JENDELANUSANTARA.COM, Istanbul — Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuka kemungkinan keterlibatan militer Washington dalam serangan terhadap kelompok Houthi di Yaman, menyusul serangkaian serangan yang menyasar Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi. Ancaman perluasan operasi militer itu berpotensi meningkatkan ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Trump mengatakan, pemerintahannya tengah mempertimbangkan opsi keterlibatan tersebut setelah menerima laporan mengenai serangan terbaru yang menyebabkan sejumlah orang terluka.
“Mungkin. Kami akan mempertimbangkannya. Kami baru mengetahui serangan terbaru ini. Kami akan mengambil keputusan. Kami bergerak sangat cepat,” kata Trump kepada wartawan ketika ditanya apakah Amerika Serikat akan bergabung dalam serangan terhadap Houthi.
Pernyataan Trump disampaikan setelah Bandara Internasional King Khalid menghentikan operasionalnya untuk sementara pada Sabtu menyusul serangan yang menimbulkan korban luka. Otoritas penerbangan sipil Arab Saudi menyatakan, serangan terjadi pada Sabtu sore dan jumlah korban masih dalam proses pendataan.
Situasi keamanan di sekitar bandara juga mendorong Kedutaan Besar Amerika Serikat dan Inggris di Arab Saudi mengeluarkan imbauan kepada warga negaranya pada Sabtu. Mereka diminta menghindari bandara untuk mengantisipasi risiko keamanan dan kemungkinan gangguan perjalanan udara.
Serangan tersebut menambah daftar insiden yang menyasar fasilitas penerbangan Arab Saudi. Pada Jumat, otoritas Saudi melaporkan tiga orang meninggal dunia dan sejumlah lainnya terluka dalam dua serangan pada Kamis. Serangan itu menargetkan fasilitas di Bandara Internasional King Khalid dan pesawat milik maskapai Saudi Arabian Airlines.
Meski sempat terganggu, operasional bandara kemudian kembali berjalan. Otoritas penerbangan menyatakan lalu lintas udara telah kembali normal setelah situasi memungkinkan.
Kelompok Houthi mengklaim bertanggung jawab atas sejumlah serangan menggunakan rudal dan pesawat nirawak terhadap Bandara Internasional King Khalid serta beberapa bandara lain di Arab Saudi dalam beberapa hari terakhir. Serangan berulang tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan infrastruktur sipil dan transportasi udara di kawasan itu.
Konflik Yaman sendiri telah berlangsung sejak September 2014, ketika Houthi merebut ibu kota Sanaa dan sejumlah provinsi. Perkembangan itu memicu intervensi koalisi militer pimpinan Arab Saudi pada Maret 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Kemungkinan keterlibatan Amerika Serikat dalam serangan terhadap Houthi berpotensi membawa konflik tersebut ke tahap yang lebih luas. Namun, pernyataan Trump sejauh ini baru menunjukkan bahwa opsi itu sedang dipertimbangkan, belum menjadi keputusan resmi Washington untuk bergabung dalam operasi militer Saudi. (Anadolu/ihd)














