Tradisi Seba Baduy 2026, Perjalanan Panjang, Amanat Alam, dan Jejak Sejarah

Minggu, 26 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JENDELANUSANTARA.COM, Banten — Perjalanan panjang ditempuh masyarakat adat Baduy dalam mengikuti tradisi tahunan Seba Baduy 2026. Sejumlah warga Baduy Dalam berangkat dari kampung halaman sejak pukul 02.00 WIB dini hari dan tiba di Kota Serang, tepatnya di Gedung Negara Gubernur Banten, sekitar pukul 11.35 WIB setelah menempuh perjalanan dengan berjalan kaki.

Saat ditanya wartawan mengenai bekal perjalanan, salah satu perwakilan menyampaikan bahwa mereka tidak membawa makanan. “Teu nyandak nanaon, wungkul cai bodas pikeun ngaleupas haus. Tapi di jalan seueur jalema anu masihan cai jeung pituangeun,” ujarnya. Artinya, mereka hanya membawa air putih sebagai pelepas dahaga. Namun, sepanjang perjalanan, banyak masyarakat yang menunjukkan kepedulian dengan memberikan makanan dan minuman.

“Di jalan banyak yang memberi makan dan minum,” ujar anak kedua Jaro Baduy Dalam saat ditemui wartawan.

Ia juga menjelaskan bahwa jumlah peserta Seba Baduy tahun ini tidak sebanyak tahun sebelumnya. “Tahun ieu mah Seba Baduy leutik, teu siga tahun kamari,” ungkapnya, merujuk pada pelaksanaan dalam skala lebih kecil.

Diketahui, jumlah warga Baduy Dalam yang mengikuti Seba tahun ini sebanyak 36 orang, sementara sebagian besar peserta berasal dari Baduy Luar. Ketika ditanya mengenai ketidakhadiran Jaro Baduy Dalam, ia menyebut kemungkinan akan ikut pada Seba Baduy besar berikutnya.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, warga Baduy Dalam juga tidak membawa madu sebagai hasil bumi. “Biasana bawa, tapi ayeuna henteu, sabab beurat,” katanya.

Meski Pemerintah Provinsi Banten menyediakan konsumsi berupa nasi kotak dan aneka makanan ringan, warga Baduy Dalam mengaku tidak mengonsumsinya karena sudah merasa kenyang dari pemberian masyarakat selama perjalanan. Dari berbagai makanan yang tersedia, hanya lemper atau ketan yang sempat dicicipi.

Seba Baduy merupakan tradisi tahunan masyarakat adat Baduy sebagai bentuk penyerahan hasil bumi kepada pemerintah. Dalam pelaksanaannya, Baduy Dalam menyerahkan hasil bumi melalui perwakilan Baduy Luar kepada gubernur sebagai simbol “Bapak Gede”. Baduy Luar juga turut membawa hasil bumi mereka.

Untuk transportasi, warga Baduy Luar menggunakan bus yang difasilitasi pemerintah melalui kerja sama dengan Perum Damri dan Bank Indonesia. Berbagai fasilitas pendukung lainnya juga disediakan oleh Pemerintah Provinsi Banten.

Pada pelaksanaan tahun ini, Gubernur Banten, Andra Soni, menerima amanat pelestarian alam dari 1.552 masyarakat adat Baduy dalam prosesi yang berlangsung di Gedung Negara Provinsi Banten, Sabtu (25/4/2026) malam. Amanat tersebut disampaikan melalui Jaro Pamarentah.

“Tadi disampaikan tentang permasalahan lingkungan di wilayah Kanekes. Amanah yang mereka pegang turun-temurun adalah ‘gunung ulah dilebur, lebak ulah dirusak’,” ujar Andra Soni.

Pemerintah Provinsi Banten, lanjutnya, akan terus membangun komunikasi dengan masyarakat adat Baduy, tidak hanya dalam momentum Seba, tetapi juga melalui koordinasi berkelanjutan. Ia juga mengapresiasi konsistensi masyarakat Baduy dalam menjaga tradisi dan kelestarian alam.

Sementara itu, Kepala Desa Kanekes sekaligus Jaro Pamarentah, Jaro Oom, menegaskan bahwa Seba Baduy merupakan bagian dari rangkaian adat pasca panen dan prosesi Ngalaksa. Tradisi ini menjadi sarana penyampaian amanat leluhur kepada pemerintah.

“Kami melaksanakan tradisi ini karena bagi kami menjaga amanah adalah hal utama,” tegasnya.

Amanat tersebut mencakup kewajiban menjaga kelestarian sejumlah wilayah, seperti Sanghyang Sirah, Gunung Honje, hingga kawasan lain di Banten dan Jawa Barat. Ritual pelestarian alam pun akan terus dilakukan sebagai bentuk komitmen menjaga keseimbangan lingkungan.

Sejarah Singkat Masyarakat Baduy

Masyarakat adat Baduy yang bermukim di wilayah Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten, dikenal sebagai salah satu komunitas adat tertua di Indonesia. Mereka diyakini telah ada jauh sebelum terbentuknya sistem pemerintahan modern.

Baduy terbagi menjadi dua kelompok, yakni Baduy Dalam dan Baduy Luar. Baduy Dalam dikenal sangat ketat menjaga adat istiadat, termasuk menolak penggunaan teknologi modern dan mempertahankan pola hidup sederhana.

Dalam sejarahnya, masyarakat Baduy juga memiliki hubungan unik dengan pemerintah. Pada masa Presiden Soekarno, masyarakat Baduy sangat dihormati, bahkan pernah diundang ke Istana Negara.

Terdapat kisah menarik ketika rombongan Baduy memenuhi undangan tersebut. Meski Presiden Soekarno menggunakan kendaraan, rombongan Baduy Dalam yang berjalan kaki justru disebut lebih dahulu tiba di Istana. Kisah ini menjadi simbol ketangguhan dan kedisiplinan mereka dalam menjalani kehidupan sesuai adat.

Hingga kini, masyarakat Baduy tetap teguh memegang prinsip hidup selaras dengan alam, sebagaimana amanat leluhur, menjaga gunung, hutan, dan sungai demi keberlangsungan kehidupan.

(Yuyi Rohmatunisa)

Berita Terkait

Wagub Banten Dukung Program MBG, Tekankan Kolaborasi dan Pemetaan Potensi Daerah
Program Bedah Rumah di Serang, Kolaborasi Polda Banten dan PT Indah Kiat Bantu Warga
Wagub Banten Soroti Potensi Pelabuhan dan Penyeberangan untuk Dongkrak Ekonomi Cilegon
TP PKK Banten Gelar Edukasi Stunting, Pelatihan Tata Boga, dan Pencegahan TBC di Serang
Lapas Kelas IIA Serang Peringati Hari Bakti Pemasyarakatan dengan Tasyakuran dan Bantuan UMKM
RPM Kabupaten Pandeglang Tingkatkan Pengawasan, Puluhan Pelajar Bolos Terjaring Razia
Bupati Dewi Setiani Pimpin Upacara Hari Otda ke-XXX, Soroti Pentingnya Kolaborasi Pembangunan
Sebanyak 28 CPNS Resmi Diangkat Jadi PNS, Bupati Dewi Tekankan Integritas dan Disiplin

Berita Terkait

Selasa, 28 April 2026 - 15:43 WIB

Wagub Banten Dukung Program MBG, Tekankan Kolaborasi dan Pemetaan Potensi Daerah

Selasa, 28 April 2026 - 13:31 WIB

Program Bedah Rumah di Serang, Kolaborasi Polda Banten dan PT Indah Kiat Bantu Warga

Selasa, 28 April 2026 - 12:05 WIB

Wagub Banten Soroti Potensi Pelabuhan dan Penyeberangan untuk Dongkrak Ekonomi Cilegon

Senin, 27 April 2026 - 22:32 WIB

TP PKK Banten Gelar Edukasi Stunting, Pelatihan Tata Boga, dan Pencegahan TBC di Serang

Senin, 27 April 2026 - 21:38 WIB

Lapas Kelas IIA Serang Peringati Hari Bakti Pemasyarakatan dengan Tasyakuran dan Bantuan UMKM

Berita Terbaru