JENDELANUSANTARA.COM, Jakarta – Udara Jakarta belum terlalu panas saat Cak Lontong melangkah ke Balai Kota. Bukan dengan setelan jas formal lengkap, melainkan dengan gaya khasnya: santai, bersahaja, dan tetap mengundang senyum. Tapi kali ini, ia tidak sedang melawak. Lies Hartono—begitu nama lengkapnya—datang sebagai komisaris baru PT Pembangunan Jaya Ancol. Sebuah peran baru, yang jauh dari panggung hiburan yang selama ini jadi rumahnya.
Pengangkatan Cak Lontong sebagai komisaris memang sempat memancing tanya. “Kok bisa pelawak jadi komisaris?” begitu kira-kira suara publik di media sosial. Tapi di balik senyum dan celetukan khasnya, ada penjelasan yang jauh dari sekadar guyon.
“Orang pikir saya asal ditunjuk, padahal saya ikut seleksi. Prosesnya fair dan dilakukan oleh tim independen,” ujarnya, seraya kemudian menyelipkan kata “qualifies” dengan logat jenaka yang justru menegaskan keseriusannya. Seleksi tersebut, kata dia, melibatkan akademisi, profesional, hingga eks pimpinan KPK. Bukan main.
Meski belum resmi berkantor—karena RUPS baru digelar pada 25 April—Cak Lontong sudah sibuk menyimak. Masukan datang dari berbagai pihak, terutama dari rekan-rekan seniman. Visi besarnya? Membawa Ancol bukan hanya sebagai tempat libur akhir pekan, tapi juga ruang ekspresi budaya dan edukasi.
Salah satu rencananya terdengar seperti membuka buku kenangan Jakarta: menghidupkan kembali Pasar Seni Ancol. Tempat yang dulu jadi panggung penting bagi perupa dan pengunjung, kini ingin ia bangunkan dari tidur panjang.
“Kita ingin anak muda tahu, bahwa Jakarta punya sejarah seni yang kaya. Pasar Seni itu bukan hanya nostalgia, tapi potensi,” katanya.
Dari panggung komedi ke ruang rapat komisaris, Cak Lontong menunjukkan bahwa visi dan dedikasi bisa lahir dari mana saja. Termasuk dari seorang pelawak, yang kini punya misi serius untuk menghidupkan Ancol—dengan sentuhan budaya, seni, dan tentu saja, sedikit tawa. (ihd)














