Prabowo dan Megawati Akhirnya Bertemu di Hari Lahir Pancasila

Senin, 2 Juni 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JENDELANUSANTARA.COM, Jakarta — Upacara peringatan Hari Lahir Pancasila, Senin (1/6/2025), di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jakarta, menjadi saksi momen langka: Presiden Prabowo Subianto dan Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri, yang juga Ketua Dewan Pengarah BPIP, akhirnya bertemu kembali setelah kerenggangan politik sejak Pemilu 2024.

Dalam ruang tunggu sebelum upacara dimulai, dua tokoh sentral dalam panggung kekuasaan nasional itu tampak berbincang ringan. Tak ada ketegangan. Ketua MPR RI Ahmad Muzani, yang berada di lokasi, menyebut suasana berlangsung “penuh kekeluargaan dan saling bercanda”. “Mereka terlihat akrab. Bahkan sempat berbisik-bisik. Saya tidak tahu apa yang dibicarakan, tapi jelas suasananya hangat,” ujar Muzani kepada wartawan.

Pertemuan itu menjadi sorotan karena sejak kontestasi pilpres Februari lalu, Megawati dan Prabowo belum pernah tampak dalam satu panggung yang sama. Relasi keduanya sempat membeku. PDI Perjuangan—partai yang diketuai Megawati—memilih berada di luar pemerintahan dan menolak bergabung dengan koalisi besar pendukung Prabowo-Gibran. Sebaliknya, Prabowo—yang dulu dua kali maju sebagai penantang Jokowi yang didukung PDIP—kini menjadi pemimpin negara yang sah dan diapit partai-partai rival PDIP.

Namun momentum Hari Lahir Pancasila seperti menjadi panggung simbolik. Dalam siaran langsung Sekretariat Presiden, tampak Megawati berjalan diapit Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menuju lokasi upacara. Ketiganya keluar dari ruangan yang sama dan berbaris di posisi depan. Prabowo, mengenakan jas abu-abu dan peci hitam, berdiri di barisan depan sebagai inspektur upacara. Di belakangnya, Megawati mengenakan kemeja putih berlambang BPIP di lengan kiri. Gibran berada paling belakang dalam formasi tersebut.

Tidak ada pernyataan langsung dari Megawati maupun Prabowo tentang isi pertemuan itu. Namun banyak kalangan politik membaca peristiwa ini sebagai sinyal rekonsiliasi. “Setelah pemilu usai, ini saatnya bersatu. Apalagi dalam momen yang sangat simbolik seperti Hari Lahir Pancasila,” ujar pengamat politik LIPI, Siti Zuhro, ketika dihubungi.

Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila tahun ini juga menjadi yang pertama di mana Prabowo memimpin sebagai presiden. Dalam amanatnya, ia menekankan pentingnya menjadikan Pancasila sebagai dasar dalam menghadapi tantangan global. Di hadapan para pejabat negara, menteri kabinet, serta undangan dari kalangan organisasi masyarakat dan tokoh agama, Prabowo menyebut Pancasila sebagai “pemersatu bangsa”.

Pemerhati komunikasi politik dari Universitas Padjadjaran, Kunto Adi Wibowo, menilai kehadiran Megawati di sisi Prabowo dapat dimaknai sebagai bentuk penghormatan simbolik dari dua kutub kekuasaan yang sebelumnya berseberangan. “Apakah ini akan berujung pada rekonsiliasi politik, itu masih perlu waktu. Tapi pertemuan ini bisa menjadi batu pijakan,” katanya.

Sejauh ini, PDI Perjuangan belum menyatakan akan bergabung dalam kabinet Prabowo-Gibran. Namun sejumlah elite PDIP, seperti Puan Maharani, mulai menunjukkan sinyal melunak. Dalam beberapa kesempatan, Puan menyatakan siap mendukung pemerintahan bila sejalan dengan ideologi dan visi kebangsaan.

Pertemuan Prabowo-Megawati kali ini, jika dirawat dengan komunikasi berkelanjutan, berpotensi mengurai kebekuan yang selama ini membayangi hubungan antar partai besar. Apalagi, keduanya punya sejarah panjang sejak era reformasi. Pada 2004, Megawati mencalonkan diri sebagai presiden, bersaing dengan Susilo Bambang Yudhoyono. Prabowo, yang saat itu masih pendatang baru di politik, menjadi calon wakil presiden mendampingi Megawati. Mereka kalah.

Dua dekade kemudian, dalam situasi berbeda, mereka kembali bersua. Kali ini, di bawah payung Pancasila. (ihd)

Berita Terkait

Pendataan Jadi Kunci, Mendagri Tegaskan Bantuan Bergantung pada Klasifikasi Kerusakan
Kolaborasi Pemerintah Percepat Pembangunan Huntap, 120 Unit Disalurkan di Tapanuli Selatan
Bimtek Tata Kelola RS di Papua, Wamendagri Ribka Haluk Pastikan Dukungan Pusat
Pembangunan Huntap Pascabencana Dipercepat, Mendagri Soroti Skema In-Situ dan Komunal
Mendagri Pastikan Implementasi Program BSPS Berjalan Optimal di Kabupaten Humbahas
Menag: Nilai Ramadan Harus Menjadi Karakter, Bukan Sekadar Ritual Musiman
Anggaran Rp10,6 Triliun Didorong untuk Kolaborasi Pemda Tangani Dampak Bencana di Sumatera
Pemulihan Pascabencana, Satgas PRR Fokus Tangani Infrastruktur Sungai di Sumatera

Berita Terkait

Jumat, 27 Maret 2026 - 20:53 WIB

Pendataan Jadi Kunci, Mendagri Tegaskan Bantuan Bergantung pada Klasifikasi Kerusakan

Jumat, 27 Maret 2026 - 20:29 WIB

Kolaborasi Pemerintah Percepat Pembangunan Huntap, 120 Unit Disalurkan di Tapanuli Selatan

Jumat, 27 Maret 2026 - 13:41 WIB

Bimtek Tata Kelola RS di Papua, Wamendagri Ribka Haluk Pastikan Dukungan Pusat

Jumat, 27 Maret 2026 - 09:17 WIB

Pembangunan Huntap Pascabencana Dipercepat, Mendagri Soroti Skema In-Situ dan Komunal

Kamis, 26 Maret 2026 - 19:35 WIB

Mendagri Pastikan Implementasi Program BSPS Berjalan Optimal di Kabupaten Humbahas

Berita Terbaru