JENDELANUSANTARA.COM, Jakarta — Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa masjid tidak semestinya dipahami semata sebagai ruang ibadah ritual. Lebih dari itu, masjid memiliki peran strategis sebagai pusat pemberdayaan umat, penguatan nilai-nilai kemanusiaan, sekaligus ruang perjumpaan lintas lapisan masyarakat.
Penegasan tersebut disampaikan Nasaruddin Umar saat memberikan sambutan pada acara Amaliah Astra Awards 2025 yang diselenggarakan Yayasan Amaliah Astra (YAA) di Astra Tower, Jakarta, Rabu (14/1/2025).
Menurut Menag, sejarah menunjukkan bahwa sejak masa Rasulullah SAW, Masjid Nabawi telah berfungsi sebagai pusat kehidupan masyarakat. Sekitar 20 persen aktivitasnya digunakan untuk ibadah ritual, sementara selebihnya dimanfaatkan untuk kepentingan sosial, pendidikan, hingga tata kelola pemerintahan.
“Masjid adalah meeting point antara hamba dengan Tuhannya. Persoalan hidup yang berat sekalipun, bila diselesaikan di tempat yang sakral, akan terasa lebih ringan,” ujar Nasaruddin.
Ia menambahkan, Masjid Nabawi pada masanya juga berperan sebagai sekretariat negara, pengadilan, lembaga pendidikan formal dan nonformal, balai pelatihan keterampilan, pusat informasi perdagangan, hingga ruang dialog lintas agama. Fungsi tersebut, menurut Menag, menegaskan masjid sebagai simbol kemanusiaan yang inklusif.
“Masjid bukan hanya rumah umat Islam, tetapi rumah kemanusiaan. Karena itu, ke depan kita tidak hanya mengurus masjid, melainkan juga rumah-rumah ibadah lain dengan tujuan yang sama, yakni membebaskan kemiskinan dan memberdayakan umat,” katanya.
Dalam konteks pengelolaan keagamaan, Menag juga mendorong optimalisasi zakat dan wakaf yang telah difasilitasi negara agar tidak berhenti pada pola konsumtif. Dana umat, menurutnya, perlu dikelola secara produktif sehingga mampu memberikan dampak sosial yang berkelanjutan.
Amaliah Astra Awards merupakan ajang penghargaan tahunan bagi pengelolaan masjid dan musala terbaik, baik di lingkungan PT Astra International Tbk maupun masyarakat umum. Tahun ini, penghargaan tersebut memasuki penyelenggaraan kelima dan mencatat peningkatan partisipasi yang signifikan.
Ketua Pengurus Yayasan Astra, Boy Kelana Soebroto, mengungkapkan bahwa Amaliah Astra Awards 2025 diikuti 537 masjid, meningkat sekitar 19 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan ini dinilai mencerminkan tumbuhnya kesadaran pengelola masjid untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi jamaah dan masyarakat sekitar.
Sementara itu, Ketua Pembina Yayasan Astra, Gita Tiffany Boer, menekankan bahwa pembinaan masjid di lingkungan Astra diarahkan agar masjid tidak hanya makmur secara fisik, tetapi juga menjadi sumber inspirasi, ketenangan, dan keseimbangan spiritual di tengah dinamika kehidupan modern.
Selama lima tahun penyelenggaraannya—termasuk saat pandemi Covid-19 melalui format daring—Amaliah Astra Awards dinilai menjadi praktik baik kolaborasi dunia usaha dalam memperkuat peran masjid sebagai pusat pembinaan umat yang inklusif dan berorientasi masa depan. (ihd)













