Kotabaru Heritage Film Festival 2026 Hidupkan Kawasan Cagar Budaya Kotabaru Lewat Film dan Aktivasi Ruang Kota

Kamis, 10 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JENDELANUSANTARA.COM, YOGYAKARTA – Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta kembali menyelenggarakan Kotabaru Heritage Film Festival (KHFF) 2026 pada 17-19 September 2026. Memasuki tahun keempat penyelenggaraannya, festival film berbasis heritage ini menghadirkan rangkaian program yang menggabungkan film, kebudayaan, edukasi, transportasi tradisional, serta pemanfaatan ruang publik di kawasan cagar budaya Kotabaru.

Agenda KHFF 2026 diperkenalkan kepada publik dalam Taklimat Media yang digelar di The Praja Hotels and Villas, Yogyakarta, Kamis (10/9/2026).

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti S.Sos., M.M., mengatakan KHFF menjadi salah satu strategi pemerintah daerah untuk menghidupkan kawasan cagar budaya melalui aktivitas kebudayaan yang relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini.

Menurutnya, warisan budaya tidak semestinya dipahami hanya sebagai peninggalan masa lalu. Warisan budaya perlu terus dihadirkan dan dimaknai kembali agar tetap memiliki nilai serta dapat diakses oleh generasi saat ini.

“Bagaimana kemudian kami menghadirkan warisan budaya itu melalui banyak program yang masyarakat lebih bisa melihat dan memahami. Salah satunya melalui film karena film merupakan media yang lebih mudah untuk melihat dan memahami warisan budaya,” ujar Yetti.

Ia menjelaskan, penyelenggaraan KHFF setiap tahun terus dikembangkan dengan menghadirkan program-program baru. Festival tersebut tidak hanya ditujukan bagi komunitas perfilman, tetapi juga masyarakat luas, termasuk generasi muda, pelajar, mahasiswa, dan komunitas.

“Tidak hanya masyarakat Jogja, tetapi juga nasional dan kami mengupayakan akses dari internasional. Kami berharap warisan budaya itu bisa terinformasi dan terpublikasi dengan baik serta dapat dipahami dan diakses masyarakat,” katanya.

Yetti menuturkan, kolaborasi antara heritage dan film menjadi penting karena perkembangan zaman dan teknologi tidak harus menghilangkan identitas budaya lokal. Justru, perkembangan teknologi dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan serta menghidupkan kembali warisan budaya dalam konteks kekinian.

Hal tersebut salah satunya diwujudkan melalui program Becak Drive-In Cinema yang kembali hadir dalam KHFF 2026.

Program tersebut merupakan kolaborasi Pemerintah Kota Yogyakarta dengan Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya Dinas Perhubungan DIY. Sebelum pemutaran film, masyarakat diajak mengikuti Jelajah Kotabaru menggunakan becak listrik.

Sebanyak 38 becak listrik akan bergerak dari Pasar Terban untuk menyusuri sejumlah titik bersejarah di kawasan Kotabaru. Peserta akan terbagi dalam dua rute, yakni Rute Toleransi dan Rute Perjuangan.

Rute Toleransi akan merespons keberadaan sejumlah tempat ibadah di kawasan Kotabaru, seperti Gereja HKBP, Santo Antonius, dan Masjid Syuhada. Sementara Rute Perjuangan akan mengangkat sejarah perjuangan dan peristiwa Kota Baru, termasuk kawasan SMA 3 Yogyakarta.

Rangkaian Jelajah Kotabaru kemudian akan berakhir di Pasar Terban untuk mengikuti Becak Drive-In Cinema sebagai pembuka KHFF 2026 pada 17 September 2026.

“Becak ini juga sudah ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda. Bagaimana kemudian becak tetap dihadirkan sebagai warisan budaya takbenda dalam konteks hari ini melalui listrik,” jelas Yetti.

Menurutnya, pemanfaatan becak listrik menjadi contoh bahwa pelestarian warisan budaya dapat berjalan beriringan dengan perkembangan teknologi.

KHFF 2026 juga menghadirkan pendekatan berbeda melalui pemanfaatan Pasar Terban sebagai salah satu lokasi utama festival.

Pemilihan pasar sebagai ruang kegiatan menjadi bagian dari upaya mengeksplorasi kawasan cagar budaya Kotabaru sekaligus mempertemukan aktivitas kebudayaan dengan ruang publik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

“Selama ini kalau kita bicara film mungkin tidak pernah dekat dengan pasar, apalagi sebagai venue. Nah, ini kami hadirkan bagaimana sinema juga mulai terbuka dengan pasar,” ujar Yetti.

Dalam Becak Drive-In Cinema, masyarakat akan menyaksikan film “Para Perasuk (Levitating)” karya sutradara Wregas Bhanuteja. Film tersebut dipilih sebagai film pembuka karena dinilai mampu mempertemukan isu tradisi, identitas, lingkungan, perubahan, dan masyarakat dalam konteks kehidupan hari ini.

Wregas Bhanuteja juga dijadwalkan hadir dalam rangkaian KHFF 2026 melalui program Director Talks.

KHFF EduScreen Buka Akses bagi Pelajar dan Mahasiswa

Selain program pemutaran film dan aktivasi ruang publik, KHFF 2026 memperkenalkan KHFF EduScreen sebagai program baru.

Program ini menjadi ruang bagi sekolah, kampus, dan komunitas untuk mendaftarkan peserta secara lebih awal dalam program-program pilihan KHFF.

Peserta yang terdaftar melalui KHFF EduScreen akan memperoleh sejumlah fasilitas, di antaranya e-sertifikat dari Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, snack kit, serta akses gratis ke program-program pilihan festival.

Program tersebut sekaligus menjadi respons atas tingginya antusiasme pelajar dan mahasiswa dalam penyelenggaraan KHFF pada tahun-tahun sebelumnya.

“Bagaimana kemudian akses pelajar dan mahasiswa itu benar-benar diwadahi dalam program-program yang dibuat oleh KHFF,” kata Yetti.

Direktur Festival KHFF, Siska Raharja, menyampaikan bahwa penyelenggaraan KHFF 2026 mencatat peningkatan jumlah film yang masuk. Tahun ini terdapat 184 film submission, jumlah terbesar selama empat tahun penyelenggaraan KHFF.

Sementara itu, Direktur Program KHFF, Suluh Pamuji, menjelaskan bahwa dari seluruh submission tersebut, sebanyak 15 film terpilih masuk dalam program kompetisi.

Kompetisi tersebut terbagi menjadi tiga kategori, yakni Mahaditya, Karyanakri, dan Perwasiswa, masing-masing terdiri atas lima film.

Selain kompetisi, KHFF 2026 juga menghadirkan sejumlah program nonkompetisi, seperti panorama, pemutaran film heritage dan nasional, program arsip, forum, talks, workshop, hingga program sinema eksperimental.

Program Heritage in Memory, misalnya, menghadirkan film-film arsip lama untuk melihat kembali memori kolektif melalui sinema. Sementara program Beyond Provenance menghadirkan sejumlah karya hasil kolaborasi Indonesia dan Belanda yang merespons isu repatriasi serta persoalan kepemilikan dan pemaknaan kembali warisan budaya.

Suluh mengatakan, KHFF 2026 membawa gagasan bahwa heritage tidak boleh ditempatkan sebagai sesuatu yang statis dan hanya berkaitan dengan masa lalu.

Menurutnya, tema festival berkembang dari tahun ke tahun. Jika tahun pertama berangkat dari pengenalan, tahun kedua menekankan interaksi, dan tahun ketiga berbicara mengenai penetapan posisi, maka tahun keempat mengarah pada kontekstualisasi heritage.

“Bagaimana kita tidak lagi hanya membicarakan perbedaan benda dan tak benda, tetapi bagaimana benda dan tak benda itu hidup. Kita melihatnya sebagai living heritage atau heritage yang hidup,” jelas Suluh.

Pendekatan tersebut diwujudkan melalui berbagai program yang menghubungkan warisan budaya dengan persoalan kontemporer, mulai dari lingkungan, perubahan sosial, sejarah, identitas, hingga repatriasi.

Rangkaian KHFF 2026 akan ditutup pada 19 September 2026 melalui program Heritage in Indonesian Cinema yang menghadirkan pemutaran film legendaris Kantata Takwa karya Eros Jarot dan Gotot Prakosa.

Malam penutupan kemudian dilanjutkan dengan Closing Night KHFF 2026 yang menghadirkan Sawung Jabo & Sirkus Barock.

Pertemuan antara film Kantata Takwa dan penampilan Sawung Jabo menjadi bagian dari upaya KHFF menghadirkan perjumpaan lintas generasi antara film, musik, sejarah, memori kolektif, dan kebudayaan.

KHFF 2026 akan berlangsung pada (17/9/26 – 19/9/26) dengan sejumlah kegiatan yang berpusat di Pasar Terban dan Gedung PDIN, Terban, Yogyakarta.

Melalui penyelenggaraan KHFF 2026, Pemerintah Kota Yogyakarta berharap kawasan cagar budaya Kotabaru tidak hanya dipahami sebagai kawasan bersejarah, tetapi juga menjadi ruang budaya yang terus hidup, dikunjungi, dan dimaknai oleh masyarakat. (Aga)

Berita Terkait

Santriwati Laporkan Dugaan Pemerkosaan di Pondok Pesantren Sleman, Mengaku Dua Kali Jadi Korban
Siswi 16 Tahun di Karo Alami Gangguan Ingatan Usai Diduga Keracunan MBG
Hidupkan Sambirejo, Mahasiswa UMY Kembangkan Diversifikasi Wisata Budaya
Jateng-DIY Satukan Strategi Pengembangan Pariwisata, Teknologi Digital Jadi Andalan
Mahasiswa UMY Kembangkan Material Tahan Gempa Berbasis Serat Bambu
Agung Danarto: Mahasiswa Baru UMY Harus Unggul Akademik dan Berlandaskan Islam
Anggaran BNPB Turun di Tengah Risiko Bencana Tinggi, Mitigasi Perlu Diperkuat
Diduga Keracunan MBG, Operasional SPPG Patalan Bantul Dihentikan Sementara

Berita Terkait

Kamis, 10 September 2026 - 19:08 WIB

Santriwati Laporkan Dugaan Pemerkosaan di Pondok Pesantren Sleman, Mengaku Dua Kali Jadi Korban

Kamis, 10 September 2026 - 18:02 WIB

Kotabaru Heritage Film Festival 2026 Hidupkan Kawasan Cagar Budaya Kotabaru Lewat Film dan Aktivasi Ruang Kota

Kamis, 10 September 2026 - 14:44 WIB

Siswi 16 Tahun di Karo Alami Gangguan Ingatan Usai Diduga Keracunan MBG

Kamis, 10 September 2026 - 14:01 WIB

Hidupkan Sambirejo, Mahasiswa UMY Kembangkan Diversifikasi Wisata Budaya

Rabu, 9 September 2026 - 17:55 WIB

Jateng-DIY Satukan Strategi Pengembangan Pariwisata, Teknologi Digital Jadi Andalan

Berita Terbaru