Bahasa Sapaan Bukan Sekadar Etika, Akademisi UWM Ungkap Relasi Kuasa di Baliknya

Senin, 27 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dr.(Cand) Shulbi Muthi Sabila Salayan Putri, S.I.Kom., M.I.Kom., Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta

Dr.(Cand) Shulbi Muthi Sabila Salayan Putri, S.I.Kom., M.I.Kom., Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta

JENDELANUSANTARA.COM, SLEMAN – Penggunaan bahasa sapaan seperti “ketua”, “kakanda”, hingga “abangda” dalam interaksi sehari-hari dinilai tidak sekadar bentuk komunikasi biasa.

Dosen Ilmu Komunikasi UWM Yogyakarta, Shulbi Muthi Sabila Salayan Putri, menyebut praktik tersebut menyimpan makna relasi kuasa yang kerap luput disadari.

“Bahasa tidak pernah netral, selalu membawa kepentingan dan posisi sosial,” ujarnya, Kamis (23/4).

Ia menjelaskan, sapaan merupakan simbol yang dapat menunjukkan hierarki dalam hubungan sosial.

“Penggunaan sapaan bisa menjadi cara menegaskan siapa yang memiliki otoritas dan siapa yang menyesuaikan diri,” katanya.

Menurutnya, praktik ini sering berlangsung halus sehingga dianggap wajar dalam kehidupan sehari-hari.

Shulbi menambahkan, penggunaan sapaan yang berulang tanpa mempertimbangkan konteks berpotensi bergeser makna.

“Awalnya bentuk penghormatan, tetapi bisa menjadi alat mempertahankan relasi kuasa,” jelasnya.

Meski begitu, ia menegaskan tidak semua sapaan bermakna negatif karena banyak digunakan secara tulus dalam budaya Indonesia.

Dalam praktik sosial, lanjutnya, individu sering kali tidak sepenuhnya bebas memilih cara berbicara. Ada tekanan norma yang membuat seseorang mengikuti pola komunikasi tertentu.

“Ketika sapaan menjadi kebiasaan bersama, tidak menggunakannya justru dianggap menyimpang,” ujarnya.

Ia menyebut kondisi ini sebagai bentuk kontrol sosial yang bekerja secara halus.
‎Fenomena tersebut kini juga meluas ke ruang digital, termasuk media sosial.

Sapaan digunakan sebagai bagian dari pencitraan hingga strategi membangun kedekatan.

“Jika tanpa kesadaran, bahasa bisa memperkuat hierarki. Namun jika reflektif, bahasa justru dapat menciptakan komunikasi lebih setara,” pungkasnya. (andriyani)

Berita Terkait

Dorong Net Zero Emission, AHY Perkuat Pengembangan Ruang Terbuka Hijau di Infrastruktur
Kampung Mrican Sleman Disulap Jadi Kawasan Sehat dan Tertata, AHY Beri Apresiasi
UMY Respons Rencana Evaluasi Prodi, Pilih Perkuat Kurikulum dan Soft Skills Mahasiswa
Ketua DPC PPP Kota Yogyakarta Terpilih Siapkan Konsolidasi Kader dan Dominasi Generasi Muda
Kapolresta Yogyakarta Tegaskan Penanganan Kasus Daycare Daerah Umbulharjo Berjalan Cepat, Sejumlah Tersangka Ditahan
Hasto Wardoyo Pastikan Pemerintah Kota Yogyakarta Kawal Korban Kasus Daycare, Siapkan Pendampingan hingga Audit Layanan TPA
Akademisi UGM Dorong Penguatan Integritas dan Mitigasi Korupsi dalam Pemerintahan Kalurahan
Muscab VI PAN Yogyakarta Fokus Penguatan Kader dan Struktur Partai

Berita Terkait

Senin, 27 April 2026 - 23:09 WIB

Dorong Net Zero Emission, AHY Perkuat Pengembangan Ruang Terbuka Hijau di Infrastruktur

Senin, 27 April 2026 - 23:00 WIB

Kampung Mrican Sleman Disulap Jadi Kawasan Sehat dan Tertata, AHY Beri Apresiasi

Senin, 27 April 2026 - 22:52 WIB

UMY Respons Rencana Evaluasi Prodi, Pilih Perkuat Kurikulum dan Soft Skills Mahasiswa

Senin, 27 April 2026 - 21:02 WIB

Ketua DPC PPP Kota Yogyakarta Terpilih Siapkan Konsolidasi Kader dan Dominasi Generasi Muda

Senin, 27 April 2026 - 20:54 WIB

Kapolresta Yogyakarta Tegaskan Penanganan Kasus Daycare Daerah Umbulharjo Berjalan Cepat, Sejumlah Tersangka Ditahan

Berita Terbaru