Padahal, ia hanya penumpang biasa. Atau lebih tepatnya, bukan siapa-siapa.
Boarding pass resmi di tangannya menjadi kunci. Ia melewati pemeriksaan awal tanpa hambatan. Duduk di kabin, berbaur dengan penumpang lain. Drama baru terasa ketika pesawat mengudara. Sejumlah pramugari Batik Air mulai menangkap kejanggalan. Nisya terlalu kaku saat diajak berbincang soal prosedur. Jawabannya meleset dari standar. Senyum profesional para awak kabin berubah menjadi tatapan saling bertanya.
Kecurigaan itu menemukan pembenaran setelah pesawat mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Detail kecil yang luput dari mata awam justru mencolok bagi kru berpengalaman: corak rok Nisya berbeda dari seragam resmi Batik Air. Aviation Security bergerak. Nisya diamankan, dibawa ke ruang pemeriksaan. Kisah penyamaran itu berhenti di landasan.
Awalnya, publik melihatnya sebagai penipu. Foto-foto Nisya berseragam pramugari beredar luas di media sosial. Warganet bereaksi cepat: heran, geram, sekaligus khawatir. Bagaimana mungkin penyamaran sedetail itu bisa lolos hingga ikut terbang? Seberapa rapuh sistem keamanan penerbangan kita?
Namun cerita itu ternyata belum selesai.
Polresta Bandara Soekarno-Hatta menemukan fakta yang mengubah sudut pandang. Nisya – bernama lengkap Khairun Nisa – bukan pramugari gadungan yang lihai, melainkan korban penipuan. Ia datang ke Jakarta dengan izin orang tua untuk mendaftar sebagai pramugari. Di kota ini, ia bertemu seseorang yang menjanjikan jalan pintas masuk maskapai. Syaratnya sederhana: uang Rp30 juta.
Uang itu diserahkan. Janji menguap. Orang yang menjual masa depan di udara menghilang tanpa jejak.
Di titik inilah rasa malu mengambil alih. Nisya tak sanggup pulang membawa kegagalan. Ia memilih berbohong. Kepada keluarga, ia mengaku sudah diterima bekerja. Media sosial dijadikan panggung pembuktian: foto berseragam, pose pramugari, senyum penuh kemenangan palsu. Kebohongan itu terus dipelihara – hingga akhirnya ia benar-benar naik pesawat, bukan sebagai awak kabin, melainkan sebagai penumpang yang berdandan seperti kru.
Kasus Nisya menyingkap sisi gelap di balik mimpi bekerja di industri penerbangan. Di balik seragam rapi dan citra prestisius, beroperasi calo-calo rekrutmen yang menjual harapan instan. Polisi menegaskan, proses seleksi pramugari dilakukan secara resmi dan tanpa pungutan biaya. Jalan pintas, seperti yang ditempuh Nisya, hampir selalu berujung buntu.
Kini, sorotan tak lagi semata pada penyamarannya, melainkan pada sistem yang memungkinkan penipuan semacam ini terus berulang. Nisya memang salah melangkah. Tapi kisahnya adalah potret tentang tekanan keluarga, ambisi sosial, dan impian yang dipelintir oleh janji palsu.
Di udara, semuanya tampak rapi dan terkendali. Di darat, kisah Nisya membuktikan sebaliknya: di balik senyum pramugari, bisa tersembunyi cerita getir tentang mimpi yang jatuh sebelum sempat benar-benar terbang. (ihd)













