JENDELANUSANTARA.COM, JOGJA – Kota Yogyakarta kembali menegaskan identitasnya sebagai episentrum musik dan seni melalui gelaran perdana Jogja Inspira yang memadukan kreativitas lintas disiplin secara konsisten nasional.
Event Jogja Inspira #01 digelar di Ndalem Poenokawan Cafe dan Gallery, Minggu (30/08/2026), menghadirkan musik, puisi, serta sketsa secara kolaboratif dalam suasana hangat.
Ketua Panitia Jogja Inspira #01, Y. Sri Susilo, mengatakan acara tersebut lahir untuk menjaga kreativitas seni budaya Yogyakarta tetap hidup melalui penyelenggaraan berkala.
“Event tersebut dilahirkan untuk menjaga dan memelihara Kota Yogyakarta sebagai episentrum kreativitas seni dan budaya,” jelas Y. Sri Susilo dalam gelaran perdana tersebut.
Menurut Sri Susilo, ruang kreativitas perlu terus dirawat agar musik, sketsa, dan puisi berkembang bersama dalam ekosistem seni Yogyakarta yang inklusif dan terbuka.
Jogja Inspira digagas ISEI Cabang Yogyakarta atau ISEI DIY bersama KADIN DIY, menghadirkan sejumlah tokoh akademisi, seniman, musisi, dan budayawan dalam semangat kebersamaan.
Robby Kusumaharta, WKU Koordinator Bidang 1 KADIN DIY, menyebut Jogja Inspira membawa semangat mempertemukan musik dengan cabang seni lainnya lintas komunitas seni Yogyakarta.
“Jogja Inspira ini lahir dengan semangat untuk mendorong pergelaran musik yang dikolaborasikan dengan seni lain, seperti puisi dan sketsa lukisan,” jelas Robby.
Robby menegaskan pengurus Jogja Inspira harus bekerja keras agar kegiatan tersebut berlanjut dan berkesinambungan secara periodik menghadirkan kolaborasi musisi serta seniman bersama seniman.
“Sebagai salah satu kota barometer musik di Indonesia, pergelaran musik dengan berbagai skala harus didorong agar dapat berkembang,” ujar Anggito Abimanyu pada.
Anggito juga menjadi salah satu penggagas Jogja Inspira yang memilih tempat bersejarah untuk memperkuat hubungan seni dengan identitas Kota Yogyakarta secara berkelanjutan tersebut.
“Gelar musik dan seni Jogja Inspira diselenggarakan di tempat cagar budaya yang mempunyai sejarah dengan Kota Yogyakarta,” kata Anggito pada gelaran perdana tersebut.
Pada edisi perdana, Anggito Abimanyu tampil sebagai Ketua Dewan Komisioner LPS, Guru Besar UGM, musisi, sekaligus penyair dalam acara tersebut secara langsung utama.
Anggito turut membagikan buku kumpulan puisi berjudul Pelita Hati: Untaian Syair Cinta Tanpa Syarat kepada para tamu undangan Jogja Inspira dalam kesempatan tersebut.
Buku tersebut merangkum 11 syair religi bercorak Islami yang ditulis Anggito selama 13 tahun, mulai 2009 hingga 2022, dengan refleksi mendalam dan doa.
Syair-syair itu memuat refleksi kontemplatif, doa, nasihat kehidupan, serta dakwah kebaikan yang kemudian menginspirasi musisi besar Indonesia menciptakan karya musik untuk publik nasional.
Menurut Anggito, sejumlah karya dalam buku tersebut telah digubah menjadi musik orkestra dan religi oleh Erwin Gutawa, Dwiki Dharmawan, serta Singgih Sanjaya Indonesia.
“Karya-karya itu dinyanyikan penyanyi ternama seperti Dira Sugandi, Brian Jikustik, hingga grup Nasyid Snada,” ungkap Anggito dalam gelaran tersebut kepada para tamu pula.
Puisi Hadiahkanlah NirwanaMu dibaca Ova Emilia, sedangkan lagu Syair Indah dan Damai Bersamamu dinyanyikan Brian Prasetyoadi dengan iringan Afriza Animawan secara apik merdu.
Saat Brian bernyanyi, Bambang Herras membuat lukisan yang menggambarkan suasana lagu, menciptakan perpaduan musik dan visual secara langsung di panggung dalam acara langsung.
Acara ditutup lagu Simponi Raya karya Guruh Sukarnopoetra yang dibawakan Brian Prasetyoadi, sekaligus menandai semangat keberlanjutan Jogja Inspira berikutnya secara konsisten periodik berkala.
Gelaran dihadiri tamu, termasuk GKR Mangkubumi, Didi Achjari, Wawan Harmawan, akademisi, seniman. “Untuk Jogja Inspira #02 akan tampil Nano Tirta,” jelas Sri Susilo.(waw)














