JENDELANUSANTARA.COM, Chicago — Di bawah terik musim panas yang menyelimuti fasilitas latihan Chicago Fire, Ruben Amorim memimpin sesi latihan Manchester United dengan semangat baru. Jauh dari sorotan Old Trafford, pelatih asal Portugal itu membangun ulang sebuah tim yang ingin keluar dari titik nadir.
Musim 2024/2025 menjadi catatan kelam bagi Manchester United. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari 50 tahun, mereka finis di peringkat ke-15 klasemen akhir Liga Inggris, posisi terburuk sejak degradasi ke Divisi Dua pada 1974. “Ini Manchester United, kami harus kembali ke Eropa,” kata Amorim di Endeavor Health Performance Center, markas latihan pramusim United di Amerika Serikat.
Pernyataan itu mencerminkan tekad, sekaligus kesadaran akan jauhnya jurang antara kejayaan masa lalu dan kenyataan kini.
Dimulai dari Budaya
Lebih dari sekadar belanja pemain, Amorim menekankan pentingnya perubahan budaya di tubuh klub. Ia mendatangkan dua penyerang baru, Bryan Mbeumo dan Matheus Cunha, dengan total biaya 128,5 juta pound sterling. Namun, menurut Amorim, transformasi utama justru berlangsung dari dalam.
“Semua orang sekarang tahu tugasnya. Ini soal organisasi, soal cara kami bersikap di lapangan maupun di luar lapangan,” ujarnya. Amorim menyebut penguatan disiplin harian—dari jadwal makan hingga peran staf medis—sebagai dasar membangun kembali kekompakan tim.
Dalam misi ini, Amorim mendapat dukungan penuh dari CEO baru Omar Berrada dan direktur sepak bola Jason Wilcox. “Jika manajer tidak menginginkannya, maka semua ini tidak mungkin terjadi. Tapi ini lebih besar dari saya. Seluruh klub harus bergerak ke arah yang sama,” kata dia.
Jadi Pelajaran
Meski tampil percaya diri, Amorim tak menampik luka mendalam yang ditinggalkan musim lalu. Ia mengakui bahwa beban psikologis menjadi tantangan tersendiri. “Bagian tersulit bukan ketika pulang setelah kalah, tetapi ketika berangkat ke stadion dan tahu kami akan kesulitan,” tuturnya.
Ia merasa mengecewakan banyak orang, mulai dari staf hingga pendukung. Namun pengalaman pahit itu menjadi titik balik. “Sekarang saya lebih tenang, lebih bersemangat. Saya belajar untuk tidak terlalu romantis. Kami akan menjadi tim yang lebih baik, dan saya juga akan menjadi manajer yang lebih baik,” ujar Amorim.
Dalam keheningan kamp latihan di Chicago, harapan baru mulai dirangkai. Manchester United belum sepenuhnya pulih, namun fondasi untuk bangkit kembali sedang disusun—dengan kerja senyap, dan tekad yang menyala. (ihd)













