Tetap Sehat Setelah Lebaran, Saat Nikmat Berubah Jadi Risiko

Minggu, 22 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi - Tetap sehat setelah Lebaran (Dibuat dengan AI)

Ilustrasi - Tetap sehat setelah Lebaran (Dibuat dengan AI)

JENDELANUSANTARA.COM, Jakarta – Oleh banyak orang, bulan Ramadan selalu ditutup dengan euforia kemenangan. Meja makan dipenuhi hidangan khas Lebaran —opor, rendang, ketupat, hingga aneka kue manis— yang seolah menjadi “balas dendam” setelah sebulan berpuasa. Namun, di balik suasana hangat itu, tubuh sering kali harus membayar harga yang tidak kecil.

Sejak awal Ramadan, berbagai nasihat kesehatan sebenarnya telah berulang digaungkan: sahur dengan gizi seimbang, cukup minum air, tetap aktif bergerak, serta menjaga pola tidur. Semua itu bertujuan agar tubuh tetap bugar selama puasa. Ironisnya, disiplin yang terbangun selama sebulan kerap runtuh hanya dalam hitungan hari setelah Lebaran.

Alih-alih puasa yang disalahkan, lonjakan kasus gangguan kesehatan justru lebih sering dipicu oleh pola makan yang berlebihan dan tidak terkontrol saat hari raya.

Dari Meja Makan ke Meja Periksa

Fenomena “jatuh sakit setelah Lebaran” bukan hal baru. Sejumlah keluhan kesehatan yang sering muncul antara lain gangguan pencernaan seperti diare, maag, hingga radang tenggorokan. Makanan berlemak, pedas, dan kurang higienis menjadi pemicu utama.

Selain itu, konsumsi tinggi garam dan lemak dapat memicu hipertensi, sementara makanan tinggi purin —seperti daging merah dan jeroan— berisiko meningkatkan kadar asam urat. Tidak kalah mengkhawatirkan, hidangan manis khas Lebaran juga berpotensi menaikkan kadar gula darah dan kolesterol.

Di sisi lain, kelelahan akibat aktivitas silaturahmi serta perubahan pola tidur dapat menurunkan daya tahan tubuh, sehingga flu dan batuk lebih mudah menyerang.

Semua ini menunjukkan satu hal: masalahnya bukan pada tradisi Lebaran, melainkan pada cara kita menjalaninya.

Mengembalikan Kendali Tubuh

Kabar baiknya, tubuh memiliki kemampuan untuk pulih—asal diberi kesempatan. Meski sudah telanjur makan berlebihan pada hari-hari awal Lebaran, masih ada ruang untuk memperbaiki keadaan.

Langkah pertama yang paling sederhana adalah memperbanyak konsumsi air putih. Hidrasi yang cukup membantu tubuh mengembalikan keseimbangan cairan sekaligus mendukung proses metabolisme.

Selanjutnya, perbanyak asupan buah dan sayur. Kandungan serat dan antioksidan di dalamnya berperan penting dalam memperbaiki sistem pencernaan yang “kaget” akibat pola makan tinggi lemak dan gula.

Mengonsumsi probiotik, seperti yogurt, juga dapat membantu menyeimbangkan kembali bakteri baik dalam usus. Sementara itu, aktivitas fisik ringan —seperti berjalan santai— cukup efektif untuk mengaktifkan kembali metabolisme tanpa membebani tubuh.

Tidak kalah penting adalah tidur yang cukup. Di tengah padatnya agenda silaturahmi, kualitas istirahat sering terabaikan, padahal inilah kunci utama pemulihan tubuh.

Untuk sementara, ada baiknya menghindari makanan berat dan berlemak. Pilih makanan yang lebih ringan dan mudah dicerna. Teh herbal seperti jahe atau peppermint dapat menjadi pilihan untuk meredakan gangguan pencernaan.

Menikmati Tanpa Berlebihan

Lebaran sejatinya adalah momentum kebersamaan, bukan ajang konsumsi tanpa batas. Menjaga kesehatan bukan berarti menolak hidangan khas, melainkan mengatur porsi dan frekuensi secara bijak.

Jika gejala seperti nyeri perut, pusing, atau kelelahan tidak kunjung membaik, konsultasi dengan tenaga medis menjadi langkah yang tidak boleh ditunda.

Pada akhirnya, tubuh kita bukan sekadar “penikmat” Lebaran, tetapi juga penentu apakah momen kemenangan itu benar-benar membawa kebahagiaan, atau justru meninggalkan masalah kesehatan yang berkepanjangan. (ihd)

Berita Terkait

RSCM – IMERI FKUI Tekankan Akses Terapi dan Skrining Penyakit Langka di Indonesia
Tak Minum Sepanjang Hari, Ginjal Tetap Sehat Saat Puasa
RSCM Kencana Raih Penghargaan di Forum Ophthalmologi Asia-Pasifik
RSCM Tegaskan Prinsip ‘Patient First’: Pelayanan Tetap Dibuka Meski BPJS PBI Nonaktif
RSCM Tetap Layani BPJS PBI Nonaktif: Keselamatan Pasien di Atas Administrasi
RSCM Perkuat Reputasi sebagai Rumah Sakit Rujukan Nasional dan Layanan Modern
RSCM Perluas Layanan Medis: Gamma Knife Tanpa Bedah, Fasilitas VIP dan Penguatan Layanan Ibu & Anak
RSCM Luncurkan Wisata Medis, Bidik Devisa Rp20 Triliun Kembali ke Dalam Negeri

Berita Terkait

Minggu, 22 Maret 2026 - 13:46 WIB

Tetap Sehat Setelah Lebaran, Saat Nikmat Berubah Jadi Risiko

Kamis, 5 Maret 2026 - 17:36 WIB

RSCM – IMERI FKUI Tekankan Akses Terapi dan Skrining Penyakit Langka di Indonesia

Sabtu, 28 Februari 2026 - 16:52 WIB

Tak Minum Sepanjang Hari, Ginjal Tetap Sehat Saat Puasa

Rabu, 25 Februari 2026 - 10:18 WIB

RSCM Kencana Raih Penghargaan di Forum Ophthalmologi Asia-Pasifik

Jumat, 20 Februari 2026 - 23:54 WIB

RSCM Tegaskan Prinsip ‘Patient First’: Pelayanan Tetap Dibuka Meski BPJS PBI Nonaktif

Berita Terbaru

Ilustrasi - Tetap sehat setelah Lebaran (Dibuat dengan AI)

Kesehatan

Tetap Sehat Setelah Lebaran, Saat Nikmat Berubah Jadi Risiko

Minggu, 22 Mar 2026 - 13:46 WIB

Yogyakarta

Tradisi Turun-Temurun, Garebeg Ketupat Bantul Tetap Lestari

Minggu, 22 Mar 2026 - 10:36 WIB

Palembang

Salat Idul Fitri 2026: Pesan Persatuan dari Gubernur Sumsel

Sabtu, 21 Mar 2026 - 20:03 WIB