El Nino Berpotensi Sangat Kuat, Ancaman Kekeringan Meluas hingga 2027

Selasa, 4 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi - Sumur kering akibat kemarau panjang. (Ihade)

Ilustrasi - Sumur kering akibat kemarau panjang. (Ihade)

JENDELANUSANTARA.COM, Jakarta — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan bahwa fenomena El Nino 2026 telah memasuki kategori kuat dan masih berpeluang berkembang menjadi sangat kuat dalam beberapa bulan ke depan. Kondisi tersebut diperkirakan memperpanjang musim kemarau di sejumlah wilayah Indonesia, meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta gangguan terhadap produksi pangan dan ketersediaan air.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan hasil pemantauan terbaru menunjukkan indeks El Nino Southern Oscillation (ENSO) mencapai +1,59 berdasarkan rata-rata anomali suhu permukaan laut di kawasan Nino 3.4 selama Mei, Juni, dan Juli 2026. Angka tersebut menempatkan El Nino pada kategori kuat.

“Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, kondisi El Nino saat ini telah berada pada kategori kuat dan masih berpotensi meningkat menjadi sangat kuat,” ujar Teuku dalam Dialog Nasional yang diselenggarakan Kementerian PPN/Bappenas di Jakarta, Selasa (4/8/2026).

BMKG sejatinya telah memberikan peringatan dini sejak pertengahan Maret 2026 ketika El Nino masih diproyeksikan berada pada tingkat moderat. Perkembangan itu kemudian dikonfirmasi Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) yang pada 2 Juni 2026 menyatakan fenomena El Nino telah aktif.

Fenomena iklim yang dipicu menghangatnya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur tersebut umumnya mengurangi pembentukan awan hujan di kawasan Indonesia. Akibatnya, musim kemarau berlangsung lebih panjang dengan curah hujan jauh di bawah rata-rata klimatologis.

BMKG memperkirakan curah hujan sepanjang Agustus hingga September 2026 berada pada kategori rendah hingga sangat rendah di sejumlah daerah. Kondisi itu diperkirakan mulai berangsur membaik ketika sebagian besar wilayah Indonesia memasuki musim hujan pada pertengahan Oktober.

Menurut Teuku, El Nino diperkirakan bertahan selama sembilan hingga 12 bulan atau hingga sekitar Mei 2027. Namun, lamanya fenomena tersebut tidak berarti Indonesia akan mengalami musim kemarau sepanjang periode itu karena pengaruh El Nino terhadap pola hujan akan melemah setelah musim hujan mulai berlangsung.

“Begitu musim hujan terjadi, pengaruh El Nino di Indonesia sudah tidak signifikan,” katanya.

BMKG mencatat dampak El Nino tidak akan dirasakan secara merata. Wilayah di selatan garis khatulistiwa diperkirakan menjadi kawasan yang paling terdampak, meliputi Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, Pulau Jawa, serta Sumatera bagian selatan. Daerah-daerah tersebut diproyeksikan mengalami musim kemarau yang lebih panjang dan lebih kering dibandingkan rata-rata tahunan.

Sebaliknya, wilayah pantai barat Sumatera dan Kalimantan bagian utara diperkirakan tidak mengalami penurunan curah hujan yang signifikan karena memiliki karakteristik pola hujan yang berbeda.

BMKG mengingatkan bahwa dampak El Nino tidak hanya berkaitan dengan cuaca, tetapi juga berpotensi memengaruhi berbagai sektor strategis. Di bidang pertanian, berkurangnya curah hujan dapat mengganggu jadwal tanam dan menurunkan produktivitas. Di sektor sumber daya air, debit sungai, waduk, dan bendungan berpotensi menyusut sehingga memengaruhi pasokan air baku maupun irigasi.

Risiko lain yang meningkat adalah kebakaran hutan dan lahan akibat kondisi vegetasi yang semakin kering. Selain itu, sektor energi, kesehatan masyarakat, perikanan, hingga aktivitas ekonomi juga berpotensi terdampak apabila kekeringan berlangsung dalam waktu lama.

Karena itu, BMKG bersama kementerian dan lembaga terkait telah melakukan berbagai langkah mitigasi sejak beberapa bulan terakhir. Salah satunya melalui operasi modifikasi cuaca untuk meningkatkan cadangan air di bendungan yang mengalami penurunan kapasitas sekaligus mendukung upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan.

Peringatan dini tersebut diharapkan menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk memperkuat langkah antisipasi, mulai dari pengelolaan sumber daya air, penyesuaian pola tanam, hingga kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran. Bagi masyarakat, informasi iklim juga menjadi acuan penting dalam mengantisipasi dampak kemarau agar gangguan terhadap aktivitas ekonomi dan kehidupan sehari-hari dapat diminimalkan. (ihd)

Berita Terkait

Wah Ada Toko Ponsel Bagikan 1.000 Paket Idul Adha untuk Ojol
Taksi Hijau Mogok di Perlintasan Diduga Picu Rangkaian Tabrakan KA di Bekasi
Operasi SAR Ditutup, Seluruh Korban Tabrakan KA di Bekasi Timur Telah Dievakuasi
THR Ojol Hanya Untuk Pengemudi yang Terdaftar Minimal 12 Bulan, Ini Skema Perhitungannya
Tiga Bibit Siklon Mengitari Indonesia, Waspada Cuaca Ekstrem Tiga Hari ke Depan
Riset RISE: Urbanisasi dan Iklim Perparah Banjir di Pontianak, Manado, Bima
Pemerintah Tetapkan Awal Puasa 19 Februari 2026 Lewat Sidang Isbat
Kemenag Salurkan Rp350 Juta dan Logistik ke Ponpes Pascatanah Bergerak

Berita Terkait

Selasa, 4 Agustus 2026 - 12:43 WIB

El Nino Berpotensi Sangat Kuat, Ancaman Kekeringan Meluas hingga 2027

Kamis, 28 Mei 2026 - 20:14 WIB

Wah Ada Toko Ponsel Bagikan 1.000 Paket Idul Adha untuk Ojol

Selasa, 28 April 2026 - 14:20 WIB

Taksi Hijau Mogok di Perlintasan Diduga Picu Rangkaian Tabrakan KA di Bekasi

Selasa, 28 April 2026 - 13:40 WIB

Operasi SAR Ditutup, Seluruh Korban Tabrakan KA di Bekasi Timur Telah Dievakuasi

Rabu, 18 Maret 2026 - 09:28 WIB

THR Ojol Hanya Untuk Pengemudi yang Terdaftar Minimal 12 Bulan, Ini Skema Perhitungannya

Berita Terbaru