Pemda DIY Minta Perencanaan Matang dalam Program Makan Bergizi Gratis

Jumat, 3 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sekretaris Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta, Ni Made Dwipanti Indrayanti, bicara dalam Diskusi Publik Inovokasia 2025 di Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Selasa (23/9/2025). (Dok Pemda DIY)

Sekretaris Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta, Ni Made Dwipanti Indrayanti, bicara dalam Diskusi Publik Inovokasia 2025 di Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Selasa (23/9/2025). (Dok Pemda DIY)

JENDELANUSANTARA.COM, Yogyakarta — Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (Pemda DIY) kini mulai dilibatkan dalam teknis pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Keterlibatan ini dinilai penting mengingat potensi risiko kesehatan yang bisa timbul, termasuk kasus keracunan makanan.

Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, menjelaskan pihaknya telah bertemu dengan koordinator Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan menyepakati bahwa Pemda DIY akan masuk dalam koordinasi pelaksanaan MBG. “Alhamdulillah mereka siap,” ujarnya di Yogyakarta, Kamis (2/10/2025).

Made menekankan, tanggung jawab kesehatan akibat masalah makanan tetap berada di pundak Pemda DIY. “Keracunan tidak ditanggung BPJS. Akhirnya Pemda yang harus menanggung lewat fasilitas kesehatannya. Jadi tidak bisa lepas, harus koordinasi,” katanya.

Pemda kini dilibatkan dalam pengawasan teknis, termasuk pemeriksaan data distribusi SPPG di berbagai titik layanan. “Kami sudah mulai menghitung satu SPPG melayani berapa titik dan di mana saja. Supaya jelas area cakupannya,” tutur Made.

Selain itu, SPPG didesak memenuhi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Hingga kini baru belasan SPPG yang sudah mengantongi sertifikat tersebut. “Persoalannya banyak. Misalnya, waktu mencuci wadah terbatas sehingga berpotensi memunculkan bakteri. Jadi tidak sekadar dapur bersih, sistem sanitasinya juga harus bagus,” paparnya.

Terbatasnya tenaga ahli gizi di SPPG juga menjadi kendala. Made mencontohkan, RSUP Dr Sardjito dengan 600 pasien memiliki puluhan ahli gizi, sementara di SPPG hanya ada koordinator, satu ahli gizi, dan tenaga administrasi untuk melayani ribuan siswa. “Ini menjadi bagian evaluasi karena bisa berdampak pada kualitas gizi yang disalurkan,” ujarnya.

Ia menegaskan, program yang diniatkan baik harus dibarengi dengan perencanaan yang matang. “Ketika proyek ini besar dan masif, mestinya perencanaannya bagus. Data harus terbuka, jelas, dan bisa diaudit. Kolaborasi dan koordinasi juga wajib,” kata Made. (ihd)

Berita Terkait

Demi Generasi Berkualitas, Forum Anak Depok Gencarkan Edukasi Tunda Nikah
Tim SAR Sisir Sejumlah Goa dan Luweng dalam Pencarian Mbah Bajiyo
FJD Dinilai Berperan Besar Jaga Keamanan DIY, Hasto Beri Apresiasi
Program Kebersihan Mingguan Dimulai, Hasto Minta Pedagang Pasar Ngasem Berpartisipasi
Ekonomi DIY Tumbuh, Tetapi Belum Menyentuh Semua Lapisan Masyarakat, Kata CCRiset UWM
Violet Indigo Tampil Memukau, Hari Musik Sedunia di ARTJOG Penuh Antusiasme
Balita Korban Kasus Daycare di Yogyakarta Alami Stunting, Orang Tua Soroti Dugaan Kurang Asupan Gizi
Pimpin Muaythai Kota Yogyakarta 2026-2030, Eka Saputra Prioritaskan Pembinaan Atlet Lokal

Berita Terkait

Kamis, 25 Juni 2026 - 15:03 WIB

Tim SAR Sisir Sejumlah Goa dan Luweng dalam Pencarian Mbah Bajiyo

Kamis, 25 Juni 2026 - 08:54 WIB

FJD Dinilai Berperan Besar Jaga Keamanan DIY, Hasto Beri Apresiasi

Kamis, 25 Juni 2026 - 08:46 WIB

Program Kebersihan Mingguan Dimulai, Hasto Minta Pedagang Pasar Ngasem Berpartisipasi

Kamis, 25 Juni 2026 - 08:41 WIB

Ekonomi DIY Tumbuh, Tetapi Belum Menyentuh Semua Lapisan Masyarakat, Kata CCRiset UWM

Kamis, 25 Juni 2026 - 08:33 WIB

Violet Indigo Tampil Memukau, Hari Musik Sedunia di ARTJOG Penuh Antusiasme

Berita Terbaru