JENDELANUSANTARA.COM, London – Jadon Sancho mengemas sepatunya. Musim panas ini, ia akan kembali ke Manchester United, klub induknya, setelah satu musim yang cukup bersinar di London Barat. Kepastian ini datang bukan karena ia gagal meyakinkan Chelsea, melainkan karena uang—lebih tepatnya, pemangkasan gaji yang tak tercapai kesepakatannya.
Sancho mengumumkan perpisahan itu dengan tenang. “Terima kasih atas pengalaman yang luar biasa… Saya benar-benar bersyukur,” tulisnya melalui akun media sosial X, Selasa (4/6/2025) malam waktu setempat. Kalimat itu ditujukan untuk rekan setim, staf, dan para pendukung The Blues. Seperti relasi yang tak jadi pernikahan, kata-katanya terdengar tulus, tapi juga menyimpan getar kehilangan.
Chelsea, yang musim ini tengah membangun ulang fondasi tim di bawah rezim Todd Boehly dan Clearlake Capital, sebenarnya telah memegang opsi pembelian tetap atas Sancho. Harga yang disepakati, 25 juta poundsterling, terbilang murah untuk pemain sekelas Sancho yang sempat dinilai 73 juta poundsterling saat diboyong MU dari Dortmund pada 2021.
Namun, semuanya mentok pada persoalan gaji. ESPN melaporkan, Chelsea meminta sang winger berusia 25 tahun itu memangkas upahnya secara drastis dari lebih 300 ribu poundsterling per pekan (sekitar Rp6 miliar). Sancho bergeming. Maka, kesepakatan pun runtuh. Sebagai gantinya, Chelsea harus membayar penalti sebesar 5 juta poundsterling kepada MU karena tak memenuhi klausul pembelian permanen.
Padahal, secara performa, Sancho bukan pembelian gagal. Di bawah pelatih Enzo Maresca, ia tampil 41 kali di semua ajang, mencetak lima gol dan menyumbang 10 assist. Momen puncaknya terjadi di Athena, ketika tendangan kaki kirinya memperlebar keunggulan Chelsea atas Real Betis di final Liga Konferensi Eropa. Gol ketiga itu memastikan kemenangan 4-1 dan memberikan Chelsea trofi perdana di era kepemilikan baru.
Kini, Sancho terkatung-katung. Ia masih terikat kontrak dengan MU hingga Juni 2026, namun belum jelas apakah ia akan kembali mengenakan seragam merah itu. Relasinya dengan manajer Erik ten Hag diketahui memburuk sejak tahun lalu, yang membuatnya terpinggirkan dari skuad utama.
Ia juga tak dijadwalkan tampil bersama Chelsea dalam tur pramusim ke Amerika Serikat. Dengan status gantung dan citra yang mulai pulih, Sancho seolah berada di ruang tunggu yang panjang. Di luar lapangan, ia mungkin tengah berpikir: di mana sebenarnya ia bisa benar-benar merasa di rumah? (ihd)














