JENDELANUSANTARA.COM, YOGYAKARTA – Tingkat keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) kembali menjadi perhatian setelah RSUD Arifin Achmad, Pekanbaru, mencatat BOR sebesar 91,54 persen pada April 2026. Dari total 497 tempat tidur yang tersedia, sebanyak 455 tempat tidur terisi. Angka tersebut menunjukkan tingginya tekanan terhadap kapasitas pelayanan rawat inap rumah sakit.
Namun, BOR yang tinggi tidak serta-merta berarti rumah sakit harus menambah jumlah tempat tidur. Dosen Magister Administrasi Rumah Sakit (MARS) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Elsye Maria Rosa, M.Kep., menjelaskan bahwa BOR perlu dianalisis bersama sejumlah indikator lain, termasuk rata-rata lama perawatan pasien dan kecepatan perputaran tempat tidur.
“BOR yang tinggi tidak selalu berarti tempat tidurnya harus banyak. BOR tinggi bisa disebabkan karena memang demand-nya lebih besar daripada supply-nya. Namun, bisa juga karena kapasitas yang ada tidak berputar secara optimal. Jadi, sebelum rumah sakit mengatakan kekurangan tempat tidur, kita harus memastikan terlebih dahulu apakah masalahnya memang kekurangan kapasitas atau justru kapasitas yang ada belum dikelola secara optimal,” jelas Elsye, Jumat (21/8).
Menurutnya, salah satu indikator yang perlu diperhatikan adalah Average Length of Stay (ALOS) atau rata-rata lama perawatan pasien. Semakin lama pasien menjalani perawatan, semakin lama pula tempat tidur digunakan sebelum dapat ditempati pasien berikutnya.
Kondisi tersebut dapat menjadi lebih kompleks apabila proses kepulangan pasien belum berjalan optimal. Pasien yang secara medis sudah dinyatakan dapat pulang belum tentu langsung meninggalkan rumah sakit karena masih terdapat sejumlah proses yang harus diselesaikan, mulai dari discharge planning, administrasi, hingga persiapan pasien dan keluarga.
“Jadi, persoalannya bukan hanya keputusan medis untuk memulangkan pasien. Ada proses setelah dokter menyatakan pasien bisa pulang yang juga harus diperhatikan. Kalau proses discharge planning terlambat atau administrasinya membutuhkan waktu, tempat tidur yang sebenarnya sudah berpotensi digunakan kembali masih belum bisa segera diisi pasien berikutnya,” jelasnya.
Dengan demikian, jumlah tempat tidur kosong secara fisik belum selalu menggambarkan kapasitas yang benar-benar siap digunakan. Rumah sakit perlu melihat keseluruhan aliran pasien, mulai dari pasien yang masuk, menjalani perawatan, direncanakan pulang, hingga pasien yang menunggu memperoleh ruang perawatan.
Pengelolaan Tempat Tidur Perlu Dilakukan Secara Dinami
Kebutuhan tersebut semakin relevan dengan berkembangnya sistem pemantauan kapasitas rumah sakit. Kementerian Kesehatan menempatkan BOR, BTO, TOI, dan ALOS sebagai indikator kinerja pelayanan rumah sakit yang perlu dilaporkan dan dianalisis secara berkala.
Menurut Elsye, penggunaan berbagai indikator tersebut penting karena kapasitas rumah sakit bersifat dinamis. Tempat tidur yang terisi saat ini dapat menjadi kosong beberapa jam kemudian, sementara pada saat yang sama terdapat pasien baru yang membutuhkan ruang perawatan.
“Karena itu, pengelolaan tempat tidur tidak cukup hanya dengan mencatat jumlah bed yang kosong dan terisi. Rumah sakit perlu memiliki sistem bed management yang mampu memberikan gambaran kondisi kapasitas secara aktual sekaligus memproyeksikan ketersediaan tempat tidur dalam beberapa jam ke depan,” tuturnya.
Ia menjelaskan, real-time bed management idealnya tidak hanya menampilkan jumlah tempat tidur yang tersedia pada saat tertentu. Sistem tersebut juga perlu memuat informasi mengenai pasien yang sedang menjalani proses kepulangan, pasien yang akan dipindahkan, maupun pasien yang diperkirakan segera membutuhkan ruang perawatan.
Informasi tersebut dapat membantu manajemen rumah sakit mempersiapkan kapasitas sebelum tempat tidur benar-benar kosong. Dengan demikian, proses penerimaan pasien baru tidak harus selalu menunggu hingga seluruh rangkaian kepulangan pasien selesai.
“Rumah sakit harus mengetahui kondisi kapasitas secara real time, bukan sekadar berapa bed yang tersedia saat ini. Perlu diketahui juga berapa yang diperkirakan tersedia dua, empat, enam, atau delapan jam ke depan. Dengan begitu, rumah sakit bisa mengetahui kapasitas yang akan tersedia dan tidak hanya menunggu sampai tempat tidur benar-benar kosong,” tutur Elsye.
BOR Tinggi Harus Dibaca Bersama ALOS, TOI, dan BTO
Elsye menegaskan bahwa penambahan tempat tidur tetap dapat menjadi pilihan apabila data menunjukkan kebutuhan pelayanan memang secara konsisten melampaui kapasitas yang tersedia. Namun, keputusan tersebut perlu didahului evaluasi terhadap pemanfaatan kapasitas yang sudah ada.
BOR yang tinggi perlu dianalisis bersama indikator lain seperti ALOS, Turn Over Interval (TOI), dan Bed Turn Over (BTO). Kementerian Kesehatan mendefinisikan TOI sebagai rata-rata hari tempat tidur tidak ditempati antara satu pasien dan pasien berikutnya, sedangkan BTO menunjukkan frekuensi pemakaian tempat tidur dalam suatu periode.
Dari kombinasi indikator tersebut, rumah sakit dapat melihat apakah tingginya keterisian disebabkan oleh tingginya jumlah pasien, lamanya masa perawatan, lambatnya proses kepulangan, atau persoalan lain dalam alur pelayanan.
“Jangan sampai rumah sakit langsung menyimpulkan bahwa solusinya adalah menambah tempat tidur, padahal ternyata tempat tidur yang ada masih bisa dioptimalkan. Kita perlu melihat di mana titik yang membuat bed terlalu lama terisi dan bagaimana mempercepat perputarannya tanpa mengurangi kualitas dan keselamatan pasien,” ungkapnya.
Menurut Elsye, optimalisasi tersebut membutuhkan koordinasi lintas unit. Dokter, perawat, bagian administrasi, farmasi, hingga manajemen rumah sakit memiliki peran dalam memastikan proses pelayanan dan kepulangan pasien berjalan tanpa hambatan yang tidak perlu.
Dengan pengelolaan tersebut, rumah sakit dapat meningkatkan kapasitas pelayanan tanpa selalu bergantung pada pembangunan ruang rawat inap baru. Penambahan fasilitas tetap diperlukan ketika kebutuhan memang melebihi kapasitas, tetapi efisiensi patient flow dan pengelolaan tempat tidur menjadi langkah penting untuk memastikan kapasitas yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal.
“Intinya, kita jangan hanya berpikir tentang berapa banyak bed yang dimiliki rumah sakit, tetapi bagaimana bed tersebut berputar dan bagaimana kita memastikan pasien mendapatkan pelayanan pada waktu yang tepat. Kapasitas rumah sakit bukan hanya persoalan jumlah tempat tidur, tetapi juga bagaimana seluruh sistem mengelolanya,” pungkas Elsye. (GLA)
Sumber : humas umy














