlet-atlet itu datang setiap sore, pesan pempek kapal selam dan lenggang, bilang rasanya lebih enak karena dimakan di kota asalnya.”

Jakabaring dan LRT: Warisan yang Tetap Hidup
Jakabaring Sport City –kawasan olahraga seluas 325 hektar di tepi Sungai Ogan– menjadi jantung kegiatan olahraga di Sumsel. Kompleks ini memiliki lebih dari 40 venue internasional: mulai dari stadion atletik, kolam renang, hingga arena panjat tebing dan tenis meja. Semua terhubung dengan jaringan jalan yang lapang dan stasiun LRT.
Bagi kami para atlet, kenyamanan itu bukan hal sepele. “Tidak ada kota lain di Indonesia yang fasilitas olahraganya sekomprehensif ini,” ujar salah satu ofisial dari Jawa Barat, mengingat pengalaman menginap di wisma atlet yang berjarak hanya 10 menit dari arena pertandingan.

Rumah sakit rujukan seperti RSUD Siti Fatimah Az-Zahra, RS Mata Sumsel, dan RS Gigi dan Mulut Sumsel juga siaga selama penyelenggaraan, melanjutkan tradisi medical readiness yang dulu diperkenalkan saat Asian Games 2018. Inilah bukti bahwa fasilitas publik di Sumatera Selatan bukan hanya dibangun, tetapi dirawat dan digunakan secara berkelanjutan.
Bayang-bayang Alex Noerdin
Namun, di balik gemerlap penyelenggaraan dan keberhasilan ekonomi itu, nama H. Alex Noerdin seolah hadir di setiap sudut kota –entah di papan nama jalan, stadion, hingga di benak warga yang masih menyebutnya “Gubernur pembangunan.”
Selama dua periode kepemimpinannya (2008–2018), Alex dikenal dengan program sekolah gratis, berobat gratis, dan santri jadi dokter, yang kemudian dijadikan model bagi kebijakan nasional. Di masa itu pula LRT Palembang dibangun dan Jakabaring disulap menjadi kawasan olahraga berstandar dunia.

Ia pernah menerima penghargaan Bintang Mahaputera Utama atas jasanya mengangkat nama Indonesia lewat keberhasilan Sumsel menjadi tuan rumah lebih dari 130 event internasional, termasuk Asian Games 2018, Islamic Solidarity Games, dan Asean University Games.
Kini, ironinya, sebagian warisan itu masih berdiri gagah saat sang pembangunnya menjalani hukuman di balik jeruji. Alex Noerdin divonis sembilan tahun penjara dalam kasus korupsi pembangunan Masjid Raya Sriwijaya dan pengadaan gas bumi oleh PDPDE Sumsel.
Tapi banyak yang belum tahu bahwa fakta persidangan tidak ada aliran dana atau suap atau gratifikasi kepada Alex Noerdin, terbukti di dalam vonis tidak ada uang pengganti (UP). Jadi AN bukan koruptor.
Tahun ini, Kejaksaan Tinggi Sumsel kembali menetapkannya sebagai tersangka dalam kasus revitalisasi Pasar Cinde, proyek bernilai hampir Rp1 triliun yang mangkrak di tengah kota.
Banyak warga mengaku iba. “Dia yang bikin Palembang punya LRT, punya Jakabaring, tapi sekarang malah di penjara,” kata Arman, sopir LRT yang dulu menjadi pekerja proyek rel pada 2015. “Rasanya campur aduk, bangga sekaligus sedih.”
Kekaguman dan Simpati
Sebagai atlet yang merasakan langsung manfaat infrastruktur yang dibangunnya, saya pun merasakan perasaan serupa: kagum sekaligus iba. Saya menikmati perjalanan yang efisien, venue yang nyaman, dan atmosfer kompetisi yang membanggakan. Namun, setiap kali melihat plakat bertuliskan “Diresmikan oleh Gubernur Sumatera Selatan H. Alex Noerdin”, ada getir yang mengendap.
Warisan pembangunan itu masih menjadi tulang punggung penyelenggaraan olahraga nasional. Tapi kepercayaan publik juga membutuhkan keadilan yang transparan. Bagi banyak orang, Palembang hari ini adalah kota yang berdiri di atas dua kutub: antara prestasi dan persoalan hukum, antara warisan dan penghakiman.
Kesinambungan
PORNAS XVII Korpri 2025 menjadi ajang yang bukan hanya mencetak prestasi, tetapi juga menegaskan pentingnya kesinambungan pembangunan. Fasilitas yang baik membuat atlet merasa dihargai, warga mendapat manfaat ekonomi, dan daerah tampil di panggung nasional.
Namun, sejarah tak hanya mencatat kemenangan dan medali. Ia juga menulis kisah manusia di baliknya –tentang visi, kerja keras, dan, kadang, kejatuhan.
Palembang hari ini masih berdiri tegak di bawah cahaya Jakabaring, dan di sela-selanya, gema langkah Alex Noerdin masih terasa… entah sebagai kebanggaan, atau sebagai pengingat. (ayi/ihd)














